
Malam menjelang,
Kebahagiaan terpancar jelas diwajah orang-orang yang sedang mempersiapkan acara makan malam di taman belakang villa.
Ada yang sibuk membuat api unggun, menyiapkan makanan yang akan dibakar. Saling melempar guyonan agar suasana semakin hangat.
Disini lah Dery berada, wanita muda dengan status janda yang membuatnya sering diremehkan orang lain. Jika hanya sahabatnya yang menyinggung soal statusnya Dery tidak mempermasalahkan, dia anggap itu hanya guyonan, tapi jika orang lain yang meremehkan status yang dia sandang, itu bisa membuat Dery terbakar amarah.
Banyak pria brengs*k diluar sana yang sering berlaku kurang ajar karena status Dery yang seorang janda. Menganggap status janda adalah sebuah aib dan pantas untuk dilecehkan.
"udah siap nih yuk kita makan," Lidia meletakkan makanan diatas meja. "Dery, makan dulu dek," teriak Lidia pada Dery yang berdiri tepat di bibir danau.
"ya kak," berjalan mendekat. "hmm wangi banget, aku jadi laper," menatap banyaknya makanan diatas meja dengan aroma yang menggugah selera.
"mau makan apa der, gue ambilin ya?" Ikbal sigap meraih piring untuk Dery.
"jangan mesra-mesraan disini ada jomblo akut nih," Roby melirik Ikbal.
"iri? bilang bos," ketus Ikbal.
Dery sudah menikmati makanannya sambil memperhatikan pertengkaran sahabatnya. Hingga selesai makan malam keributan terus saja terjadi. Dery dan Lidia hanya bisa menggelengkan kepala.
Dery duduk menatap danau yang begitu tenang, membayangkan jika dirinya tinggal ditempat ini, rumah sederhana dengan halaman luas, serta udara yang masih sangat sejuk.
"ngelamun lagi," Ikbal duduk di sampingnya.
__ADS_1
"siapa yang ngelamun," ketus Dery.
"lah itu, kenapa diem aja?" Ikbal sengaja menyandarkan kepala dipundak Dery.
"gue gak ngelamun ya, gue cuma lagi bayangin aja kalau punya rumah disini, pasti adem banget deh haha," Dery mengacak-acak rambut Ikbal.
"kamu mau punya rumah disini? aku bisa bangun rumah buat kamu der," menatap mata Dery penuh kesungguhan.
"haha gue cuma ngebayangin doang, serius amat sih," Dery jadi salah tingkah saat Ikbal menatapnya seperti itu.
"kamu cantik," bisik Ikbal tepat ditelinga Dery,
"apaan sih Lo bal," sengaja memalingkan wajah, menghindari tatapan Ikbal.
Ikbal kenapa ngeliatin gue kayak gitu sih, dia gak punya rencana mau ngelamar gue lagi kan, ahh gue mana tega kalau musti nolak dia lagi.
"maksudmu?" menatap tajam Ikbal.
"iya maksud ku tuan Rizal, sudah lama aku gak liat dia. kemana perginya dia jah?" menggenggam erat tangan Dery yang berkeringat menahan amarah.
Ikbal melihat mata Dery berkaca-kaca "jangan bahas itu, aku..." kata-kata Dery terhenti saat bibir lembut Ikbal menyatu dengan bibirnya, Dery hanya melotot mendapat ciuman mendadak dari Ikbal.
"ssttt lupakan dia jika dia menyakiti mu, jangan lagi ada air mata yang keluar dari mata indah mu, aku tidak akan rela kamu disakiti oleh siapapun," ucap Ikbal mengusap bibir Dery yang basah karena ulahnya. "sekarang ayo masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan, jangan biarkan dinginnya angin menyapu kulit mu." Ikbal mengusap tangan Dery, menggandengnya masuk kedalam villa.
Entah apa yang terjadi, tapi Dery tidak bisa marah saat Ikbal mencium dirinya.
__ADS_1
kenapa gue gak bisa marah sama Ikbal, kok gue malah diem aja sih, padahal ikbal udah lancang cium gue.
"kalian dari mana?" Roby mengagetkan Ikbal dan Dery.
"dari danau jalan-jalan, kenapa?" kerus Ikbal.
"Lo gak diapa-apain sama kudanil ini kan jah,?" Roby mengelilingi Dery.
"eh gak kok, memangnya Ikbal bakal ngapain gue?" mendorong Roby duduk didepan TV.
"sapa tahu kampret ini bikin Lo nangis," Iwan ikut nimbrung.
"gue gak bakal bikin Dery nangis," sudah melotot dengan suara mencekam.
"udah ah, pada ngapain sih, gue masuk kamar dulu ya ngantuk banget." Dery berjalan menuju kamarnya.
Menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur.
Mencoba memejamkan mata, tapi bayangan Ikbal dan Rizal berkelebat dipikirannya.
Rizal, Ikbal kenapa bayangan mereka malah bikin gue gak bisa tidur sih.
.
bersambung....
__ADS_1
bantu like komen dan vote ya dear .❤😘