
Rendy baru saja selesai melakukan ritual mandi paginya, saat melihat Dery dan sang ibu sedang menyiapkan sarapan.
"Ekhem.." dia sengaja berdehem keras,
Mendengar deheman Rendy, Dery menoleh lalu tersenyum.
"kau sudah selesai? ayo sarapan," ajak Dery
Rendy mengangguk lalu mendekat ke meja makan, "dimana Ramon?"
"itu dia," Dery menunjuk Ramon yang berjalan kearah mereka.
"selamat pagi..." ucap Ramon polos.
"pagi sayang, ayo sarapan," Dery mencium lembut pipi Ramon.
Melihat Ramon dan Dery begitu saling menyayangi membuat Rendy tersenyum.
aku akan mencari tahu tentang diri mu dan putra mu,"
Semua orang sudah makan, tapi Dery dia masih enggan untuk menyantap sarapan paginya.
"nak, kenapa kamu tidak makan?" ucap Bu Ratih. "apa kamu tidak menyukai makanan ini,"
Dery menggeleng, "maaf Bu, bukannya aku tidak menyukai makanan ini, aku yakin ini pasti sangat enak, tapi aku..." Dery malu untuk mengatakan jika dia tidak nafsu makan karena sedang hamil muda.
"apa kau sakit Der?" tanya Rendy, ada gurat kekhawatiran diwajahnya.
"tidak Ren, aku baik-baik saja,"
"lalu?"
"Mama memang sedang tidak nafsu makan Nek, sudah beberapa hari aku melihat Mama hanya makan buah saja," ucap Ramon polos.
Bu Ratih menatap Dery lalu tersenyum.
Rendy sendiri terlihat heran dengan jawaban Ramon. "kau sedang diet ya? itu sebabnya kau makan buah saja?"
"tidak, aku tidak diet Rendy, aku memang tidak ingin makan nasi, rasanya perut ku mual saat makan nasi,"
"kau sedang mengandung, Dery?" ucap Bu Ratih. Dery mengangguk samar.
Rendy yang melihat Dery mengangguk, sedikit terkejut.
kenapa ada orang ingin menyakiti wanita yang sedang mengandung. Rendy.
Setelah sarapan pagi, Rendy duduk di teras bersama Ramon, sedangkan ibu Ratih sedang keluar entah kemana.
Dery baru akan melangkah keluar rumah, saat ia mendengar Rendy sedang melakukan panggilan telepon.
Samar-samar Dery bisa mendengar percakapan Rendy.
_ tidak bisakah aku tinggal di rumah sedikit lebih lama, aku mohon katakan pada bos, jika aku tidak bisa meninggalkan ibu ku sekarang._
"....."
_masih banyak pegawai di sana, aku akan kembali Minggu depan, dan besok aku harus mengantar ibu ku berobat_
Selesai memutuskan panggilan telepon Rendy tampak berdecak kesal.
"mereka itu, selalu saja mengganggu ku saat aku sudah di rumah." gerutu Rendy.
"Rendy.." panggil Dery,
Dia menoleh pada Dery, "kau sudah lama disitu?" tanyanya.
"baru saja,"
"apa disini sangat jauh dari kota Ren?" Dery sudah duduk disamping Ramon.
"iya, lumayan jauh, dari sini menuju kota hanya ada satu kendaraan umum, dan jalan yang dilewati tidak cukup layak," jelas Rendy.
"begitu.." Dery menatap Ramon, lalu memeluknya.
Setidaknya jika aku disini, Marco dan Monica tidak akan mencari ku sampai disini. Dan Ramon pasti akan aman.
Tapi kenapa Monica ingin menghabisi Ramon jika dia memang ibu kandungnya, sebenarnya apa yang terjadi.
__ADS_1
Rendy yang sejak tadi memperhatikan Dery, menjadi penasaran, ingin tahu lebih banyak kenapa dia bisa ada di desanya dan kenapa tidak ingin keluarganya tahu dia ada disini.
"Dery, boleh aku tanya sesuatu?" Dery menatap Rendy lalu mengangguk.
"bolehkah aku tahu apa sebabnya kamu di sekap, dan kenapa kamu tidak ingin keluarga mu tahu kamu ada disini?"
Deg..
Pertanyaan Rendy sukses membuat Dery menegang seketika.
"Ramon bisakah kamu tinggalkan Mama dan om Rendy berdua saja? Mama ingin bicara penting dengan om Rendy,"
"tentu mam, Ramon juga mengantuk dan ingin tidur," Ramon bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan Dery dan Rendy diteras rumah.
Huuhh...
Dery menghembuskan nafas panjang sebelum dia bercerita.
"aku tidak tahu harus bercerita dari mana Ren,"
"apa suami mu tidak akan mencari mu?"
"entah lah,"
"suami ku membuat wanita lain hamil Ren, dan wanita itu adalah ibu kandung Ramon," Rendy melongo mendengar jawaban Dery.
"ja..jadi Ramon bukan putra kandung mu?"
"ya.." angguk Dery.
"aku mengadopsi Ramon dari panti asuhan saat aku belum menikah dengan suami ku sekarang, dan kemarin ibu Ramon meminta seseorang untuk menculik Ramon.
