
Dimeja makan,
Rendy hanya diam saja sejak siang tadi, sang ibu juga terlihat lebih banyak diam dari biasanya.
Meski mereka memang biasa makan dalam diam, tapi malam ini terasa sangat berbeda. Dery yang sejak tadi memperhatikan tingkah aneh Rendy dan Bu Ratih akhirnya tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya.
"Rendy, kenapa sejak tadi kau diam saja?" tanya Dery dan langsung membuat Rendy tersedak.
uhuuk...uhuuk...
Rendy memukul-mukul dadanya, ia terkejut karena Dery tiba-tiba bertanya seperti itu padanya.
"ti...tidak ada apa-apa Dery," setelah selesai minum Rendy langsung bangkit dari duduknya, "aku masuk dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Rendy sambil berlalu meninggalkan mereka.
Dery hanya menunduk, ia tahu Rendy sedang menyembunyikan sesuatu.
Ibu Ratih mempercepat makannya, dia ingin segera meninggalkan meja makan karena tidak ingin Dery bertanya hal yang sama padanya.
Kenapa ibu dan Rendy lebih banyak diam, apa mereka marah padaku? apa aku membuat kesalahan? apa aku membuat mereka repot dan kesusahan. batin Dery.
Sedangkan didalam ruang kerja, Rendy menenggelamkan kepalanya pada kedua tangan.
Bagaimana caranya aku mengatakan pada Dery apa yang terjadi. gumam Rendy.
Dia takut jika kenyataan tentang suaminya akan membuat Dery semakin sakit dan itu akan mempengaruhi janin dalam kandungannya.
Ya Tuhan... bantu aku mengatakan semuanya pada Dery, dia sudah seperti adik ku sendiri, aku tidak bisa melihatnya terluka. batin Rendy.
Waktu berlalu begitu cepat, jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Rendy keluar dari ruang kerja, karena merasa haus.
Ia berjalan menuju dapur, saat melewati kamar Dery, entah kenapa ia menjadi merasa penasaran.
Rendy membuka pintu yang tidak tertutup rapat. Dalam gelap Rendy bisa melihat Dery meringkuk dalam selimut dengan pundak terguncang.
Dengan perlahan Rendy mendekati kasur Dery, saat semakin dekat ia bisa dengan jelas mendengar isakan tertahan dari bawah selimut.
apa Dery menangis dalam tidur lagi? batin Rendy.
Rendy menyalakan lampu, lalu membuka selimut yang menutupi kepala Dery.
Deg
Betapa terkejutnya Rendy, ternyata Dery tidak sedang menangis dalam tidur.
__ADS_1
Dery menatapnya sendu, matanya bengkak dan memerah, kasurnya basah karena air mata.
sejak kapan Dery menangis seperti ini, matanya sangat bengkak. batin Rendy.
"Dery, kenapa kamu menangis?" tanya Rendy. Dia sudah duduk didepan Dery.
"ap..apa aku membuat mu susah Rendy? apa ak...aku dan Ra..Ramon merepotkan mu? ak..aku melakukan ke.. kesalahan?" bukannya menjawab pertanyaan Rendy, Dery malah mengajukan pertanyaan ditengah isakkannya.
"tidak Dery, tidak," Rendy mengusap air mata diwajah Dery. "kenapa kau bertanya seperti itu, ada apa hmm?" Rendy merapikan rambut yang menutupi wajah Dery.
"jika aku membuat ke...kesalahan aku mi...minta maaf, jika ak..aku merepotkan mu, aku akan pergi dari sini Rendy," mendengar kalimat Dery, tiba-tiba hati Rendy berdenyut nyeri.
"kenapa kamu mau pergi, kamu tidak merepotkan dan tidak membuat kesalahan apapun, jangan menangis lagi, ku mohon,"
"lalu kenapa kamu dan ibu mendiamkan aku?"
Eh! apa aku terlalu berlebihan pada Dery, bukan begitu maksud ku, aku hanya tidak tega melihat mu terluka. gumam Rendy.
"maafkan aku dan ibu, bukan maksud ku mendiamkan mu Dery, aku hanya sedang sariawan dan pusing karena pekerjaan ku sangat banyak," ia menjawab asal.
"kamu jangan membohongi ku, aku tahu kamu tidak sariawan dan pekerjaan mu tidak banyak," Dery memukul lengan Rendy pelan, "jika kalian ingin aku pergi dari tidak apa-apa katakan saja, tapi jangan mendiamkan aku," ucapnya lirih.
Rendy membawa tubuh Dery dalam dekapannya, "jangan menangis lagi Dery, maafkan aku," entah mengapa ia begitu sedih melihat Dery terus berurai air mata.
