
Siang hari,
Semua orang tengah mengistirahatkan diri dari kegiatan mereka masing-masing,
Tapi tidak dengan Rizal, kini dia dan dua asistennya tengah berada di rumah sakit milik Arandra group.
Menunggu sebuah bukti tentang kejahatan seseorang yang ingin menghancurkan pernikahannya.
Dokter Ilham masih harus menyelesaikan pekerjaannya, jadi Rizal menunggu dengan gelisah di ruang khusus yang disediakan untuk pemilik rumah sakit ini.
"Apa hasil tes nya sudah keluar?" tanya Rizal yang sejak tadi terlihat kesal.
"sudah tuan, tapi saat saya tanyakan pada petugas laboratorium, hasil tesnya sudah diambil dokter Ilham." jelas Joe.
"kenapa?"
"entahlah tuan," Joe juga tidak mengerti kenapa hasil tes itu diambil oleh dokter Ilham.
Hampir tiga puluh menit Rizal menunggu di ruangan itu.
Wajah tampannya kini berubah kesal.
Terlihat jelas jika dia menahan amarah.
"panggil Ilham sekarang, atau akan aku pecat dia sekarang juga." tegas Rizal.
Zyan sudah akan bergerak saat pintu didorong oleh dokter Ilham.
"berani-beraninya kau membuat ku menunggu selama ini, harusnya sekarang aku ada dirumah dan menikmati makan siang bersama istri ku." Rizal sudah menendang kaki Ilham yang baru saja duduk di dekatnya.
"auuwwhh..." Ilham tampak meringis.
"jangan terus-terusan marah tuan,"
Rizal hanya melirik kesal pada Ilham.
"katakan apa yang ingin dokter bicarakan dengan tuan," Joe sudah terlihat tidak bersahabat.
Ya begitulah Joe, jika tuannya itu kesal dia juga akan ikut kesal.
Ilham meletakkan hasil tes DNA tepat di depan Rizal.
"apa ini tuan?" Ilham bertanya serius.
Kemarin saat dia baru saja mulai bekerja setelah cuti bulan madu, dia disuguhi berita yang membuatnya senang sekaligus kesal.
Seorang dokter kandungan datang ke ruangan nya, memberitahu kan jika istri Rizal tengah hamil, dan tuan Rizal juga melakukan tes DNA pada janin di kandungan wanita lain.
Mendengar itu semua, membuat Ilham sangat marah dan kecewa.
Bagaimana bisa sahabatnya itu mempermainkan sang istri yang tengah mengandung anak mereka.
Ilham pikir Rizal telah bermain gila dengan wanita lain. Dia tidak tahu jika wanita itu adalah Monica,
mantan kekasih Rizal yang telah mengkhianati nya dengan sang adik tiri.
"kenapa kamu mengambil hasil tes ini tanpa seizin ku, Ilham."
__ADS_1
"aku tidak habis pikir dengan mu, bagaimana kau bisa bermain gila dengan wanita lain, dan sekarang kau melakukan tes DNA." Ilham menggelengkan kepala.
"kakak ipar kurang apa tuan? dia cantik baik lembut dan sangat mencintai mu,"
Rizal hanya santai menanggapi ocehan Ilham, dia sudah menduga jika orang lain tahu tentang ini, mereka pasti akan menduga jima dirinya telah berselingkuh.
"sudah?" santai Rizal, menyilangkan kakinya.
"apa aku boleh bicara sekarang?" Ilham hanya diam.
"tes itu adalah bukti bahwa aku tidak pernah dan tidak akan pernah mengkhianati istri ku." tegas Rizal.
"yang sebenarnya terjadi adalah, wanita sialan itu berhasil menjebak ku menjelang hari pernikahan ku, lalu beberapa waktu yang lalu dia datang kerumah, dan menunjukkan bukti foto ku dan dia sedang bercumbu diatas ranjang. Dia juga bilang pada Dery jika dia sedang hamil, dan ingin meminta pertanggung jawaban. Oleh sebab itu Dery meminta bukti tes DNA ini,"
Ilham melotot mendengar cerita Rizal. "bagaimana kau bisa terjebak?"
"entahlah, waktu itu aku sedang lengah,"
"bukalah," Ilham mempersilakan Rizal membuka amplop itu, dia juga ingin tahu apa hasil tesnya.
Rizal meraih amplop itu, membukanya dengan tidak sabar.
Membacanya dengan teliti.
"yes" Rizal mengepalkan tangan senang.
