
Hari ini Dery berencana akan berjalan-jalan dengan Dena dan Ramon.
Sudah lama Dery tidak memanjakan sang putra.
"sayang, hari ini kamu gak mau tinggal dirumah saja?" Rizal masih menggelayut di pelukan Dery.
"aku hanya pergi sebentar cinta," menyisir rambut sang suami dengan jarinya.
"sudah lama Ramon tidak pergi jalan-jalan, kasian dia"
"tapi aku harus ikut,"
"ehh, tidak usah, kamu urus saja pekerjaan mu," Dery tidak ingin sang suami akan membuat ulah di mall nanti.
"katanya kita mau bulan madu, jadi sebaiknya kamu selesaikan pekerjaan mu dulu," bujuk Dery.
"pekerjaan ku bisa diurus oleh Joe dan Zyan," tegas Rizal.
"sayang, jangan begitu, mereka memang asisten mu, tapi jangan selalu memerintah mereka."
"lalu apa gunanya aku membayar mahal mereka, sayang," Rizal sudah menghentakkan kaki kesal.
iisshh pak tua ini makin hari tingkahnya makin persis dengan Ramon. batin Dery.
"baiklah aku kamu boleh ikut, tapi jangan buat ulah disana," Dery menaikkan sebelah alisnya.
"memangnya aku berulah apa?"
Tiba-tiba Ramon masuk kedalam kamar dan melompat diatas tempat tidur.
"Mama, aku ingin sekolah..." Ramon melompat-lompat senang.
"sayang, duduk sini," Dery meraih tangan Ramon lembut.
"Ramon ingin sekolah nak?"
Kini Ramon sudah duduk dipangkuan Dery, Rizal hanya menatap ibu dan anak ini bergantian.
"aku kan sudah besar mam, aku ingin sekolah."
"maafkan mama ya sayang, Mama melupakan pendidikan mu," Dery memeluk Ramon, merasa bersalah karena telah lalai dan mengabaikan pendidikan sang putra.
"kita akan, mencari sekolah untuk mu hari ini,"
Wajah Ramon berbinar, "apa Mama serius?" dia memeluk Dery dengan sangat erat, berkali-kali mencium wajah sang ibu.
"terima kasih, aku sayang Mama,"
Apa yang Ramon lakukan tentu saja membuat Dery merasa terharu.
"apa kamu tidak menyayangi Papa? kenapa hanya Mama yang dipeluk," Rizal pura-pura merajuk.
"tentu saja aku sayang pada Papa," Ramon juga memeluk Rizal.
"Mama dan Papa adalah segalanya bagi ku, terima kasih sudah menjadi orang tua terbaik," ucapnya polos.
Rizal dan Dery sampai berkaca-kaca, anak seusia Ramon sudah bisa mengungkapkan perasaannya.
Sungguh Ramon adalah anak yang pandai, dia sama sekali tidak manja, bahkan selama dia menjadi anak adopsi Dery,
dia tidak pernah sekali pun merepotkan Dery atau keluarganya.
Justru dia selalu memaksa ingin membantu pekerjaan keluarganya.
.
Rizal memerintahkan Joe untuk mencari sekolah terbaik di kota ini.
Setelah urusan sekolah Ramon ia serahkan pada Joe, Rizal mengantar sang istri serta adik iparnya jalan-jalan ke mall.
__ADS_1
Dery ingin membelikan peralatan sekolah untuk sang putra.
Sudah di mall...
Dery sudah masuk kedalam salah satu toko perlengkapan sekolah, diikuti oleh Rizal.
Sedangkan Ramon dan Dena sudah berlari ke arena bermain.
Putranya itu sudah tidak sabar ingin bermain-main disana.
Saat Dery sedang memilih barang-barang yang cocok untuk putranya, Rizal menghampirinya.
"sayang,.."
"hmm.." Dery menoleh.
"Ramon besok sudah bisa sekolah, Joe sudah selesai mengurus semuanya." ucap Rizal.
Senyum Dery mengembang, "benarkah? cepat sekali," Dery memeluk Rizal erat, "Joe memang hebat," lanjutnya.
Mata Rizal melotot, dia mendongakkan wajah sang istri agar menatapnya.
"yang hebat itu aku, bukan Joe. Jika bukan karena perintah ku, maka tidak akan secepat ini, sayang," dia menakup wajah Dery dengan kedua tangannya.
"iya iya, kamu yang hebat, bukan Joe," manyun Dery.
begitu saja cemburu, dasar pak tua.
yang bergerak kan memang Joe, kau hanya memerintah saja. batin Dery kesal.
"jangan membatin atau mengatai ku sayang," bisik Rizal.
"ehh..."
