
Ting....Tong....
Terdengar bunyi bel, hingga menghentikan kegiatan orang yang berada dalam apartemen.
Bu Ratih yang tengah duduk diruang tv bersama dengan Ramon langsung bangun dan berjalan kearah pintu.
Ceklek...
Suara pintu terbuka, Ibu Ratih melihat dua orang berdiri didepan pintu apartemennya.
"ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Ratih ramah.
"kami dari Butik X, kami diperintahkan oleh tuan Rendy untuk mendadani istrinya, nyonya," jelas pelayan butik itu.
"oh.." Bu Ratih berohoria.
"mari silahkan masuk," ucapnya ramah.
Dua orang itu mengangguk lalu mengikuti langkah tuan rumah.
Setelah mempersilahkan tamunya duduk, ibu Ratih menghampiri Dery yang masih berkutat didapur.
"Dery, sayang..."
"ya Bu, ada apa?" Dery mengalihkan perhatiannya pada ibu Ratih.
"ada tamu sayang," Bu Ratih mengusap pucuk kepalanya. "temui mereka,"
"aku kan tidak punya kerabat dan teman disini Bu, lalu kenapa ada orang yang mencari ku?" tanya Dery kebingungan.
"mereka itu suruhan Rendy sayang, bukankah kamu sudah berjanji akan menemani putra ibu itu datang ke pesta pernikahan bosnya," Bu Ratih mencolek dagu Dery gemas.
"apa kamu sudah lupa?"
Dery menepuk-nepuk keninganya, "astaga, aku lupa Bu, baiklah aku akan menemui mereka." Dery bangkit dari duduknya, berjalan cepat menemui dua orang yang tengah duduk di ruang tamu.
"selamat sore," sapa Dery ramah.
"Selamat sore nona," mereka bangkit dari duduknya membungkuk sopan.
"hei, jangan seperti itu, duduklah," Dery mempersilahkan mereka untuk duduk kembali.
Astaga, inikah istri tuan Rendy, dia cantik dan sangat sopan. batin pelayan butik.
"apa itu?" tunjuk Dery pada gaun yang mereka bawa.
"ini gaun untuk nona, tuan Rendy meminta kami datang untuk mempersiapkan nona," jelasnya.
"oh.." Dery hanya mengangguk.
"bisakah kita mulai sekarang saja, nona?"
"tentu, kita pindah ke kamar ku saja ya," Dery berjalan menuju kamarnya, diikuti oleh dua orang utusan Rendy.
Mereka tidak henti-hentinya mengagumi sosok Dery yang begitu baik dan sopan, baru kali ini mereka diperlakukan sangat baik.
Biasanya jika ada orang kaya yang menyewa jasa mereka, pasti mereka akan diperlakukan seenaknya.
tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka mempersiapkan Dery, sebab pada dasarnya Dery memang sudah cantik, jadi tidak butuh banyak polesan makeup.
__ADS_1
"nona, silahkan pilih sepatu yang membuat nona nyaman," pinta pelayan yang sudah duduk tepat di depan Dery.
"bangun lah jangan duduk disitu," Dery menarik lembut tangan pelayan wanita yang sedang memegang kakinya.
"emm... aku pilih yang ini saja," Dery meraih satu sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi, dengan warna senada dengan gaunnya.
"apa ini cocok?" tanya Dery.
"nona terlihat sangat sempurna," puji kedua orang itu.
"jangan berlebihan," ucap Dery. "ini semua karena gaun mahal dan riasan kalian,"
"nona memang sudah cantik, mau memakai pakaian apapun akan tetap cantik, beruntung sekali tuan Rendy bisa memiliki istri secantik dan sebaik nona," Dery hanya tersenyum tipis menanggapi celotehan dua wanita didepannya.
"Ekheem.." suara deheman Rendy membuat dua wanita ini terlonjak kaget.
"apa semuanya sudah selesai?" tanya Rendy.
"su...sudah tuan," jawab seorang pelayan gugup. Jantung mereka seakan mau lepas saat melihat Rendy berdiri di ambang pintu.
"baiklah," Rendy mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. "ini bonus untuk kalian, sekarang kalian sudah bisa pergi," titah Rendy.
"baik tuan," mereka menunduk hormat.
"terima kasih ya," sebelum mereka benar-benar keluar dari kamar, Dery sudah bangun dan memeluk mereka hangat. "jangan takut pada kak Rendy, dia memang seperti beruang kutub, tapi dia baik kok, " bisik Dery.
"Dery, jangan mengatai ku," Dery hanya terkekeh mendengar peringatan dari Rendy.
"kakak ini selalu saja tau," Dery melepaskan pelukannya pada dua pelayan itu, lalu berbalik menatap Rendy.
"kami permisi tuan, nona,"
Sedangkan Rendy hanya menatap tingkah Dery.
