
Setelah Dery menerima hadiah yang Rizal berikan,
Rizal memilih mengantarkan sendiri Dery pulang,
Rasanya tidak ingin waktu terlalu cepat berlalu.
"sudah sampai nona," Rizal membukakan pintu mobil untuk Dery.
"hahaha aku sudah seperti ratu saja," tertawa melihat sikap Rizal yang begitu memanjakannya.
"kau memang ratu dihatiku," batin Rizal.
"kita masuk kak, ayah dan ibu pasti senang bertemu dengan mu," menarik Rizal masuk kedalam rumah.
"Bu aku pulang," menerobos masuk kedalam rumah.
"nak Rizal," ayah yang sedang duduk bersantai diruang tamu berdiri menyambut Rizal.
"siang yah, apa kabar? maaf aku baru sempat mampir kesini hari ini," Rizal menjabat tangan pak Rahmat.
"kami sekeluarga baik nak, tidak apa-apa ayah tahu kamu pasti sangat sibuk," menuntun Rizal untuk duduk.
Dery menemui ibunya yang baru selesai membuat gorengan di dapur, memberi tahu jika ada Rizal. Ibu bergegas keluar.
"wah calon mantu ibu datang," ucap Ibu yang baru datang membawa minuman serta sepiring gorengan langsung tersenyum sumringah melihat Rizal.
Dery hanya melongo mendengar ibunya menyebut Rizal calon mantu, "yang benar saja ibu ini, aku kan jadi malu," menunduk kan kepala malu.
Rizal yang dipanggil calon mantu hanya tersenyum senang "apa ibu dan ayah menginginkan aku menjadi suami Dery, apa ini pertanda jika aku harus segera melamar Dery," senyumnya mengembang dengan wajah yang memerah.
Tidak lama ponsel Rizal berdering, menunjukan panggilan telepon dari Zyan. "maaf yah, Bu aku angkat telefon dulu." berjalan ke teras.
Dery bisa melihat air muka Rizal berubah menjadi tegang, tatapannya seakan bisa membunuh, Dery berjalan mendekatinya.
Setelah Rizal menutup sambungan telepon nya, Dery memberikan diri untuk bertanya.
"apa ada masalah kak? kenapa kakak sangat tegang?"
"ah itu hanya masalah biasa, aku harus kembali kekantor der, aku pamit pada ayah dan ibu dulu ya," berjalan masuk untuk berpamitan pada orang tua Dery.
Dery menarik tangan Rizal saat dia akan masuk kedalam mobil, "aku tahu kak ini bukan masalah kantor kan, jika ini hanya masalah pekerjaan kamu tidak akan semarah ini,"
Benar apa yang Dery ucapkan, Rizal memang tidak sedang ada masalah pekerjaan, tapi masalahnya adalah Marco.
"tenang lah, ini hanya masalah biasa, masuk dan istirahatlah. Besok kamu harus sudah bekerja keras mengelola cafe kan," Rizal mengusap pipi Dery lembut, menyalurkan rasa aman.
__ADS_1
Dery hanya mengangguk patuh, tersenyum hangat pada Rizal.
****
Markas besar Rizal.
Meski sudah tiga hari Marco mendapatkan siksaan tapi dia tetap saja tidak mau menyerah, dia terus saja berontak dan memanggil nama Dery. Mengumpat Rizal, Joe dan Zyan.
Joe tidak habis pikir pada Marco, apa dia benar-benar sudah sakit jiwa. Jika hukuman ini diberikan pada orang lain sekali saja pasti akan membuat orang itu menyerah.
"sepertinya hukuman ini terlalu ringan untuk mu ya?" menatap tajam tubuh Marco yang sudah lemas.
"kau pikir aku akan menyerah dan melepaskan istri ku semudah itu?" Marco menyunggingkan bibir. "tidak akan, Dery hanya milik ku selamanya akan jadi milik ku." tegasnya.
"nona sudah bukan lagi istri mu co," teriak Zyan jengah.
"aku tidak peduli, dia tetap istri ku," Marco terus memberontak.
Brakkk pintu terbuka, Rizal datang dengan amarah yang membara.
"tutup mulut mu bajing*n" plak tamparan keras merobek ujung bibir Marco " kau dan Dery sudah bercerai, Dery bukan lagi istri mu," mencengkram kuat baju Marco.
