
Secara perlahan Bu Ratih menggeser posisi duduknya, Terus menundukkan wajah karena tidak ingin, orang di masa lalunya mengenali siapa dirinya.
Tuan Rahadi yang masih sibuk melepas rindu dengan Dery, tidak juga menyadari keberadaan ibu Rendy di samping menantunya.
Bu Ratih yang sudah bangkit dari duduk dan akan beranjak masuk keruangan Rendy, dicekal oleh Dery yang menggenggam tangannya erat.
"ibu...." panggil Dery lirih.
"apa ibu tidak ingin berkenalan dengan ayah mertua ku?" tanyanya dengan senyum mengembang.
Sedangkan Bu Ratih belum juga bergeming, masih terus menundukkan wajahnya tanpa mau mau membalikkan badan menghadap Dery dan Tuan Rahadi.
"nyonya..." tuan Rahadi bangkit dari duduknya, "perkenalkan saya Rahadi," Pria paruh baya itu mengulurkan tangan dengan sopan.
"ibu, kenapa diam saja?" Dery menarik-narik baju Bu Ratih yang masih saja membelakangi dirinya dan sang ayah mertua.
"nyonya..?" Tuan Rahadi kini sudah berdiri didepan Bu Ratih, "terima kasih karena sudah meno...." kalimat tuan Rahadi terhenti saat melihat wajah wanita dihadapannya ini.
"Ra...Ratih...kau kah itu?" Wajah tuan Rahadi nampak sangat terkejut.
Perlahan Bu Ratih mengangkat wajahnya, menatap tuan Rahadi dengan perasaan takut dan rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya.
"Tu...Tuan..." lirih Bu Ratih.
Tuan Rahadi yang tadinya sangat terkejut, terlihat menghela nafas lega melihat orang yang selama ini ia cari.
"kemana saja kau selama ini Ratih, aku sudah mencari mu bertahun-tahun tapi tidak ada hasil sedikit pun,"
"Ma...maaf tuan maafkan aku," ucap Bu Ratih lirih, kini dia terduduk tepat di samping Dery, air matanya mulai mengalir deras, membuat semua orang yang ada di sana kebingungan.
"jelaskan pada ku apa yang sebenarnya terjadi hingga kau dan juga seluruh keluarga mu menghilang tanpa jejak, Ratih?" Tuan Rahadi masih berdiri didepan Bu Ratih menatap penuh kekecewaan pada wanita yang tengah menangis disamping menantunya.
"ibu, ada apa Bu, kenapa menangis.." Dery memeluk Bu Ratih erat, sambil menatap penuh tanya pada sang ayah mertua.
"ayah ada apa ini, apa ayah mengenal ibu Ratih?" tanya Rizal yang juga tak kalah bingungnya.
"Ratih ini orang kepercayaan ibu mu nak, dia juga yang membantu ibu mu merawat diri mu saat masih bayi, tapi setelah kecelakaan yang menimpa ibu mu, dia juga ikut menghilang saat itu juga," jelas Tuan Rahadi dengan mata berkaca-kaca.
Bruk...
Bu Ratih duduk bersimpuh di kaki Tuan Rahadi, isakannya semakin keras terdengar.
__ADS_1
"ma..maafkan aku tuan, aku bisa menjelaskan semuanya," Bu Ratih menakupkan kedua tangannya didepan dada, dengan wajah terus menunduk.
"Bu Ratih, berhentilah menangis dan katakan semuanya pada kami," ucap Rizal yang kini sudah duduk mensejajari wanita paruh baya ini.
Begitu banyak pertanyaan yang ada dibenaknya, dan rasa penasaran yang besar dalam hatinya.
Flashback...
Sore itu, Bu Ratih sedang menemani Rizal kecil yang baru mulai belajar berjalan ditaman belakang mansion utama Tuan Rahadi.
Tanpa sengaja di mendengar kegaduhan dari gudang belakang mansion utama milik keluarga Rahadi.
Karena rasa penasaran yang besar, akhirnya Bu Ratih mengendap-endap mendekati gudang dan mendengar semua percakapan Ayushita istri muda Tuan Rahadi yang sedang berencana akan mencelakai istri pertama Tuan Rahadi, yaitu nyonya Risya ibu kandung Rizal Arandra.
Karena merasa terkejut, tanpa sengaja ia menyenggol tumpukan kardus kosong dibelakangnya.
Sebelum dia bisa berlari anak buah Ayushita sudah menangkap dan menyeret Bu Ratih masuk kedalam gudang.
Plaakkk
Suara tamparan keras menggema di dalam gudang, Ratih hanya bisa meringis menahan perih pada pipinya akibat tamparan istri kedua tuannya, "Beraninya kau menguping pembicaraan ku, dasar pelayan tidak tahu diri!" Bentak Ayushita dengan lantang.
"apapun yang kau dengar, lupakan dan jangan coba-coba mengadu pada tuan Rahadi atau aku akan menghabisi suami mu!" Ayushita menarik kasar rambut Ratih hingga wanita itu mendongak menatap matanya.