Benar apa kata mereka, jika kau ini memang sangat cantik dan juga baik, sangat beruntung pria yang berhasil mendapatkan cinta mu. batin Rendy.
"kak?" Dery menggoyangkan lengan Rendy yang sedang melamun. "kenapa melamun?"
"ck... memangnya siapa yang melamun, ayo kita juga harus segara berangkat," Rendy menarik lembut tangan Dery.
"ibu, Ramon kami pergi dulu ya," mereka menghampiri ibu dan Ramon yang sedang asik menonton TV.
"oke uncle, jaga mama baik-baik ya," ucap Ramon tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
"apa kau mau dibawakan sesuatu saat kami pulang nanti?" tanya Rendy sambil membelai pucuk kepala pria kecil itu.
"emm...aku hanya mau uncle bawa kebahagiaan untuk mama," ucap Ramon dengan senyum tulus.
"anak mama," Dery langsung memeluk Ramon dengan sayang. "mama akan bahagia asalkan selalu bersama mu,"
"aku akan selalu bersama mama, sampai kapan pun,"
"apa kalian akan terus memeluk seperti itu?" ucap Rendy sambil mencibikkan bibirnya. "kita bisa terlambat nanti," ia menunjuk-nunjuk jam di pergelangan tangannya.
"baiklah, mama dan uncle boleh pergi," Ramon mencium pipi Dery dan juga Rendy bergantian. "hati-hati dijalan mam, uncle,"
"oke boy," Rendy mengerlingkan sebelah matanya pada Ramon. "kami pergi ya Bu,"
"hati-hati dijalan ya, jaga Dery dengan baik nak," ucap Bu Ratih.
__ADS_1
Rendy berjalan santai, agar Dery tidak kewalahan mengikuti langkah kakinya.
Berulang kali Rendy mencuri pandang pada Dery yang berjalan tepat disampingnya.
"kak, apa ini semua kakak yang memilihkan untuk ku?" tanya Dery.
"iya, apa kau suka?"
"tentu saja suka, selera fashion mu sungguh luar biasa," puji Dery. "tapi kenapa kakak bisa pas sekali memilihkan gaun untuk ku?" sambungnya.
"tadi aku menunjukkan foto mu pada pelayan butik, jadi mereka memilih gaun yang pas untuk mu," santai Rendy.
"aku kira kakak memang sudah biasa memilih baju untuk kekasih Kakak," seloroh Dery.
Rendy hanya melirik sekilas tanpa mau menanggapi ocehan Dery.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Dery hanya duduk sambil mendengarkan musik, beberapa kali dia ikut bernyanyi mengikuti suara musik yang mengalun memenuhi mobil.
Rendy sendiri hanya fokus dengan kemudinya, sesekali tersenyum geli saat Dery bernyanyi sambil menggerakkan kedua tangannya.
.
Sudah di hotel....
Rendy sengaja menggandeng tangan Dery, ia tidak ingin Dery berada jauh dari dirinya.
"disini akan sangat ramai, jadi jangan jauh-jauh dari ku," bisik Rendy.
"iya kak, lagipula aku kan bukan anak kecil," jawab Dery santai.
"kau memang bukan anak kecil, tapi jika kau terpisah dari ku akan banyak bahaya yang akan mengintai mu," Rendy sengaja menakut-nakuti Dery agar dia tidak bertindak ceroboh.
"aku tidak akan kemana-mana kak, aku akan selalu barada disamping mu," bisiknya.
"good girl," Rendy tersenyum hangat, ia menuntun Dery memasuki ballroom hotel tempat acara resepsi bosnya.
Beberapa orang menunduk hormat saat Rendy melewati mereka.
Rendy menyadari beberapa anak buahnya menatap Dery dengan wajah heran, tapi tatapan tajam Rendy membuat mereka menunduk seketika.
Didalam Ballroom sudah dipenuhi oleh tamu-tamu undangan dan keluarga bosnya.
Dery yang tidak mengenal seorangpun disana, hanya bisa menggerutu kesal pada Rendy.
"kau duduklah disini sebentar, aku akan menemui seseorang, jangan pergi kemana-mana," titah Rendy.
"baiklah," jawab Dery.
Ia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang disekitarnya.
Sesekali ia memainkan ponsel untuk menghilangkan jenuh, sudah hampir 15 menit berlalu tapi Rendy masih belum kembali.
Saat sedang sibuk dengan game di ponselnya, entah mengapa tiba-tiba ia merasakan desiran aneh dalam dadanya.
Ada perasaan berbeda yang dia rasakan, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ada rasa sesak yang entah apa sebabnya.
Dery bangun dari duduk, matanya menatap sebuah pintu yang terbuka lebar, ia melangkahkan kaki keluar dari keramaian ruangan itu.
Dia hanya ingin menghilangkan rasa aneh yang muncul dalam dadanya saat ini.
__ADS_1
Bersambung.....