Melihat kelegaan diwajah Rizal, semua orang yang ada disana bisa menebak apa hasil tes itu.
"Joe, Zy, ayo kita pulang, Dery harus tahu ini semua. Jadwalkan ulang rencana bulan madu ku." ucap Rizal bersemangat.
Dia sudah bangkit, menepuk pundak Ilham sebelum beranjak keluar ruangan.
"ada hal yang ingin aku ucapkan," mendekati Rizal, lalu memeluknya erat.
"selamat ya tuan, kau sungguh hebat," Ilham menjabat tangan Rizal.
Wajah Rizal tampak bingung, tidak tahu apa yang dimaksud Ilham.
"selamat untuk apa?"
"jangan pura-pura tuan, aku turut bahagia dengan kabar ini," berkali-kali Ilham memeluk Rizal.
"iya aku tahu kau bahagia karena aku bisa membuktikan bahwa aku pria yang setia, tapi jangan berlebihan seperti ini," Rizal mendorong Ilham menjauh.
"Ck, ini bukan soal tes DNA itu tuan, aku bahagia karena tuan akan segera menjadi ayah," ucap Ilham dengan senyum merekah.
"apa kau ini bodoh, wanita itu tidak mengandung anak ku, hasil tesnya tidak cocok," Rizal mulai tersulut emosi, dia kesal karena dia pikir Ilham memberi selamat atas kehamilan Monica.
"yang bilang kau akan menjadi ayah dari wanita sial itu siapa tuan, apa kau tidak tahu jika kakak ipar sedang mengandung saat ini,"
Rizal diam mematung mencerna kalimat yang keluar dari mulut Ilham.
"me..mengandung? istri ku mengandung?" Rizal bahkan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"jangan bercanda, ini tidak lucu."
"apa nona belum memberitahu mu tentang kehamilannya?" Ilham merogoh saku jasnya, mengeluarkan beberapa foto usg dan laporan tentang kehamilan Dery.
__ADS_1
"ini, ini hasil pemeriksaan nona tempo hari,"
Rizal membacanya dengan teliti, melihat dengan seksama hasil usg sang istri.
Rizal berbalik berlari secepat mungkin, dia ingin segera tiba dirumah.
Joe dan Zyan bahkan kewalahan mengejar Rizal sampai ditempatnya memarkirkan mobil.
"cepat jalankan mobilnya, aku ingin segera bertemu dengan istri ku," titah Rizal, wajahnya sangat bahagia saat ini.
Sepertinya hari ini adalah hari yang sangat istimewa baginya.
Selain dia bisa membuktikan bahwa dia tidak bersalah, dia juga baru saja tahu jika istrinya tengah mengandung.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Rizal tidak henti-hentinya mengucapkan syukur dan menciumi hasil foto usg yang menampilkan benih cintanya di rahim sang istri.
Zyan dan Joe juga terlihat sangat bahagia, mereka akan segera mendapatkan keponakan baru.
Rumah akan ramai dengan teriakan dan tangisan anak-anak nanti.
Sudah dirumah...
Rizal berlari cepat masuk kedalam rumah, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Dery.
Ceklek
"sayang..." Rizal masuk kedalam kamar Dery.
Rizal tidak melihat sang istri disana, dia mencari disemua sudut kamar tapi tidak menemukan Dery.
Rizal berlatih ke kamarnya.
Dia juga tidak menemukan keberadaan Dery disana.
Rizal menuruni tangga, menemui pak Burhan yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.
"Pak, Dimana istri ku?"
"tu..tuan sudah pulang,"
"dimana istri ku pak," ulang Rizal tidak sabar.
"nona tadi pergi dengan terburu-buru tuan, saat saya coba kejar nona sudah melajukan mobilnya dengan cepat." Pak Burhan tampak gugup.
"apa tidak ada yang mendampingi dan mengawalnya?"
"saya sudah meminta empat orang pengawal untuk mengikuti mobil nona,"
"Ck, haahh." Rizal mendesah kesal.
Rizal mencoba menghubungi ponsel Dery, tapi tidak ada jawaban.
Joe juga berulang kali menghubungi pengawal yang mengikuti kepergian Dery, tapi juga tidak ada jawaban.
Zyan berinisiatif menghubungi Fia, asisten Dery, tapi juga tidak bisa, bahkan sampai menghubungi telepon cafe, sama saja tidak ada jawaban sama sekali.
Rizal menjadi sangat khawatir, dia takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada istri dan anak dalam rahimnya.
__ADS_1
Bersambung...