Janda Judes

Janda Judes
Pria Botak Buncit 2


__ADS_3

Kota S...


Dery sedang duduk termenung diruang tamu, beberapa kali ia melihat kearah jam dinding di ruangan itu.


Ibu Ratih dan Ramon yang juga duduk disana sampai menggelengkan kepala akan tingkah Dery.


"ibu... apa Rendy akan pulang telat hari ini," Dery sudah menanyakan hal ini lebih dari lima belas kali.


"tunggulah sebentar lagi sayang..." ucap Bu Ratih lembut,


Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan Dery dan Ramon, ibu Ratih sudah sangat menyayangi mereka.


Ada rasa yang berbeda di hati ibu Ratih, dia akan ikut merasakan sakit jika melihat Dery atau Ramon menangis, dan akan sangat bahagia saat mereka tersenyum senang.


"Mam, kenapa tidak hubungi saja uncle Rendy," ucap Ramon polos.


"aahh iya, kenapa tidak kepikiran dari tadi ya," Dery manggut-manggut, lalu meraih ponsel dan mendial nomor Rendy.


Tut...Tut...


Rendy tidak mengangkat panggilan nya, tapi Dery sama sekali tidak menyerah.


Sampai panggilan yang ke lima akhirnya Rendy mengangkat teleponnya juga.


"ya..ada apa nona.." ucap Rendy dengan malas dari seberang sana.


"pulang lah sekarang Rendy," Rajuk Dery.


Rendy terdengar menghela nafas panjang, "kenapa? aku kan sudah berjanji akan membawa pesanan mu, jadi jangan mengganggu ku dulu, oke,"


"tapi aku ingin mencari pria itu bersama mu, jadi pulanglah sekarang, antar aku mencari pria botak dan buncit itu," Dery tidak mau mendengar Jawaban Rendy dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Ibu Ratih hanya terkikik geli mendengar percakapan putranya dan juga Dery.


"Dery.." panggil Bu Ratih.


"ya Bu.."


"kau tahu...dulu saat aku mengandung, sama persis seperti dirimu," Bu Ratih tersenyum mengingat kenangan indah dimasa lalunya.


"benarkah Bu? memangnya apanya yang sama persis Bu?" tanya Dery antusias.


"ngidamnya, ibu dulu juga mengidam yang aneh-aneh, dan sama persis seperti saat kamu mengidam ini," Bu Ratih mengusap-usap perut Dery yang masih rata.


Lalu mengusap sudut matanya yang sudah berair.


tapi kebahagiaan ku tidak bertahan lama nak, aku kehilangan semuanya saat putra ku masih sangat kecil. Bu Ratih tersenyum getir.


"ibu menangis?" Dery mengusap pipi wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya ini.


"tidak sayang, ibu sangat bahagia saat ini, berkat diri mu dan Ramon keluarga ibu menjadi terasa sangat lengkap," ucapnya.


Dery memeluk hangat ibu Ratih, begitu juga Ramon.


Mereka sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang yang sangat baik seperti ibu Ratih.

__ADS_1


Jika saja bukan Rendy yang menemukan dirinya, mungkin dirinya dan Ramon sudah sangat terlantar saat ini, dan anak dalam kandungannya entah apa yang akan terjadi.


Dery terus menyandarkan kepalanya pada pundak Bu Ratih, dan Bu Ratih juga memeluk pundak Dery dan Ramon sangat erat.


Ekhemm...


Suara deheman keras mengagetkan mereka,


"apa hanya Dery dan Ramon saja yang akan ibu peluk terus?" suara bariton Rendy terdengar kesal.


Tanpa menunggu jawaban, Rendy langsung duduk didepan ibunya, lalu menyandarkan kepalanya pada pangkuan sang ibu.


"iishh, kau ini manja sekali tuan," ejek Dery.


"kenapa? aku juga ingin dipeluk," jawabnya cuek.


Jika orang lain melihat kejadian ini, sudah dipastikan mereka akan mengira mereka adalah satu keluarga bahagia.


"Rendy, sudah peluknya," Dery memanyunkan bibirnya, "ayo kita jalan sekarang, mencari pria botak dan buncit itu," Dery sudah bangkit dari duduknya dan menarik Rendy.


"iya..iya," dengan langkah gontai Rendy mengikuti Dery dari belakang.


"ibu, Ramon aku pergi dulu ya," Dery melambaikan tangan, sebelum meninggalkan apartemen.


Kini Dery sedang sangat bersemangat, ia sudah tidak sabar untuk mengusap kepala pria botak dengan perut buncit itu.


.


Sudah didalam mobil...


Rendy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, memberikan ruang agar Dery bisa melihat disekitar jalanan.


Rendy hampir saja putus asa, dan memutuskan untuk pulang.


Sampai Dery berteriak kegirangan, saat melihat pria dengan kepala yang botak licin dengan perut yang sangat buncit.


