Janda Judes

Janda Judes
41 Kesempatan 3


__ADS_3

Sore hari saat Dery membuka matanya, dia sudah berada di ruangan yang asing baginya. Melihat selang infus ditangan kirinya, Dery menyadari jika dirinya berada dirumah sakit, tapi siapa yang membawanya kerumah sakit.


"siapa yang bawa aku kesini, aah sakit banget kepala ku." melihat sekeliling ruangan tidak ada siapapun disini. Dery mencoba duduk, tapi hidungnya kembali mengeluarkan darah. "ck darah lagi, kenapa berdarah lagi sih. ini kepala juga kenapa sakit banget." Dery mencari tissue, tapi tidak menemukannya.


"kamu sudah bangun der?" Rizal yang baru masuk melihat Dery sudah duduk.


"hei hidung mu berdarah lagi," mengusap darah dengan sapu tangan yang dia bawa.


"bapak? apa bapak yang membawa saya kesini?" wajah Dery berubah panik.


"iyaa aku yang membawa mu kesini, tadi malam aku mengikuti mobil Marco, tapi sempat kehilangan jejak, aku malah bertemu dengan dua sahabat mu yang juga kehilangan jejak mobil Marco," Rizal duduk didepan Dery.


"tapi kenapa bisa bapak yang membawa saya? apa Marco juga ada disini?" nampak jelas gurat ketakutan di wajah Dery.


"Tenang saja der, Marco gak akan tau kamu bersama saya. Tadi malam saya sempat menyerah mencari kamu dan Marco, saat saya memutuskan untuk pulang justru saya melihat seorang wanita tergeletak di jalan, ternyata itu kamu. kamu benar-benar berantakan," Rizal begitu iba melihat Dery,


"Maafkan saya ya der, karena saya yang membujuk kamu untuk menikah dengan Marco, hidup mu malah hancur karena dia," Dery bisa melihat penyesalan dimata Rizal.


"sudahlah pak, semua sudah terjadi. sebesar apapun penyesalan kita tidak akan merubah masa lalu kan? sekarang aku cuma ingin memperbaiki masa depan ku," Dery tersenyum.


"Lihat Dery masih bisa tersenyum, bijak sekali kan. Dengan keadaannya yang seperti ini dia masih bisa terlihat sangat kuat, jika apa yang dialami Dery ini terjadi pada wanita lain mungkin akan memilih mengakhiri hidupnya,"


Batin Rizal begitu mengagumi ketegaran Dery.

__ADS_1


"apa kamu lapar?" tanya Rizal


"eemm sedikit pak," Dery merasa canggung.


"bisakah kamu tidak memanggil saya bapak lagi? panggil dengan nama saja atau kakak mungkin, setidaknya bisa mengikis kecanggungan diantara kita," Rizal menggenggam tangan Dery, "anggap saja aku ini kakak mu," tersenyum.


"ta..tapi pak,"


"sssttt aku tidak ingin dibantah," mengambil mangkuk bubur Dery. "panggil aku kakak, atau akan aku pulangkan kamu kerumah Marco." ancamnya pura-pura, sambil tertawa.


"baik kak Rizal," dery menunduk.


sangat aneh rasanya saat Dery memanggilnya kakak, "kenapa aku sangat senang ketika Dery memanggil ku kakak, lucu sekali," Rizal menggeleng kepala.


"baik kak, terima kasih sudah membantu ku," Dery tersenyum,


Rizal terus melontarkan candaan untuk menghibur Dery, mengikis kecanggungan diantara mereka. Berharap apa yang dia lakukan bisa membayar kesalahannya yang ikut andil atas penderitaan Dery. Rizal hanya ingin membuka kesempatan untuk Dery agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Semoga Dery mau mengikuti sarannya nanti.


****


Disisi lain Ikbal, Iwan, dan Roby kebingungan mencari dimana Dery. Ikbal yang mengutus seseorang untuk mencari Dery dirumah Marco, ternyata Dery tidak ada disana. Dari laporan yang dia terima, Dery melarikan diri saat diperjalanan pulang bersama Marco.


Saat mereka bertiga mendatangi kediaman orang tua Dery, mereka melihat Marco disana.

__ADS_1


"kita gak mungkin turun sekarang, disana ada Marco," Roby menghentikan mobilnya agak jauh dari rumah ayah Dery.


"iyaa kita pantau aja dari sini apa Dery ada disana apa gak," sahut Iwan.


"tapi kalau Dery disana dan dipaksa ikut Marco gimana?" Ikbal yang sejak kemarin sangat cemas, semakin frustasi membayangkan apa yang akan terjadi pada Dery.


"tenang kalau Dery ikut dia, kita cegat aja dijalan. kita bawa kabur Dery," usul Roby.


Lama mereka menunggu, ternyata Marco pergi tanpa Dery.


"gue telfon Dika deh, tanya Dery ada dirumah gak," inisiatif Iwan.


"bagus tuh" Roby mengacungkan jempol.


Selesai menelfon Dika, wajah Iwan tidak bisa ditebak. "Dery gak pulang kerumah Ayah, gak ada yang tau dimana Dery, Marco bilang ke ayah dan ibu kalau Dery kabur bersama selingkuhannya. Ayah marah besar sama Dery." Iwan mengacak rambut kesal, tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Marco.


"sakit jiwa tuh orang, kalau sampai Dery kenapa-kenapa gue bunuh dia, Kakak sama adek sama-sama gila," Ikbal tidak bisa menahan emosi.


"udah bal, kita fokus cari Dery dulu, pastikan dia baik-baik aja. apa udah ada laporan dari anak buah Lo bal?" Roby menjalankan mobilnya. Ikbal hanya menggeleng menanggapi Roby.


Semakin malam mereka mencari Dery, mereka semakin panik, karena masih belum ada titik terang dimana keberadaan Dery. Orang-orang suruhan mereka yang cukup banyak jumlahnya juga tidak memberikan berita yang bagus.


Dery seperti hilang ditelan bumi, sedikitpun tidak ada petunjuk.

__ADS_1


*cerita ini hanya fiktif* semoga kalian suka, maaf jika masih ada kesalahan 🙏🙏❤❤ jangan lupa like dan komen. berikan apresiasi pada karya receh mimin ya dear 🙏🙏❤❤


__ADS_2