
Kehidupan malam,
di kota baru mulai bergeliat saat temaran senja memenuhi bumi. Banyak orang yang baru mulai mencari nafkah untuk keluarga mereka, contohnya warung-warung tenda sepanjang jalan, lampu-lampu jalan yang menyala terang pengganti matahari, membuat alam seakan tak pernah tidur.
Sebuah mobil mewah berhenti ditepi jalan raya, Dery meminta Joe berhenti sejenak,
saat pandangan mata Dery melihat seorang Kakek tua mendorong gerobak sederhana.
"Joe tolong panggilan Kakek penjual bakso itu?" pinta Dery,
Iba rasanya ketika melihat seorang kakek masih mengais rezeki untuk menyambung hidup,
seharusnya ia
menikmati masa tuanya dirumah bersama keluarga dan cucunya.
Joe membunyikan klakson, melambaikan tangan saat si Kakek menoleh padanya. Kepulan asap terlihat dari gerobak yang ia dorong dibawah terangnya lampu jalan.
"ya tuan" si Kakek mendekati mobil yang kacanya sedikit terbuka.
"Pak, bungkus kan semuanya, bagi dalam beberapa plastik ya,"
"semuanya?" mata tuanya tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang ada didalam mobil.
tidak mendengar bantahan dari pembelinya, si Kakek bergegas menuju gerobaknya, secepat mungkin membungkus semua dagangannya.
Berulang kali Kakek melihat kearah mobil, mobil masih berada ditempat tadi,
berarti dia tidak sedang bermimpi.
Mulutnya terus saja bergetar tanpa suara,
rasa syukur terus ia ucapkan.
Tadinya sudah ingin pulang karena dagangannya sepi,
tidak banyak yang membeli.
Si Kakek tergopoh membawa plastik-plastik ditangannya,
berjalan cepat mendekati mobil.
"terima kasih pak, taruh sini saja," Dery membuka pintu belakang mobil, lalu menyerahkan beberapa lembar uang.
"pulang dan istirahatlah pak, ini sudah malam.
udara malam tidak baik untuk kesehatan mu,"
Melihat lembaran uang yang diberikan Dery, membuat Kakek gemetaran, bahkan belum ia hitung.
__ADS_1
Saat akan mengucapkan terima kasih, sudah terdengar suara mesin mobil menyala.
Joe menjalankan mobilnya.
"Joe jika ada orang dipinggir jalan tolong berhenti ya, aku ingin membagikan bakso ini," Joe hanya mengangguk.
Tidak lama Joe berhenti saat melihat kerumunan orang yang hanya duduk-duduk di trotoar jalan,
sepertinya mereka pemulung yang sedang beristirahat.
"biar saya saja, nona duduk saja didalam mobil," Joe turun membawa bungkusan bakso,
membagikan pada pemulung yang tengah beristirahat disana.
Dery bisa mendengar ucapan terima kasih dan doa-doa yang tulus dari mereka.
Joe sungguh terenyuh menyaksikan sendiri bagaimana kebaikan hati Dery,
walaupun setelah banyak perubahan di hidupnya,
dia masih saja baik pada semua orang.
Dari kejauhan,
ada seseorang yang merasa terkejut, setelah memperhatikan mobil yang dari tadi ia ikuti
"kenapa Joe ada disini, bukankah Joe bilang mendapat tugas ke Kalimantan."
"siapa wanita yang ada bersama Joe,
kenapa Joe mengawasi rumah Dery."
Joe sudah selesai dengan bakso yang dibeli Dery.
Memutuskan segera kembali ke villa karena perjalanan masih panjang dan hari semakin malam.
Hampir empat jam,
akhirnya Joe sudah tiba divilla, disambut dengan senyum hangat Rizal.
Tanpa mereka sadari diseberang jalan ada sebuah mobil yang mengikuti mereka.
Melihat siapa yang keluar dari dalam mobil membuat darahnya mendidih,
benar dugaannya selama ini ternyata Dery masih hidup,
dan yang menyembunyikan Dery adalah Rizal.
Terlebih saat melihat Dery begitu akrab dengan Rizal,
__ADS_1
sesama lelaki dia bisa merasakan jika Rizal menaruh hati pada Dery.
"Jangan harap aku akan melepaskan kalian," emosinya tidak bisa lagi ditahan, berulang kali memukul kemudi.
Memutuskan untuk pergi dan menyusun rencana baru.
Dia tahu tidak akan mudah untuk melawan Rizal,
Kekuatan Rizal tidak bisa diremehkan, dia bisa berbuat apapun.
****
Didalam villa,
Rizal bisa melihat raut wajah bahagia, setelah Dery kembali dadmri rumah orang tuanya.
"kamu belum tidur?" Rizal duduk di depan Dery, yang masih sibuk menikmati dinginnya angin malam di taman belakang.
"eh, aku belum mengantuk kak, kenapa kamu juga belum tidur?" senyum manis Dery sukses membuat Rizal terpaku.
"entahlah, aku tidak bisa tidur mungkin karena kamu juga tidak tidur," Rizal masih terus memandangi Dery.
"kenapa melihat ku seperti itu? apa ada yang salah?" melambai-lambaikan tangan didepan wajah Rizal yang tidak berkedip.
"kamu cantik," tanpa sadar Rizal bicara keceplosan, membuat Dery terkikik geli.
"ternyata selain menyebalkan, kamu juga pandai merayu," tawanya pecah saat Rizal menampilkan wajah bodohnya. "apa aku ini kau jadikan bahan untuk berlatih merayu wanita? apa kau sedang jatuh cinta kak," Dery menggoyang lengan Rizal gemas.
"am itu eemm iya eh maksudnya tidak" Rizal benar-benar salah tingkah.
Dery tergelak hingga perutnya terasa sakit.
"sudahlah aku tidak ingin mengganggu orang yang sedang jatuh cinta, kamu lucu sekali kak, sumpah," terus tertawa menepuk-nepuk lengan Rizal gemas.
"ini sudah malam, ayo kita tidur" menggandeng Rizal masuk kerumah utama.
"besok cerita kan padaku siapa wanita beruntung itu, Ok," Rizal hanya tersenyum.
"sudah sana masuk kamar, tidurlah kamu pasti lelah. selamat malam," mengusap lembut pipi Dery, lalu berjalan ke ruang kerjanya.
"apa kakak, akan bekerja lagi? istirahatlah kak, jika nanti kamu sudah punya istri, tentu saja istri mu akan merajuk jika terus kakak tinggal kerja," teriak Dery sebelum masuk kedalam kamar.
"aku tidak akan menikah," balas Rizal lalu menghilang dibalik pintu.
Rizal merasa bahagia, saat Joe melaporkan apa yang Dery lakukan seharian tadi.
Terus saja mengagumi pribadi Dery,
walaupun sekarang lebih dingin dan judes pada orang yang baru dikenal,
__ADS_1
tapi hatinya masih hangat dan lembut pada setiap orang. Tidak akan tega melihat orang lain dalam kesusahan.
* cerita ini hanya fiktif* semoga kalian suka ya 🙏❤❤ jangan lupa like dan komen, terimakasih atas dukungan kalian, salam sayang.