Janda Judes

Janda Judes
Ayam Geprek


__ADS_3

Rizal Arandra, pria tampan berkarisma yang selalu tampil sempurna ini, kini lebih sering berdiam diri didalam ruang kerjanya.


Sejak ia diijinkan pulang dari rumah sakit, Rizal sangat jarang keluar dari ruang kerja itu.


Semua kegiatannya ia lakukan didalam sana.


Rizal turun tangan sendiri menganalisa setiap petunjuk terakhir yang didapatkan anak buah Joe.


Disela kesibukan mencari petunjuk, ia sesekali menatap foto pernikahan besar yang terpampang diruang kerjanya.


Menatap sendu potret istri kecilnya, wanita 18 tahun yang sukses mengikat hatinya dan kini telah merawat Rizal junior dalam rahimnya.


Aku sangat merindukan mu sayang, aku ingin menemanimu makan ayam geprek kesukaan mu lagi... gumam Rizal.


Setelah puas menatap foto istrinya, Rizal kembali fokus pada layar laptop.


Berkali-kali ia memperhatikan setiap foto yang ada.


Rizal, ayo berfikir, pasti ada petunjuk didalam foto-foto ini, semangat lah demi istri dan anak mu. Rizal menyemangati dirinya sendiri.


Tok...Tok...Tok...


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Rizal.


"Masuk lah..." seru Rizal.


ceklek...


Suara pintu terbuka dan derap kaki memenuhi ruangan, Rizal mendongak, menatap tiga orang yang berdiri didepannya.


"ada apa?" tanya Rizal dengan ekspresi datar, wajah dinginnya semakin terasa sangat dingin semenjak hilangnya sang istri.


"tu..tuan aku ingin bicara," jawab Juii dengan gugup


"katakan.."


"a..aku akan kembali ke kota S, dan akan melanjutkan pendidikan ku, tapi sebelum aku berangkat.." Juii menatap Rizal takut-takut lalu melanjutkan kalimatnya. "ak..aku ingin meminta maaf karena telah gagal menemukan nona,"


Rizal menarik nafas panjang, lalu menatap Joe, Jack dan Juii dengan tatapan tajam.


"pergilah dan jangan pernah kembali," sentak Rizal dengan suara datar.


Juii yang sudah menduga akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Rizal, hanya bisa menunduk dalam dan menahan air matanya.


"kenapa kau diam saja, kau ingin pergi kan?" Rizal menekankan kalimat terakhirnya.


"aku juga tidak ingin memiliki orang-orang yang mudah menyerah dan tidak mau memperbaiki kesalahannya, pergilah jika kau ingin pergi, dan jangan pernah muncul dihadapan ku lagi," ketusnya.


"Joe..." lirih Juii, air matanya kini sudah mengalir deras.


Tidak disangka Rizal yang selalu baik dan hangat pada semua orang-orang terdekatnya, berubah begitu dingin dengan aura mencekam.


Joe menggelengkan kepala samar, mengisyaratkan agar Juii tidak menangis.


Sedangkan Jack sudah meraih tangan Juii.


"kalian berdua juga ingin pergi dari The RedDelta?" Rizal menatap secara bergantian pada Joe dan Jack. "pergilah," suara Rizal sudah meninggi.


Mereka bertiga begitu takut menghadapi Rizal yang seperti ini.


Mendengar suara Rizal yang sudah meninggi, membuat mereka bertiga melangkah mundur dengan perlahan.


Rizal tersenyum sinis, saat melihat ketiga orang kepercayaannya mulai menggerakkan kaki.


"Semudah itu kalian menyerah? semudah itu kalian mundur dari The RedDelta? aku benar-benar salah memilih kalian sebagai orang-orang kepercayaan ku," ucap Rizal dengan senyum getir. "aku pikir kalian datang kemari ingin membantu ku melanjutkan pencarian istri dan anak ku, tapi ternyata aku salah."


Deg..


Kalimat yang keluar dari mulut Rizal, seolah menampar mereka bertiga.