Saat itu juga, aku terpaksa ikut dengan mantan suami ku karena dia mengancam akan menyakiti Ramon, aku tidak tahu apakah mantan suami bekerjasama dengan ibu Ramon atau tidak, yang aku pikirkan adalah keselamatan Ramon," jelas Dery.
"lalu bagaimana kau tahu jika ibu Ramon tangah mengandung janin dari suami mu?"
"tes DNA, aku meminta ibu Ramon melakukan tes DNA, dan hasilnya memang cocok." Dery tersenyum samar. Rendy mengerti apa yang Dery rasakan saat ini.
"akan aku pastikan kau aman disini, tidak akan ada yang berani menyentuh mu dan Ramon." Rendy menepuk pundak Dery.
"jangan sungkan," Rendy tersenyum hangat.
Tanpa mereka sadari ibu Ratih yang tengah berdiri di samping rumah mendengar semua percakapan mereka.
Ya Tuhan...
kenapa ada wanita yang nasibnya sama sepertiku...
Aku mohon berikanlah dia dan putranya kebahagiaan.
batin Bu Ratih.
.
"apa sudah ada titik terang keberadaan menantu dan cucu ku, Jack?" ucap tuan Rahadi.
"maaf tuan, kami belum menemukan apapun, tapi kami masih berusaha," Jack menunduk.
"kemana pengawal dan orang-orang handal The RedDelta Jack, kenapa lama sekali,"
"maaf tuan, kami akan secepatnya menemukan nona muda dan putranya." mantap Jack.
"lakukan secepatnya," titah Tuan Rahadi sebelum meninggalkan Jack yang masih tertunduk.
Rizal sedang berada didalam ruang kerja, dia turun tangan sendiri memeriksa rekaman cctv tempat-tempat yang Marco dan Dery singgahi sebelum Dery menghilang.
"kak.." Daniel berdiri diambang pintu.
"Niel, masuklah,"
Kini Daniel sudah duduk dihadapan Rizal yang tengah sibuk.
"kak boleh kah aku meminta satu permintaan pada mu,"
"apa? katakan saja," ucap Rizal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
"bolehkah aku menemui Monica, satu kali saja," Daniel mengatakan itu dengan penuh harap.
__ADS_1
Rizal spontan langsung menghentikan pekerjaannya, dan menatap Daniel penuh tanya.
"apa kau belum bisa melupakan dia, kau masih mencintainya?"
Daniel menggeleng, dia memang tidak pernah mencintai Monica, dulu dia hanya memperalat Monica untuk membuat Rizal menderita.
"tidak kak,"
"lalu?"
"ada satu hal yang harus aku selesaikan dengannya, aku mohon ijinkan aku menemuinya, jika kakak tidak percaya pada ku, Kakak bisa meminta pengawal untuk mengawasi ku,"
"pergi lah, temui dia, selesaikan masalah mu dengannya." ucap Rizal.
"terima kasih kak," Daniel bergegas keluar ruangan Rizal dan menuju tempat Monica ditahan.
.
Tap...Tap...Tap...
Langkah kaki Daniel membuat Monica yang sedang duduk meringkuk mendongak.
Daniel, untuk apa dia disini?
"Monica..." panggil Daniel lirih.
"Niel, kau ada disini?" Monica pikir Daniel datang untuk menyelamatkan dirinya. "kau datang untuk menyelamatkan ku?" ucapnya dengan wajah berbinar.
"aku datang untuk menanyakan satu hal," Daniel berjongkok, lalu merogoh saku jasnya dan menunjukkan sebuah foto.
"lihat ini..."
Mata Monica membulat seketika saat melihat foto itu.
"kenapa kau menunjukkan foto ini pada ku?"
"katakan pada ku yang sejujurnya, apa anak ini adalah putra ku?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Daniel membuat Monica diam.
"katakan Monica, apa anak ini adalah putra ku?" desak Daniel, ia mencengkram kedua bahu Monica dengan kuat.
"kau ingin tahu? maka lepaskan aku dari sini dan aku akan mengatakan semuanya,"
"Monica katakan," bentak Daniel. Dia mengacak rambutnya frustasi.
Monica masih tidak bergeming, Dia tahu betul sifat Daniel yang akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan apa yang Ia inginkan.
Rizal yang sejak tadi mengawasi mereka dari cctv ponselnya, bergegas menghampiri Daniel dan Monica.
Dia harus tahu semuanya.
"Monica katakan, apa Ramon adalah putra ku," Ulang Daniel, tapi Monica tidak menjawab, dia justru menghambur memeluk Daniel erat.
"Shit..lepaskan" Daniel mendorong Monica,
"katakan atau aku ledakkan kepala mu,"
"lakukan saja," santai Monica.
"Monica..." teriak Rizal lantang.
Monica yang melihat Rizal sudah berada satu ruangan dengannya dan Daniel, tersenyum smirk.
Jika aku tidak bisa mendapatkan mu, maka tidak akan ada yang bisa memiliki mu Rizal.
Monica menarik pelatuk senjata api yang sengaja dia ambil dari saku jas Daniel.
Daniel masih sama seperti dulu, selalu menyimpan senjata di saku jasnya.
Itulah alasan Monica memeluk Daniel, dia mengambil senjata api milik Daniel.
Doorr....
Suara tembakan memekakkan telinga.
Bersambung....
bonus tengah malem nih 😁
__ADS_1