Janda Judes

Janda Judes
78 Pelampiasan


__ADS_3

Jika Dery sedang berlibur bersama dengan sahabatnya, ditempat lain Rizal sedang menyibukkan dirinya agar bisa melupakan Dery.


Harapannya untuk bisa segera melupakan Dery, nyatanya hanya tinggal harapan saja.


Dia tidak bisa dengan mudah melupakan wanitanya itu, senyumnya, manjanya, ketangguhan dan kebaikan hatinya, Rizal tidak bisa melupakan semua hal tentang Dery.


Berulang kali Joe dan Zyan menghubunginya, tapi tidak pernah dia hiraukan. Kehidupannya hanya untuk bekerja dan bekerja saja, melampiaskan segala kegundahan hatinya pada pekerjaan.


"Rizal, jangan hanya bekerja terus, pikirkan juga kehidupan asmara mu." ucap Rahadi Putra, Ayah Rizal Arandra


"sudahlah yah jangan memaksa ku untuk menikah, aku tidak ingin menikah saat ini," Rizal menyandarkan kepala di kursi kerjanya.


"usia mu sudah pantas untuk menikah nak, ayah mu ini sudah tua, ayah ingin menimang cucu dari mu." Tuan Rahadi menepuk pundak Rizal.


"bagaimana dengan Daniel yah, apa dia sudah bisa menerima kenyataan yang sebenarnya?" sengaja mengalihkan pembicaraan agar ayahnya tidak lagi memaksanya segera menikah.


"kau ini selalu saja," menggeleng kepala, "Daniel masih belum bisa menerima apa yang sebenarnya terjadi, tapi ayah masih terus berusaha memberikan bukti agar dia mengerti "

__ADS_1


Diusai tuanya dia harus berhadapan dengan putra nya sendiri, yang terus saja menuduhnya mencampakkan dirinya dan sang ibu, padahal yang sebenarnya terjadi adalah ibu Daniel lah yang meninggalkan tuan Rahadi dan Rizal saat perusahaannya hancur dulu.


"ayah ingin kembali ke Indonesia zal, ayah ingin memulai hidup baru disana," sudah lebih dari 10 tahun tuan Rahadi tinggal di California, dia sudah lelah jika harus terus menghindari Widia, ibu Daniel.


"apa ayah yakin? aku disini baru tiga bulan dan ayah malah ingin kembali ke Indonesia?" Rizal menarik nafas panjang.


"apa salahnya, ayah sudah tua zal, ayah ingin menikmati sisa hidup ini dengan ketenangan," Rizal bisa melihat gurat kesedihan di wajah ayahnya.


"nanti jika urusan ku disini sudah selesai kita akan pulang ke Indonesia yah, ayah tenang saja saat kita pulang nanti tidak akan ada dendam atau kegaduhan lagi," ucap Rizal sungguh-sungguh.


Tuan Rahadi hanya mengangguk lalu berlalu pergi, meninggalkan anak sulungnya diruang kerjanya.


Rizal berdiri di balkon ruang kerjanya, tempat favorit untuk melepaskan penat. Memandang indahnya malam yang dipenuhi lampu-lampu yang berkelap-kelip. Bayangan cantik Dery lagi-lagi melintas didepan matanya.


Apa kau merindukan ku nona? atau justru kau sedang berbahagia karena telah menikah dengan Ikbal.Aku harus mengaku kalah pada anak kecil seperti Ikbal, lagi-lagi Tuhan tidak ingin kebahagiaan hadir di hidup ku.


Ponselnya berdering pesan dari Joe lagi, selama ini Rizal tidak pernah membuka pesan yang Joe atau Zyan kirim kan, tidak pula mengangkat sambungan telepon dari mereka. Rizal hanya akan mengecek email jika itu urusan pekerjaan saja.

__ADS_1


.


Dilain tempat,


Joe dan Zyan masih memiliki banyak pertanyaan tentang kepergian Rizal, dia tidak pernah menceritakan alasan kepergiannya, tidak pernah pula menghubungi mereka.


"bagaimana kita harus mencari tahu alasan kepergian tuan, Zy," Joe mengacak rambut frustasi "aku pusing,"


"memangnya hanya kau yang pusing? aku juga pusing Joe," melempar sebuah buku kearah Joe.


"nona juga sangat sulit sekali ditemui, dia tidak pernah berada dicafe, datang ke rumahnya juga percuma. nomor ponselnya juga sudah ganti, dan tidak ada yang mau memberitahu kita," Joe menjatuhkan diri disofa.


"jika nona menolak lamaran tuan, kenapa nona menangis saat tuan Rizal berbohong soal Lea, aneh kan?" Zyan ikut berbaring memijat kepalanya.


"kita harus cari cara agar bisa bertemu dengan nona, kita pikirkan nanti, aku lelah ingin istirahat." Joe sudah beberapa kali menguap, banyaknya pekerjaan membuat jam istirahatnya berantakan ditambah lagi dia sibuk mencari tahu Masalah apa yang Dery dan Rizal sedang hadapi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2