Apa tuan sebenarnya ingin kami melanjutkan pencarian nona? batin Jack


Mereka tidak sadar jika sejak tadi Rizal mengisyaratkan agar mereka tidak menyerah menghadapi masalah ini.

__ADS_1


"sudah sana pergilah, aku masih bisa mencari istri dan anak ku tanpa bantuan kalian," Rizal sudah menunduk, tatapan matanya kosong bahkan sudut matanya mulai berair.


"tuan..." Joe membuka suara.


"apa tuan mau memberi satu kesempatan untuk kami?" tanya Joe dengan harapan yang besar dihatinya.


Joe tahu benar Rizal sedang dalam kondisi sangat terpuruk saat ini.


"untuk apa aku memberikan kesempatan pada orang yang ingin pergi dari ku," jawab Rizal dengan suara lirih.


"maafkan kami tuan, kami tidak ingin pergi dari The RedDelta," Joe berkata dengan mantap, ia bahkan menarik Juii agar lebih dekat dengan Rizal, diikuti oleh Jack.


"Tolong beri kami satu kesempatan lagi," Joe menunduk dalam.


Rizal bangkit dari duduknya, dan berdiri tepat di depan Joe, Jack dan Juii.


Ia menatap bergantian tiga orang kepercayaannya ini.


Glup..


Jack menelan savilanya susah payah, ia benar-benar takut jika Rizal akan menghajar mereka lagi.


"apa kalian tuli?" Rizal menatap mereka dengan tatapan membunuh.


Bahkan jika diibaratkan, tatapan Rizal itu seperti belati yang siap menghujam tepat dijantung mereka.


Matilah aku, tuan Rizal benar-benar marah. gumam Jack.


"sejak tadi aku mempertanyakan apa kalian benar-benar ingin menyerah? apa kalian ingin pergi dari The RedDelta, bukannya meminta diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tapi kalian malah akan pergi?" ketus Rizal.


Kalimat Rizal sukses membuat Joe Jack dan Juii mendongak.


Juii langsung mengusap air matanya, ia dengan cepat meraih tangan Rizal.


tuan, aku tidak ingin pergi, tapi Joe memaksa ku untuk kembali ke kota S, tolong beri aku satu kesempatan lagi tuan, aku janji akan mencari nona sampai ketemu," Juii mengucapkan kalimatnya dengan sungguh-sungguh.


Sedangkan Joe, ia melirik kesal pada adiknya ini, bisa-bisanya dia mengumpankan dirinya agar Rizal memberikan dia kesempatan lagi.


Melihat wajah kesal Joe, Jack hanya tersenyum geli, lalu ikut bicara.


Rizal menarik nafas dalam. "tugas kalian sekarang, kerahkan semua pasukan kita untuk mencari istri dan anak ku disetiap kota yang ada di negara ini, bila perlu sampai keluar negeri." titah Rizal tanpa basa-basi.


Joe, Jack dan Juii tersenyum senang dan mengangguk mantap.


"siap Tuan," seru mereka bersamaan.


Saat mereka akan melangkah pergi, Rizal menghentikan langkah mereka.


"tunggu," Rizal menatap mereka bertiga. "maafkan aku yang telah membuat kalian terluka," kalimat Rizal terdengar penuh penyesalan.


"tidak tuan, jangan seperti ini, tuan berhak marah karena kegagalan kami," Joe tersenyum hangat. "kalau begitu, kami undur diri," mereka menunduk hormat lalu meninggalkan ruang kerja Rizal.


Kalian sudah seperti saudara ku, aku tidak akan membiarkan kalian pergi dari sini. gumam Rizal.


.


Kota S


Dery sedang menemani Rendy dikantor siang ini.


Bukan, lebih tepatnya ia merengek dan memaksa ikut kekantor Rendy.


Bosan katanya seharian hanya di apartemen, terlebih Ramon sudah mulai masuk sekolah, ditemani ibu Ratih dan beberapa pengawal utusan Rendy.


Sebenarnya Dery sangat ingin menemani Ramon disekolah, tapi Rendy dan ibu sama sekali tidak mengijinkan.


