Janda Judes

Janda Judes
Daniel


__ADS_3

Malam panjang terlewati dengan damai, wajah-wajah segar penghuni rumah terpancar saat mereka berkumpul untuk sarapan.


Hari ini mereka belum memulai pekerjaan diluar rumah, hanya Ramon Dena dan Dika yang harus berangkat kesekolah.


Sedang para orang tua masih menikmati kebersamaan di rumah.


Setelah acara sarapan pagi, Dery membawa Baby R duduk di taman rumah belakang.


Melihat Daniel duduk melamun sendirian Dery bergegas menghampiri.


"niel, kenapa disini sendirian?" suara lembut Dery mengagetkan pria tampan itu.


"menikmati bunga-bunga yang sedang mekar kak, " jawab Daniel dengan nada kurang bersemangat.


"apa aku mengganggu mu? " Dery masih berdiri di samping kursi, memperhatikan wajah lesu adik iparnya.


"tidak kak, duduklah, " Daniel tersenyum hangat, "apa aku boleh menggendong Rey, "


Dery menyerahkan baby R pada Daniel lalu duduk di kursi depan Daniel.


"apa kamu sedang sakit niel? wajah mu terlihat pucat? "


Daniel menggeleng sambil menatap wajah Damai baby R dalam dekapannya. "sepertinya aku kelelahan kak, apa aku terlihat seperti orang sakit? " cengirnya menutupi wajah pucatnya.


"kamu pucat niel, " semakin intens menatap wajah Daniel. "kalau lelah sana istirahat, nanti aku bilang pada pelayan untuk membawa minuman hangat ke kamar mu, " ucapnya penuh perhatian.

__ADS_1


"kakak ipar sangat berlebihan, aku baik-baik saja kak, " Sebenarnya sudah dari tadi malam Daniel merasa tidak nyaman pada tubuhnya, nafasnya terasa sedikit sesak tapi Daniel hanya diam menahan.


Dia tidak ingin semua orang khawatir padanya.


"niel, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, " paksa Dery.


"kak, aku baik, percayalah, " Daniel menggenggam tangan Dery meyakinkan.


Ekkhhmm


"jangan berani menyentuh istri ku niel. " suara bariton Rizal membuat Daniel langsung menarik tangannya.


"sayang... " usap-usap pipi Rizal "aku hanya khawatir pada Daniel, lihatlah wajahnya sangat pucat kan? " Dery mencoba menjelaskan.


Rizal hanya melirik Daniel.


"kalau kau sakit, ayo kerumah sakit niel, " sudah berpindah duduk disamping adiknya. "berikan baby R pada istri ku, "


Ck


"aku baik kak, aku hanya sedikit lelah, " Daniel menyerahkan baby R pada ibunya.


"kalian jangan terlalu khawatir aku ini bukan anak kecil, " dengusnya.


"kau memang keras kepala, jika nanti sakit jangan coba-coba merepotkan aku, " Rizal mengacak rambut Daniel kesal.

__ADS_1


Daniel pun tak tinggal diam, ia membalas dengan mengacak rambut rizal yang selalu tertata rapih.


"niel, beraninya kau, " Rizal menggeram semakin kesal, tapi hanya ditanggapi acuh oleh adiknya.


Melihat kedekatan Rizal dan Daniel membuat Dery tersenyum bahagia. Tanpa mereka sadari dari balkon lantai atas Tuan Rahadi sedang memperhatikan mereka dengan senyum kelegaan di bibirnya.


Kebahagiaan benar-benar telah hadir di rumahnya.


Kini ia hanya tinggal melihat Daniel menemukan wanita baik yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.


Tak terasa hari semakin terik, membuat mereka yang tengah berbincang di taman belakang mulai merasa kegerahan.


"sayang, ayo masuk di sini sudah terlalu panas, kasian baby R, " ajak Dery sambil beranjak dari kursi, Rizal mengangguk lalu mengikuti langkah istrinya.


Daniel yang juga ingin beranjak bangun Tiba-tiba merasa dadanya begitu sesak, hingga membuatnya kembali terduduk memegangi dada.


"kau tidak ingin ikut masuk niel, " tanya Rizal tanpa menoleh.


"ya kak sebentar lagi, masuklah dulu, " sahut Daniel sambil mengatur nafas.


Kenapa dada ku semakin sesak saja rasanya. gumamnya.


Selamat malam readers semua....


hari ini dia bab dlu ya...

__ADS_1


selamat membaca, happy selalu


__ADS_2