"jika kau tidak bisa berubah, baiklah." Rizal berjalan menjauh. "asingkan manusia terkutuk ini Joe, buat dia menyesali semua perbuatannya disisa hidupnya. Pastikan dia tidak akan pernah bisa keluar dari tempat pengasingan." suara Rizal benar-benar mencekam, Joe dan Zyan baru kali ini melihat Rizal begitu marah.
"brengs*k awas kau bajing*n akan aku bunuh kalian semua, tunggu pembalasan dari ku," sekuat tenaga meronta, saat para pengawal menyeret tubuh Marco keluar dari markas.
"kirim Daniel pada ayah, jangan sampai dia lepas," Rizal mencoba meredam amarahnya. Memerintahkan Zyan agar segera mengirim adiknya pada sang ayah.
Zyan mengangguk lalu pergi untuk mempersiapkan Daniel.
Aaaggrhhhh Teriakan Rizal memenuhi ruangan, ia memukul meja berulang kali, hingga tangannya berdarah, tapi Rizal sama sekali tidak peduli.
Orang-orang yang dia sayang dan percayai malah mengkhianati dan ingin menghancurkan kehidupannya. Terlebih mereka mencoba menyakiti wanita yang dia cintai.
Joe yang melihat kemarahan tuannya, bahkan tidak punya keberanian untuk mendekati Rizal.
****
Satu Bulan telah berlalu....
Kekacauan yang dilakukan Marco dan Daniel, sudah bisa diatasi oleh Rizal.
Kehidupan Dery juga sudah kembali seperti semula, kebahagiaan dan kasih sayang kini memenuhi hidup Dery, meski kini Dery terlihat lebih cuek dan keras tapi itu tidak menutupi kebaikan hatinya.
Kesibukan Dery mengelola Cafe R&D, tidak membuatnya lupa akan apa yang pernah terjadi, Dery lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengenali seseorang.
__ADS_1
Bukan maksudnya untuk berburuk sangka pada orang lain, tapi kejadian yang telah menimpanya membuatnya sadar jika tidak semua orang memiliki niat yang baik.
****
Siang menjelang,
Rizal yang sudah beberapa hari tidak bisa bertemu dengan Dery karena terlalu sibuk, memutuskan untuk menemui Dery di cafe.
"Joe kita ke cafe sekarang," Rizal membereskan berkas-berkas dimeja kerjanya. Joe yang berdiri dibelakang Rizal hanya mengangguk.
"tapi kita ada meeting setelah ini tuan," Zyan menghentikan Rizal.
"ck" Rizal berdecak kesal.
"apa tidak bisa ditunda dulu?" menjatuhkan diri di kursi kerjanya.
"untuk kali ini tidak bisa ditunda lagi tuan," Zyan memijat pelipisnya.
"baiklah," bangun dari duduknya berjalan menuju ruang meeting.
Joe dan Zyan saling lirik "sepertinya tuan sangat merindukan nona, kenapa tidak kau usulkan untuk melamar nona saja," bisik Joe pada Zyan. Yang dibisiki melotot kesal.
"kenapa bukan kau saja," berjalan cepat mengikuti Rizal yang sudah lebih dulu.
"tuan terlalu gengsi mengatakan jika dia sangat mencintai nona Zy, kalau tuan segera menikah dengan nona kita tidak akan dibuat kalang kabut karena kerinduan tuan pada nona, mereka akan setiap hari bertemu." bisik Joe sambil terkikik.
"diam kau brengs*k, jika tuan dengar habis kau, kalau berani katakan saja sendiri pada tuan," Zyan sangat kesal.
"kau pikir aku tidak berani? lihat saja nanti," satu pukulan Joe mengenai lengan Zyan.
"Heeii apa yang kalian bicarakan, cepatlah," teriak Rizal.
Joe dan Zyan mempercepat langkah kakinya.
"kenapa tuan tidak melamar nona saja?" Joe memberikan diri bicara pada Rizal.
Zyan hanya menggeleng tidak percaya, Joe benar-benar bicara seperti itu pada Rizal.
Mendengar usul Joe, Rizal menepuk pundak orang kepercayaannya itu.
"kau benar Joe, Zy kau bisa siapkan sebuah cincin untuk Dery? aku akan melamarnya besok." Rizal sangat bersemangat.
Zyan mengangguk, dia pikir Rizal akan marah pada Joe, tapi justru sebaliknya. Saat dia melirik kearah Joe dengan bangganya Joe mengacungkan jempol.
bersambung......
__ADS_1