Janda Judes

Janda Judes
88 Pulang,


__ADS_3

Rizal masih setia duduk disamping Dery, meski Dery tidak sekali pun mau berbicara dengannya, dan lebih memilih memalingkan wajah atau tidur.


aku tau kamu marah pada ku der, tapi aku akan berusaha meyakinkan mu jika aku sangat menyesal telah membuat mu terluka.


Tidak lama Joe masuk diikuti dokter Ilham dan beberapa perawat, memberitahukan jika Dery sudah bisa pulang, semua keperluan sudah selesai diurus.


Dery sudah siap untuk pulang, meski dokter memaksa Dery untuk pulang dengan ambulans tapi Dery kekeh tidak ingin pulang dengan ambulans, akhirnya tim dokter dan Rizal menyerah tidak mau memaksa Dery.


.


Sudah dirumah, semua orang menyambut kepulangan Dery, kamar Dery sudah disulap bak ruang perawatan dirumah sakit, tersebut banyak perlatan medis, antisipasi jika kondisi Dery menurun lagi.


"yah aku ingin tidur, bisa kah kalian keluar?" Dery sudah berada didalam kamarnya, rasanya enggan berlama-lama didekat Rizal.


"baiklah, istirahat yang cukup agar kesehatan mu lekas pulih,"


Rizal juga ikut keluar bersama ayah dan dokter Ilham, dia menyadari jika Dery masih sangat marah padanya.


Tinggal Dery sendiri didalam kamar, air mata nya meleleh mengingat apa yang Rizal lakukan padanya dulu.


setelah apa yang Lo lakuin, Lo dateng kesini dan memperlakukan gue kayak gini. apa lo pikir gue gak punya perasaan, sakit hati gue gak akan semudah itu terobati.


Dadanya terasa sangat sesak Dery terisak hingga ia tertidur.


Rizal masuk ke kamar Dery sebelum ia kembali ke kantor.


"aku harus kekantor dulu, aku harap kamu cepat pulih, jika nanti pekerjaan ku selesai lebih awal, aku pasti kesini lagi, cepat sembuh ya nona," satu kecupan lembut Rizal bubuhkan pada kening Dery.

__ADS_1


Pandangan Rizal menyapu seluruh wajah Dery, melihat sisa air mata diujung mata Dery.


apa kau menangis? maafkan segala kesalahan ku pada mu der, aku akan berusaha menebus semua nya, aku mencintaimu.


Rizal berjalan keluar kamar dengan perlahan, agar tidak membuat Dery terbangun.


"yah, aku pergi dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, jika ada sesuatu langsung hubungi aku ya yah,"


"hati-hati dijalan nak, maaf ayah dan ibu selalu merepotkan mu,"


"ibu, Rizal pamit ya," Rizal mencium tangan ayah dan ibu Dery, lalu pergi bersama Joe dan Zyan.


.


Didalam mobil,


apa Dery akan mau memaafkan kesalahan ku, atau malah akan semakin membenci ku.


"tuan," lamunan Rizal dikagetkan oleh suara Zyan.


"hmm,"


"apa tuan sedang memikirkan nona?"


"yaa, begitulah," Rizal menarik nafas dalam "apa dia akan memaafkan ku, sejak dia bangun dari komanya sekalipun dia tidak berbicara dengan ku," keluh Rizal.


"nona pasti akan memaafkan tuan, nona hanya perlu sedikit waktu lagi," Zyan mengerti apa yang Rizal rasakan.

__ADS_1


"ya, mungkin Dery hanya butuh waktu untuk memanfaatkan ku," Rizal memejamkan.


Merasai kegundahan hatinya, apapun yang Dery lakukan padanya sekarang karena kebodohan yang Rizal lakukan waktu itu.


.


Hari begitu cepat berlalu, satu Minggu sudah Dery pulang dari rumah sakit, dia sudah lebih banyak beraktivitas.


Melakukan apa saja yang membuatnya bahagia.


Dokter Ilham juga sudah tidak lagi datang kerumah sejak kemarin, dia bilang Dery sudah pulih tapi masih harus meminum obatnya dan kembali mengecek kondisinya satu Minggu lagi.


Hari ini Dery berencana akan datang ke cafe, sudah lama dia tidak mengontrol cafe secara langsung.


"kamu mau kemana nak, kok sudah rapi pagi-pagi gini," ayah sedang minum kopi diruang makan, menatap heran putrinya yang sudah rapi.


"aku mau ke cafe yah," santai Dery.


"kamu itu baru saja sehat kenapa malah langsung kerja," ayah mengusap pucuk kepala anaknya.


"aku jenuh dirumah terus, yaudah ya yah aku pergi dulu, Bu aku jalan," Dery beranjak pergi.


Pak Rahmat hanya geleng-geleng kepala, tanpa mampu mencegah putrinya pergi.


Anak itu memang benar-benar keras kepala, baru saja sembuh sudah pergi bekerja.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2