
Jenny berdiri diluar gedung rumah sakit, menatap lekat pada satu jendela yang begitu terlihat mencolok.
Ya...jendela ruang rawat istri pemilik rumah sakit ini.
Segala rencana sudah ia persiapkan dengan sangat matang, dengan langkah cepat dan penuh keyakinan, wanita berambut pendek itu memasuki gedung rumah sakit.
Tidak ada pengawal atau rekan yang akan membantunya, Jenny melakukan rencananya sendiri.
Setelah ia berhasil menyadap dan mematikan cctv rumah sakit beberapa saat lalu, kini ia hanya perlu menjalankan rencana keduanya.
Dengan menggunakan pakaian perawat, Jenny melewati setiap lorong rumah sakit.
Setiap melewati penjaga gadis itu menyemprotkan gas, yang dalam waktu sekejap bisa melumpuhkan mereka.
Cerdik, itulah Jenny...
Dia tidak suka bertindak keras, ia selalu melakukan setiap misinya dengan rapi dan halus.
Setelah ia berhasil melumpuhkan setiap penjaga diluar ruangan, kini ia tinggal membuat semua orang yang berada bersama Rizal dan istrinya semakin terlelap dalam mimpi.
Sssttt....
Dengan sedikit berjongkok, Jenny menyemprotkan gas memalui celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
*Satu...
Dua...
Tiga*...
Dalam hitungan ketiga, sudah bisa dipastikan semua orang yang berada dalam ruangan semakin terlelap, begitu pula dengan Rizal dan Joe.
Jenny mendorong pintu perlahan sambil memperhatikan wajah-wajah tenang setiap orang disana.
Saat tiba di samping brankar Jenny mengusap wajah Dery perlahan.
"maaf nona tuan, aku harus mengambil putra tercinta kalian," terlihat jelas senyum misterius diwajahnya.
Perlahan ia beralih pada bayi mungil yang tidur lelap dalam boks, disamping brankar Dery.
__ADS_1
"Hay bayi kecil, sekarang saatnya kita pergi dari sini.." ucapnya lalu mengangkat tubuh mungil itu. Sebelum ia meninggalkan ruangan itu, Jenny menatap lekat wajah Joe.
Tidurlah dengan nyenyak sampai besok pagi.... gumamnya dalam hati.
🍁🍁🍁🍁
Rizal yang terbangun lebih dulu menatap heran semua orang yang terlihat begitu lelap, termasuk sang istri.
Apa semalam baby R tidak menyusu? kenapa tidak ada yang membangunkan ku, dan aku pun tidak mendengar tangis baby R... batin Rizal.
Kini pandangan matanya mengarah pada boks bayinya, yang terlihat kosong.
Dimana baby R?
Dengan gerakan cepat Rizal membangunkan Joe dan Daniel.
"bangun Joe, dimana baby R?" tanya Rizal panik.
"tentu saja ada didalam boks tuan," jawab Joe dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"jika baby R ada didalam boks, aku tidak akan bertanya padamu," desis Rizal dengan menahan amarah.
Joe dan Daniel segera bangkit dari posisi mereka dan menatap boks yang terlihat kosong.
"aku akan tanyakan pada perawat tuan, mungkin Baby R sedang dimandikan," sahut Joe sambil berlalu pergi.
Sedangkan Daniel juga mengikuti langkah Joe.
Saat mereka membuka pintu, jantung Joe dan Daniel berdetak dua kali lebih cepat, kala melihat semua penjaga tergelak diatas lantai.
"Joe bangunkan mereka aku akan mencari baby R diruang bayi." titah Daniel, yang langsung mendapat anggukan dari Joe.
Apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa pengawal terlatih ku tak sadarkan diri seperti ini. batin Joe panik.
Tak berselang lama, Daniel kembali dengan wajah tegang dan cemas.
"tuan.." panggil Joe, "kenapa anda begitu tegang?" tanyanya.
"tidak ada seorang perawat pun yang memasuki ruangan kakak ipar Joe," Daniel mengacak rambutnya kesal.
__ADS_1
"Tu..tuan.." seorang pengawal membuka suara. "malam tadi saat kami berjaga, ada seorang perawat yang melewati lorong ini, tapi setelah dia melewati kami, kami sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi." jelasnya penuh penyesalan.
"apa kata mu?" sentak Rizal yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
"kalian sama sekali tidak bisa diandalkan!"
Mereka semua hanya bisa menunduk takut. Aura membunuh begitu menyelimuti lorong itu.
"Joe cek semua cctv rumah sakit ini, Sekarang!" sentaknya. "dan kau Niel, jangan sampai istri ku tahu tentang ini, aku akan memberitahunya nanti agar dia tidak panik dan ketakutan, panggil semua anggota tim untuk mencari keberadaan putra ku." titahnya.
Dengan segera semua orang berjalan cepat melaksanakan tugas yang Rizal berikan.
Bagaimana ini bisa terjadi!! Rizal mengacak rambutnya frustasi.
Apa yang harus aku katakan pada Dery, aku bahkan tidak bisa menjaga mereka dengan baik.
Rizal masih terduduk lesu didepan ruang rawat Dery, saat sang ayah dan kedua orang tua Dery datang.
"Rizal, apa yang terjadi?" tanya tuan Rahadi.
"ayah..maafkan aku, aku tidak bisa menjaga cucu kalian," jawab Rizal dengan masih tertunduk.
"apa maksud mu nak?"
"kemungkinan semalam baby R telah diculik, semua penjaga tumbang tanpa terluka sedikitpun, bahkan aku, Joe dan Daniel tidak sadar saat baby R menghilang," jelas Rizal penuh penyesalan.
"ayah akan ikut turun tangan mencari baby R, kau temani istri mu, dia akan sangat membutuhkan mu saat ini," titah tuan Rahadi.
Rizal menggeleng, "tidak yah, aku tidak mampu menghadapi Dery, apa yang harus aku katakan padanya," Rizal menatap sendu pada kedua orang tua Dery.
"ayah, ibu, bisakah kalian menjaga Dery, dan jangan beritahukan tentang ini padanya, aku tidak ingin dia semakin tertekan, aku dan ayah akan mencari baby R," pinta Rizal.
Ayah Dery mengagguk mantap, "pergilah nak, ayah dan ibu akan menjaga Dery,"
"terima kasih ayah ibu, kalian masuklah, mungkin Dery belum bangun," Rizal memeluk ayah Dery erat. "aku akan meminta dokter Ilham untuk mencari alasan jika nanti Dery menanyakan keberadaan baby R," sambungnya lagi.
Meski terlihat begitu terkejut dan khawatir tapi kedua orang tua Dery berusaha tegar dan kuat. Mereka yakin sang menantu akan menemukan cucunya segera.
Dery....
__ADS_1
Bersambung....