
Tubuh Jenny bergetar hebat, saat mendapati kenyataan yang benar-benar diluar dugaannya.
Satu Minggu setelah pertemuannya dengan pria paruh baya itu Jenny berusaha kuat mencari tahu semua rahasia yang disembunyikan pimpinannya.
Jenny berhasil...
Dia berhasil mengendap-endap dan masuk kedalam ruang rahasia yang tidak seorang pun boleh masuk kecuali pimpinannya itu sendiri.
Disini lah Jenny berdiri, tangannya bergetar, dadanya terasa sesak, kenyataan yang ada tidak bisa dia terima.
Menurutnya kenyataan ini terlalu menyakitkan, sangat menyakitkan bahkan.
Suara keras dari luar membuat Jenny tersadar dari lamunannya.
"sial mereka sudah datang!" Jenny bergegas merapikan ruangan dan menyembunyikan bukti-bukti yang dia dapat dalam saku Hoodie nya.
Sepersekian detik kemudian, Jenny berhasil melompat dari balkon lantai dua, tepat sebelum pemilik ruangan itu membuka pintu.
Wanita cantik nan tangguh itu berjalan cepat menuju ruangan yang disiapkan khusus untuknya.
Dia harus memastikan tidak akan ada orang yang curiga jika dia telah masuk kedalam ruangan rahasia itu.
Dia merebahkan diri di atas tempat tidur, mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Memejamkan mata, bayangan orang-orang yang dia sayangi berkelebat di matanya.
Aku harus bergerak cepat, sebelum mereka menyadari siapa diri ku sebenarnya, aku harus bisa membobol pertahanan mereka.
.
Rumah Utama Arandra...
Dery duduk di taman belakang sembari menyibukkan diri dengan merawat tanaman yang ada di sana.
Entah sudah berapa lama dia duduk di sana seorang diri, rasanya Dery benar-benar kesepian satu Minggu ini.
Rizal masih sibuk dengan pekerjaannya dikantor, Joe dan Zyan tentu saja tidak kalah sibuknya.
Sedangkan Jack dia ditugaskan oleh ayah untuk menanganinya The RedDelta, ayah sendiri sudah hampir 10 hari ini berada di California.
Jangan tanyakan dimana Daniel dan Ramon saat ini mereka asyik bermain game di ruang keluarga.
Meski Rizal berulang kali memperingati Daniel agar tidak terus-menerus mengajak Ramon bermain game, tapi Daniel sama sekali tidak peduli.
Dery sendiri memahami apa yang adik iparnya itu rasakan, Daniel hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengan putranya, meski tidak akan bisa menggantikan waktu yang sudah dia lewatkan setidaknya dia ingin memberikan kebahagiaan pada Ramon.
__ADS_1
"Dery...."
Deg
Dery mematung seketika saat mendengar seseorang memanggil namanya, suara yang tidak asing, suara yang sangat dia kenal.
Perlahan Dery menoleh,
Dan saat tatapan mata mereka bertemu, tubuh Dery seakan kaku, mulutnya bahkan tidak lagi mampu berucap walau hanya satu kata.
Pria itu tersenyum pada Dery, dia berjalan mendekati Dery dengan gagahnya.
Semakin dia mendekat semakin tak beraturan pula debaran di dadanya.
"bagaimana kabar mu?" tanyanya dengan lembut, saat dia sudah duduk tepat di depan Dery.
"maaf, sepertinya aku mengejutkan mu ya,"
"Ma... Marco.." dengan terbata Dery menatap tidak percaya pada pria yang sudah duduk dihadapannya.
"apa aku sedang bermimpi?" ceplosnya polos.
Marco hanya terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulut Dery, "apa aku harus mencubit pipi mu, agar kamu tahu ini bukan mimpi?"
Plak
Satu pukulan mendarat dilengan kekar Marco, membuat pria itu sedikit meringis.
"aiihhh..." Marco mengusap lengannya yang terasa panas, meski tangan Dery kecil tapi pukulannya terasa sakit.