"sa...saya bersumpah nyonya, saya tidak mendengar apapun,"
Ayushita menghempaskan tubuh Ratih kasar, "kalian urus dia awasi setiap gerak-geriknya, jika dia berani berulah bunuh suaminya." titah Ayushita pada dua orang pria kepercayaannya.
"baik nyonya..."
Setelah kejadian sore itu, setiap apapun yang dilakukan Ratih di mansion utama selalu saja diawasi oleh orang-orang kepercayaan nyonya Ayushita.
Tiga Hari berlalu, Ratih yang meminta izin untuk pergi ke rumah sakit karena merasa tidak enak badan, tanpa sengaja melihat mobil nyonya Risya mengalami kecelakaan, saat dirinya hendak menolong pengemudi mobil yang tidak lain adalah bosnya, dia dipukul dari belakang oleh pria tak dikenal.
Beberapa jam berlalu, Ratih terbangun dan merasa kepalanya begitu sakit, saat ia sudah membuka mata dia baru menyadari jika tubuhnya sudah diikat diatas kursi, dan tidak jauh darinya, tubuh nyonya Risya juga diikat namun dengan kondisi yang lebih buruk.
Hampir tujuh bulan dia dan nyonya Risya disekap dalam rumah yang kecil dengan penjagaan yang sangat ketat, hanya sesekali ada seorang dokter yang datang memeriksa kandungan nyonya Risya dan Ratih.
Sampai saat nyonya Risya yang mengalami pendarahan dan akan melahirkan, dibawa oleh pengawal kerumah sakit yang berada cukup jauh dari tempat penyekapan mereka.
Ratih yang juga ikut dibawa ke rumah sakit itu, menyaksikan bagaimana perjuangan nyonya Risya melahirkan anak keduanya.
__ADS_1
Anak laki-laki yang begitu tampan terlahir, namun belum sempat nyonya Risya melihat putranya nyonya Ayushita membawa bayi itu pergi entah kemana.
Karena kejadian itu pula nyonya Risya mengalami depresi berat, ditambah setelah pulang dari rumah sakit dia dan Ratih kembali dikurung di rumah itu.
Ratih yang saat itu sudah hamil tua berhasil kabur dari tempat penyekapan dan bisa menghubungi suaminya.
Saat sang suami datang ketempat persembunyiannya, Ratih menceritakan semua yang dia alami selama disekap oleh nyonya Ayushita, mendengar cerita itu suami Ratih berniat untuk memberikan informasi pada Tuan Rahadi dimana nyonya Risya disekap.
Namun sayang, Ratih harus melahirkan saat itu juga, hingga sang suami mengurungkan niatnya.
Waktu berlalu begitu cepat, delapan tahun suami Ratih yang tidak pernah berhasil menembus penjagaan Ayushita akhirnya berusaha menyamar, dan usahanya itu berhasil, dia masuk dalam jajaran pengawal kepercayaan Ayushita.
Memakan waktu Dua tahun lamanya hingga suami Ratih diberi kepercayaan menjaga rumah penyekapan yang dulu sempat menjadi tempat istrinya disekap.
Dari sini lah Ratih dan sang suami melancarkan rencananya untuk membebaskan nyonya Risya yang ternyata masih disekap disana dengan kondisi yang semakin buruk.
Berbagai cara sudah mereka lakukan namun tidak ada satu pun yang berhasil.
Ratih yang masih disembunyikan oleh sang suami, saat itu baru saja melahirkan anak keduanya.
Saat suaminya datang bersama dengan wanita dengan keadaan yang memprihatinkan, dia adalah nyonya Risya, wanita yang begitu berjasa bagi Ratih, berkat Risya lah hidup Ratih terbebas dari cengkraman paman dan bibi yang dengan tega menjual dirinya.
Risya tidak lagi bisa diajak bicara, dia hanya diam dengan tatapan kosong.
Meski Ratih selalu berusaha mengajaknya bicara tapi Risya tidak pernah merespon apapun.
Tiga bulan berlalu setelah suami Ratih berhasil membawa Risya tinggal bersama mereka, namun sayang karena penjagaan ketat di mansion utama dan perusahaan Tuan Rahadi, suami Ratih belum juga mampu mengabarkan keberadaan Risya.
Selama tiga bulan itu pula Ratih, dan sang suami membawa kedua anaknya dan juga Risya berpindah-pindah tempat tinggal hanya untuk menghindari kejaran pengawal Ayushita yang tiada hentinya mencari mereka.
Hingga malam kelam itu terjadi, malam dimana tempat Ratih dan suaminya bersembunyi berhasil dilacak oleh pengawal Ayushita.
"bawalah putra kita masuk kedalam hutan, aku akan membawa putri kita dan nyonya Risya bersama ku, aku berjanji pada mu akan menjemput kalian esok pagi," itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut suami Ratih sebelum meninggalkan Ratih dan putra nya dipinggir hutan.
Dengan berat hati Ratih berlari masuk kedalam hutan sambil memeluk erat putranya dalam gendongannya.
Air mata terus mengalir, dan doa terus terucap dari mulutnya.
Dia hanya ingin putri dan suaminya berhasil kabur membawa serta Nyonya Risya.
Bersambung....
__ADS_1