"Ak..aku tidak mengatai mu sayang," elak Dery.
kenapa dia bisa tahu sih.
tapi Rizal mengibaskan tangannya mengusir para karyawan itu tanpa sepengetahuan Dery.
Dia tidak ingin Dery merasa tidak nyaman,
jika tahu semua orang hormat padanya, karena dia pemilik pusat perbelanjaan ini.
Acara belanja Dery sudah selesai, Ramon juga sudah puas bermain.
Kini mereka sedang duduk di restoran dalam mall, perut mereka sudah terasa sangat lapar.
Sebelum pesanan datang Dery pamit ketoilet,
Dery sedang merapikan rambutnya didepan kaca toilet, sampai dia menyadari orang yang baru saja keluar adalah orang yang sama yang menabrak putranya dulu.
wanita itu, dia kan yang...
Dery berlari cepat mengejar wanita itu.
"Tu..tunggu nona..."
Wanita itu berbalik, menatap Dery sinis.
"ya, ada apa?" ketusnya.
"nona yang waktu itu menabrak aku dan putra ku kan?" sopan Dery.
"kau masih ingat rupanya," wanita itu sungguh tidak bersahabat. "ada apa? apa putra mu itu sakit dan kau ingin aku mengganti rugi?" ketusnya.
"ahh, Bu..bukan itu nona, aku hanya ingin bertanya sesuatu." Dery mengeluarkan kalung milik Ramon.
"nona dulu bilang pernah melihat kalung ini kan? apa nona tahu sesuatu tentang kalung ini?" tanya Dery penasaran.
__ADS_1
Wanita itu tampak semakin murka,
"suatu saat kau akan tahu. sekarang minggir aku mau pergi. jangan buang-buang waktu ku percuma."
wanita itu berjalan meninggalkan Dery.
Sebentar lagi, aku akan menghancurkan mu. Jal*ng sialan. Gara-gara kau dan anak itu aku harus berjauhan dengan Rizal.
"ta..tapi nona aku hanya ingin tahu, tentang putra ku." Dery mencoba mencegah wanita itu. "lalu apa hubungan mu dengan tuan Rizal." teriak Dery lagi.
Membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
"jangan sebut nama Rizal dengan mulut kotor mu itu jal*ng sialan!!!" kemarahan terlihat jelas di matanya.
Dery hanya diam, dia tidak lagi mencegah kepergian wanita itu.
Apa salahnya,
kenapa wanita itu memaki dirinya.
Wanita itu adalah wanita yang sama yang menabraknya tempo hari, dan dia juga wanita yang ada didalam foto itu.
Dery kembali bergabung dengan suami, anak dan adiknya.
Tapi dia sudah kehilangan selera makan.
Dery memikirkan tentang kalung ini, Ramon dan wanita itu.
Hati Dery benar-benar gundah, dia ingin tahu siapa orang tua Ramon, apa hubungan Ramon dengan wanita itu.
Kenapa wanita itu sangat marah saat dia menanyakan soal kalung milik putranya.
Dery hanya melamun sejak pertemuan nya dengan wanita itu.
Hingga sampai dirumah, Dery masih saja diam.
Jiwanya ada bersama keluarganya, tapi pikirannya entah berlari-lari kemana.
Perubahan sikap Dery membuat Rizal heran,
Keceriaan sang istri mendadak lenyap entah apa sebabnya.
Dery sedang duduk ditepi ranjang kamarnya.
Masih sibuk memikirkan wanita itu, sampi Rizal mengagetkannya.
"sayang, kamu kenapa?" tanya Rizal lembut.
Dery hanya menggeleng, dia tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana.
"apa ada yang mengganggu pikiran mu," Rizal mengusap lembut wajah Dery. "aku suami mu sayang, ceritakan apapun masalah mu pada ku,"
Dery mendongakkan wajah menatap netra Rizal, "aku hanya memikirkan Ramon," lirih Dery.
"ada apa dengan Ramon, dia kan baik-baik saja,"
"Ramon baik, tapi aku takut jika suatu saat akan ada yang mengambil Ramon dari kita," Dery tpak menarik nafas dalam.
"memangnya siapa yang akan mengambil Ramon dari kita, hmm" Rizal memeluk Dery,
"Ramon itu putra kita, tidak akan ada yang bisa mengambilnya dari kita sayang, tenang lah,"
"jika orang tua kandung Ramon datang, tentu kita akan kalah sayang," mata Dery sudah berkaca-kaca.
"sssttt sudah tenanglah, aku akan pastikan Ramon tidak akan pergi dari kita, aku janji," ucap Rizal tulus.
Dia bisa dengan jelas melihat kegundahan hati sang istri.
Bagaimana pun juga Dery memang sangat menyayangi Ramon.
__ADS_1
Bersambung....