"kenapa memukul ku, nona,"
"aku benar-benar tidak bermimpi," Dery menatap Marco keheranan. "bagaimana kau bisa ada disini? apa kau ingin menculik ku lagi? apa Monica berencana menculik Ramon dan ingin mencelakai putra ku lagi?" tanya Dery tanpa jeda.
"sssttt...." Marco mendesis sambil menempelkan telunjuknya di bibir. "kenapa kamu selalu berfikiran buruk tentang ku, nona, apa aku sejahat itu dimata mu?" Marco menunduk dalam.
Dia menyadari semua kesalahannya tidak akan semudah itu mendapatkan maaf, tapi dia ingin berusaha menjadi lebih baik.
"Maafkan semua kesalahan yang sudah aku lakukan pada mu," lirih, Marco mengucapkan kata maaf sangat lirih.
apa dia benar-benar Marco yang aku kenal? batin Dery.
Dery menatap Marco dengan intens, sangat intens, dia ingin melihat apakah pria didepannya ini hanya berpura-pura atau tidak.
"apa kau benar-benar Marco?" tanya Dery dengan konyolnya.
__ADS_1
Sedangkan Marco hanya tersenyum miris.
"hei!" lagi-lagi Dery memukul lengan Marco, kali ini sangat keras, hingga Marco meringis menahan panas di lengannya.
"ditanya malah diam saja," dengus Dery. "kau ini benar-benar Marco bukan, atau kau sedang kerasukan setan ya,"
"kerasukan?" Marco memutar bola mata jengah. "aku ini benar-benar Marco, nona, apa kau sudah tidak bisa lagi mengenali ku," Dery hanya terkikik menanggapi kalimat pria ini.
"sepertinya aku tidak mengenali mu, sejak kapan seorang Marco mau meminta maaf," Marco mengerutkan keningnya. "apa itu tadi serius?"
"aku sungguh-sungguh minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan pada mu Dery, maaf selama ini aku selalu menyakiti mu, maaf karena aku telah membuat mu menderita," Marco menggenggam tangan Dery.
Tulus, Dery bisa merasakan ketulusan dari setiap kalimat yang keluar dari mulut Marco. Bahkan Dery sampai menitikkan air mata melihat Marco yang mulai berkaca-kaca.
"aku memaafkan mu Marco," Dery menghambur memeluk Marco. Dia tahu Marco sudah berubah sekarang.
Marco bukan lagi seorang Casanova yang kejam dan sadis, Marco yang ada dihadapannya ini adalah Marco yang baru, Marco yang hangat dan lembut.
Mendapat perlakuan yang begitu baik dari Dery mantan istrinya, membuat Marco semakin diliputi rasa bersalah. Seandainya dulu dia tidak menyakiti wanita ini mungkin kini mereka sudah menjadi keluarga yang bahagia.
Dery melepaskan pelukannya, menatap lekat mata Marco yang sudah basah dengan air mata.
Bruuk
Marco terduduk didepan kaki Dery, bahunya terguncang isakannya semakin keras terdengar.
"maafkan aku Dery, maafkan aku, maaf, kau boleh menghukum ku apapun asal maafkan aku, aku ini memang pria jahat dan bodoh, maaf Dery, maaf,"
"bangun Marco, apa yang kamu lakukan, aku sudah memaafkan mu," Dery menarik lembut Marco agar duduk di sampingnya.
"dengar Marco, aku memang sempat marah pada mu, mungkin juga membenci mu, tapi itu dulu. Seharusnya aku berterima kasih pada mu kan, karena kamu sudah menyelamatkan Ramon, dan anak dalam kandungan ku," Dery mengusap perut buncitnya.
"terima kasih," sambung Dery dengan senyum tulus diwajahnya.
Marco mengangguk samar, "bolehkah aku mengusapnya," tanya Marco dengan ragu.
"tentu saja, dia kan keponakan mu juga," Dery meraih tangan Marco, lalu meletakkannya di atas perutnya.
Marco tersenyum kecil saat merasakan pergerakan dalam perut Dery.
"sepertinya kau menyukai uncle ya," bisik Marco pelan. "jaga ibu mu dengan baik, dan jadilah anak yang baik dan lembut seperti ibu mu,"
Marco....
bersambung...
__ADS_1