Tanpa mereka sadari sejak Rendy masuk kedalam kamar Dery, ibu Ratih sudah berdiri didepan pintu kamar Dery, ia melihat bagaimana putranya menyayangi Dery seperti adiknya sendiri.
Bukankah Dery berhak tahu, setidaknya agar dia tidak lagi berharap suaminya akan mencari dirinya dan Ramon.
"nak..." panggil bu Ratih, ia menakup wajah Dery, lalu mengusap air mata diwajah cantik wanita ini.
"dengarkan ibu sayang, ibu sudah menganggap mu seperti putri ibu sendiri, dan Rendy sudah menganggap mu seperti adiknya, jadi jangan pernah berfikir kami direpotkan atas kehadiran mu dan Ramon disini," ibu Ratih menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya,
"maafkan ibu dan Rendy yang sudah mengabaikan mu hari ini, jangan bersedih lagi ya sayang."
Dery mengangguk lalu memeluk ibu Ratih, Rendy juga ikut memeluk mereka. "aku menyayangi kalian," ucap Rendy lirih.
"baiklah, peluknya sudah dulu, ini sudah malam dan kita harus tidur, kasian Ramon dikamar sendiri Bu," ucap Rendy sambil membelai rambut Dery pelan.
"iya.."
"Dery kamu tidur ya nak, tidak baik ibu hamil tidur larut malam, ibu akan kembali ke kamar," setelah mengecup lembut pucuk kepala Dery, Bu Ratih meninggalkan kamar.
Saat Rendy akan meninggalkan kamar Dery, langkahnya terhenti saat tangan Dery menggenggam erat lengannya.
"ada apa Dery?"
__ADS_1
"kak..." Dery menatap Rendy dengan senyum manis, Rendy yang mendengar Dery memanggilnya kakak tertegun seketika.
"bolehkah aku memanggil mu kakak?" tanyanya.
"tentu saja, kau ini kan adik ku," Rendy tersenyum, ada rasa berbeda dalam hatinya saat Dery memanggilnya dirinya dengan sebutan kakak.
"sebelum kakak keluar dari kamar ku, boleh aku bertanya?"
"hmm, mau tanya apa?" Rendy kembali duduk di samping Dery, ia menggenggam erat tangannya.
"apa kakak sudah mencari tahu tentang keluarga dan suami ku?"
Matilah aku, apa yang harus aku katakan pada Dery tentang suaminya. aku sungguh tidak tega menceritakan semuanya.
"kenapa diam saja kak?" Dery menatap netra Rendy dengan intens, lalu ia tersenyum getir saat Rendy tidak menjawab pertanyaannya, Dery bisa melihat Rendy sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"sudah kak jangan dijawab, aku sudah tahu jawabannya, aku bisa menerima semuanya, sejak aku lari dari Marco, saat itu juga aku sudah menyiapkan hati untuk menerima jika suami ku memang memiliki wanita lain, jadi kakak jangan mencoba berbohong pada ku," kalimat Dery seolah menyayat hati Rendy, dia tidak mampu berbicara apapun.
Rendy memeluk Dery, mengusap punggung wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini.
Rendy tidak ingin Dery melihat dirinya meneteskan air mata.
Sedangkan Dery lagi-lagi terisak, dia tahu apa yang coba disembunyikan Rendy darinya.
"Dery..." Rendy melepaskan pelukannya,
"meskipun suami mu tidak lagi memperdulikan dirimu dan Ramon, walaupun dia sudah memiliki wanita lain, jangan pernah bersedih, aku dan ibu akan menjaga mu," dengan ketulusan Rendy mengatakan itu pada Dery yang masih menunduk dalam.
"Lupakan dia," Rendy sengaja menekankan kata-katanya,
"setelah kau melahirkan nanti, aku akan mencarikan pria yang baik untuk mu, tenang saja," ucap Rendy dengan terkekeh, ia mencoba mencairkan suasana.
"iishh... memangnya pria mana yang mau dengan aku, aku akan menjadi janda yang kedua kalinya kak," Dery mengusap air matanya, mulai tersenyum.
"hanya pria bodoh yang akan menolak wanita cantik dan baik seperti dirimu," dengan gemas Rendy mencubit pipi Dery, "sudah bersedihnya sekarang tidurlah, selamat malam," Rendy sudah berjalan keluar dari kamar.
Malam itu Dery tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia masih belum bisa menerima jika Rizal sudah benar-benar melupakan dirinya.
Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Rendy, mengisyaratkan jika memang benar suaminya sudah memiliki wanita lain.
Malam itu pula Dery bertekad melupakan Rizal Arandra. Lelaki yang sangat ia cintai, ayah dari anak dalam kandungannya.
Bersambung.....
jangan lupa mampir di karya baru othor yaa, sudah update lhoo....
__ADS_1
Terima kasih sudah selalu mendukung author 😇😘😘