"Aku mau pria itu Rendy, aku mau itu.." seru Dery dengan sangat bersemangat.


Rendy akhirnya menghentikan mobilnya dipinggir jalan, lalu memperhatikan apa yang Dery lihat.


Mata Rendy membelalak, saat melihat pria yang dimaksud Dery adalah seorang anggota polisi yang memakai seragam lengkap.


"Rendy, ayo turun aku mau pria itu," rengek Dery dengan menghentakkan kaki, seperti anak kecil yang meminta dibelikan es krim.


Glupp


Rendy dengan susah payah menelan savilanya. "apa tidak ada pria lain Dery," Rendy memperhatikan polisi itu, "lihatlah, dari wajahnya saja sudah terlihat dia itu sangat galak," ucap Rendy.


Sebenarnya dia tidak takut, hanya saja Rendy merasa enggan meminta bantuan pada anggota polisi.


Entah kenapa, sejak kecil Rendy begitu tidak suka pada polisi.


"tidak, aku mau pria itu, cepat turun sekarang atau aku akan menangis dan berteriak," ancam Dery, tapi Rendy justru malah tertawa melihat tingkah Dery.


"silahkan saja..." cuek Rendy.

__ADS_1


Merasa ancamannya tidak dihiraukan oleh Rendy, dengan segera Dery meraih ponsel dan mendial nomor apartemen. "ibu.." suara Dery dibuat sangat sedih. "Rendy tidak mau...eemmm." belum selesai Dery berbicara, Rendy sudah membekap mulutnya.


"jangan coba-coba mengadu pada ibu," bisik Rendy.


"iisshhh..." Dery mengibaskan tangan Rendy, "tangan mu itu sangat bau," ketusnya, "kau mau turun dan meminta pria agar mau aku usap kepalanya atau aku telepon ibu,"


Huuhh..


Rendy menarik nafas panjang, lalu segera turun tanpa mau menjawab ancaman wanita hamil ini.


Rendy sudah terlanjur berjanji pada sang ibu agar mau membantu dan memenuhi segala yang diinginkan Dery.


Dengan senyum sumringah Dery, memperhatikan setiap gerakan Rendy.


Dia benar-benar menghampiri pria itu.


Tampak jelas saat Rendy mulai bicara pria itu melotot tidak suka pada Rendy.


Dengan cepat Dery turun dari mobil dan mengendap-endap, agar bisa mendengarkan semua percakapan Rendy dengan pria itu.


"tolonglah pak, istri ku sedang mengandung," ucap Rendy dengan nada memelas.


"kau pikir kepala ku ini mainan yang bisa diusap orang seenaknya." bentak pria berseragam polisi itu, Dery bisa mendengar beberapa rekan polisinya terkikik geli.


"bukan begitu maksud saya pak, tapi istri ku itu sangat ingin anak kami nanti menjadi polisi yang gagah dan tampan seperti bapak," rayu Rendy.


"sudahlah, bantu saja dia, kasihan jika istrinya yang sedang mengidam itu tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya," bujuk rekan seprofesi pria itu.


Pria itu menatap tajam pada Rendy. "panggil istri mu kemari," ketusnya.


"aku sudah disini pak," Dery tersenyum ramah pada para polisi yang sedang berdiri bersama Rendy.


Ia berjalan dengan hati-hati mendekati mereka.


"apa aku boleh mengusap kepala bapak?" tanya Dery dengan sopan. Sedangkan Rendy sudah merasa cemas jika nanti Dery akan mendapatkan penolakan dari pria ini atau malah akan dibentak olehnya.


Tanpa disangka-sangka, pria itu menundukkan kepalanya, agar Dery bisa mengusap kepalanya.


Dengan senyum merekah Dery mengusap kepala pria itu dengan sangat pelan.


Satu usapan, hanya satu usapan saja. "terima kasih bapak sudah mewujudkan keinginan ku," Dery menyalami polisi itu dengan sangat ramah. "aku harap anak dalam kandungan ku akan memiliki hati sebaik bapak, dan selalu membantu semua orang," lanjutnya.


"sama-sama nona, jaga kandungan mu dengan baik, aku suka membantu dirimu," balas pria itu dengan ramah.


Rendy dan beberapa teman pria itu hanya bisa melihat interaksi Dery dan pria itu.


Tadi saat Rendy yang meminta izin, pria itu sangat ketus padanya, tapi saat melihat Dery, dia seperti terhipnotis dan dengan senang hati menundukkan kepalanya.


Dia terpana dipertemuan pertama dengan mu, sama seperti aku yang terpana saat pertama kali melihat mu. Rendy.


bersambung....


*bantu like dan komen ya dear 😘🙏


jangan lupa mampir di karya baru otor*

__ADS_1


Mr Kulkas Jatuh Cinta


Terima kasih ❤❤🙏


__ADS_2