"Rendy..." Dery mulai terlihat banyak bergerak disofa.


"Rendy..." seru Dery lagi.


"ada apa lagi nona..." Rendy meredam rasa kesalnya.


Jika bukan karena ibu, aku tidak mau membawa wanita hamil yang banyak maunya ini ke kantor. Belum lagi, semua orang menatap heran pada ku tadi. Rendy menggerutu dalam hati.

__ADS_1


"apa kau tidak lapar?" tanya Dery sambil mengusap perutnya yang mulai keroncongan.


"belum..." Rendy kembali fokus pada pekerjaannya.


"Rendy aku lapar..." Dery mulai merajuk sambil mengetuk-ngetuk meja.


huuh


Rendy tampak menghela nafas panjang.


Sabar Rendy, sabar.


"kamu mau makan apa?" tanya Rendy.


"aku mau ayam geprek pedas dan ayam penyet pedas jangan lupa es jeruk juga," Dery sudah membayangkan nikmatnya ayam goreng dengan sambal melimpah dan nasi hangat.


"baiklah, aku pesankan," Rendy menghubungi telepon pantry dan meminta seorang OB membelikan apa yang diinginkan Dery. "jangan mengganggu ku dulu ya, pekerjaan ku sangat banyak hari ini,"


"iya.." sahut Dery sambil merebahkan tubuhnya disofa.


Tidak lama, seorang OB masuk membawakan pesanan Dery.


Dengan wajah berbinar Dery membuka satu persatu bungkusan diatas meja.


"kenapa kau masih disini?" tanya Rendy pada OB yang masih berdiri menatap Dery.


Rendy bisa melihat tatapan heran OB itu.


"eh! maaf tuan, permisi," OB itu bergegas keluar dari ruangan Rendy.


Apa wanita itu kekasih tuan Rendy, selama tuan Rendy bekerja dengan tuan Sam, baru kali ini aku melihatnya membawa seorang wanita kekantor. batinnya.


Dery sama sekali tidak menghiraukan Rendy yang mengusir OB itu, ia justru sudah menyantap makanannya dengan hikmat.


Rendy sesekali melirik Dery yang sedang makan dengan nikmatnya, tiba-tiba ia menelan ludah dan perutnya terasa sangat lapar.


"apa itu enak?" tanya Rendy yang sudah duduk disamping Dery.


Dery hanya mengangguk tanpa mau menjawab pertanyaan Rendy.


Ia melirik Rendy, "kamu mau?"


"apa boleh?" tanya Rendy


"tentu saja," Dery menyerahkan satu bungkusan ayam penyet pada Rendy. "makanlah, jangan sampai kamu sakit," Dery tersenyum hangat pada Rendy.


Rendy mulai menyantap makanan itu bersama dengan Dery.


Tidak ada pembicaraan sampai mereka selesai makan.


"Rendy..." setelah selesai makan Dery mulai menguap.


"aku mengantuk, apa aku boleh tidur disini?" tanyanya.


Rendy tidak menjawab, ia langsung meraih remot lalu menekannya.


Dan rak buku dibelakang sofa Dery terbuka lebar, didalam sana ada sebuah tempat tidur yang terlihat sangat nyaman.


"tidurlah di sana, kau jangan terlalu lelah, kasian anak dalam kandungan mu," ucap Rendy tanpa mengalihkan pandangannya.


"terima kasih Rendy, kamu sangat baik," Dery menghambur ke tempat tidur.


Tidak lama setelah menjatuhkan diri diatas tempat tidur, ia benar-benar sudah terlelap.


Rendy melirik sekilas kearah ruang rahasianya, senyum tipis terukir diwajah Rendy.


Kau itu wanita yang tidak ada gengsinya sama sekali. batin Rendy.


Rizal....


Bersambung....


jangan lupa mampir dikarya baru otho ya dear,

__ADS_1


Mr Kulkas Jatuh Cinta


Terima kasih sudah mendukung karya-karya othor 🙏😇❤


__ADS_2