
Rizal menatap gedung hotel milik keluarga Leonard dengan wajah sendu.
Hari ini adik sepupunya akan merayakan kebahagiaan sebagai seorang pengantin, tapi dia sama sekali tidak bisa merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan keluarganya.
Rizal melangkahkan kaki dengan malas memasuki gedung hotel.
Semua orang yang berpapasan dengannya menunduk hormat pada pria tampan berkarisma itu.
Ia masuk kedalam ballroom hotel diikuti empat orang kepercayaannya.
Sesaat ia merasakan jantungnya berdetak tidak beraturan, ketika ia sudah masuk kedalam ruangan itu.
Lalu lalang orang-orang tidak ia hiraukan, pertanyaan yang keluar dari mulut asistennya tidak ia gubris.
Rizal masih sibuk merasai hatinya yang tiba-tiba berdesir tidak karuan.
Joe terpaksa menggoyangkan lengan Rizal yang sedari tadi diam dan memegangi dadanya. "tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Joe dengan wajah khawatir.
Rizal tersadar dari lamunannya, lalu menatap Joe sekilas. "aku baik-baik saja Joe, hanya saja...." .
"hanya saja apa tuan?" sahut Zyan, kini empat sekawan ini benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan bosnya.
"aku tidak tahu, aku merasa ada yang berbeda didalam sini," Rizal menepuk dadanya.
Ia masih terus merasakan desiran aneh itu.
"apa tuan ingin kami panggilkan dokter?" tanya Jack.
"tidak, aku baik-baik saja," singkat Rizal, lalu melangkahkan kaki menuju ruangan khusus keluarga.
Joe membukakan pintu untuk Rizal, didalam sana sudah ada pengantin dan keluarga yang sudah menunggu kehadiran Rizal.
"kenapa lama sekali kak?" tanya Steve yang menyambut Rizal dengan pelukan hangat. "apa kakak baik-baik saja?" Steve bisa melihat gurat kekhawatiran diwajah keempat orang kepercayaan Rizal.
"aku baik Steve," singkat Rizal. Kini tatapan mata Rizal justru tertuju pada pria yang berdiri dibelakang Samuel.
"kak, jangan menatap asisten ku dengan tatapan dingin mu," ketus Sam yang melihat ketidaksukaan di mata Rizal.
__ADS_1
"aku baru melihatnya, siapa dia?" tanya Rizal dengan ekspresi datar.
"dia asisten andalan Leonard group Zal, dia pengawal paling handal yang ada di tim uncle," sahut Johnson Leonard ayah Samuel.
Johnson melambaikan tangan pada asisten putranya.
"beri hormat pada pemimpin The RedDelta, Ren,"
"selamat malam tuan," Rendy menunduk hormat pada Rendy. "saya Rendy asisten tuan Sam," ia mengulurkan tangan pada Rizal, dengan wajah menunduk.
Rizal menyambut tangan Rendy dengan tatapan yang tidak dapat diartikan, "jadi kau orang yang dibanggakan Samuel? aku ingin tahu seberapa handal kau menghilangkan jejak dan menghancurkan musuh-musuh mu," ucap Rizal dengan suara sinis.
Rendy dan Rizal saling menatap, ada perasaan berbeda saat keduanya saling menjabat tangan.
"jika kau orang yang handal, kenapa kau masih belum mampu menemukan orang yang aku cari," tanya Rizal dengan suara penuh penekanan.
"karena dia belum ikut dalam pencarian Zal, dia ku perintahkan menggantikan Sam yang cuti beberapa waktu ini," sahut Johnson, Ia tidak ingin suasana diruangan itu semakin mencekam karena dua pria dingin dan angkuh itu.
"cih..." Rizal melangkah menjauhi Rendy yang masih berdiri ditempatnya. "uncle terlalu mempercayai orang lain," ketusnya.
Aku pastikan tidak akan membantu mu menemukan orang yang kamu cari tuan. gumam Rendy dalam hati.
"sudah lah," Tuan Rahadi membuka suara. "kita harus bersiap acara akan dimulai sebentar lagi,"
Sam dan Diandra didampingi orang tua Sam berjalan keluar ruangan lebih dulu, diikuti oleh tuan Rahadi dan Rizal, dan juga keluarga dan orang-orang kepercayaan mereka masing-masing.
Saat sang pengantin sudah berdiri dipanggung utama untuk menyambut para tamu yang datang. Rizal memilih duduk di sudut ruangan yang tidak terlalu ramai.
Dia terus memegangi dadanya yang sejak tadi berdetak tidak beraturan.
Ada apa ini Tuhan, kenapa hati ku berdesir seperti ini, gumamnya pelan.
"Tuan..." panggil Juii.
"hmmm..."
"apa tuan tidak ingin makan atau minum sesuatu?"
__ADS_1
"tidak," singkatnya. Rizal bangun dari duduknya, ia berjalan mendekati sang ayah yang tengah berbicara dengan rekan bisnisnya.
"Yah, bisakah aku pergi dari sini sekarang," bisik Rizal.
"Tunggulah sampai acara selesai, nak," Tuan Rahadi menepuk pundak Rizal.
"tapi aku..." belum selesai Rizal bicara, tuan Rahadi sudah menggelengkan kepala.
Rizal menghembuskan nafas kasar, lalu kembali duduk di kursinya tadi.
Rizal menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya, dia benar-benar tidak bisa menikmati suasana pesta yang begitu riuh.
"tuan minumlah ini," Joe menyerahkan segelas minuman pada Rizal, yang tampak kesal.
Tanpa menjawab Rizal langsung menyambar gelas dan meminumnya hingga tandas.
Membuat keempat orang kepercayaannya menyerngit.
"saya permisi sebentar tuan," Juii yang duduk bersebelahan dengan Rizal, bangkit dari duduknya Karena ingin ke toilet.
Tanpa sengaja gaun yang ia gunakan terinjak oleh Rizal, hingga membuat tubuhnya limbung dan jatuh tepat di pangkuan Rizal.
Joe, Jack dan Zyan, menepuk keningnya bersamaan. Mereka tidak bisa membayangkan kemarahan Rizal nanti.
Dengan cepat Juii bangkit dari pangkuan Rizal, saat melihat kilatan kemarahan di wajah bosnya ini.
"maaf, tuan maaf," Juii menunduk, ia tidak berani menatap Rizal.
"apa kau tidak bisa berhati-hati Ju," dengus Rizal,dengan suara mulai meninggi.
"maafkan saya tuan,saya benar-benar tidak sengaja," Juii semakin menunduk. "bisakah tuan mengangkat kaki, gaun saya tuan injak," dengan suara lirih Juii melirik Rizal yang masih nampak kesal padanya.
Rizal menatap ujung gaun yang ia injak, lalu mengangkat kakinya. "lain kali jangan gunakan gaun seperti itu, merepotkan saja," ketusnya, Juii hanya mengangguk, sedangkan ketiga sahabatnya terlihat menghela nafas lega.
Dery.....
Bersambung.....
__ADS_1