Janda Judes

Janda Judes
98 Ramon.


__ADS_3

Suasana senja begitu indah hari ini,


Dery duduk didepan rumahnya, menatap langit berwarna jingga yang memukau.


Seperti kebahagiaan yang tak abadi, kesedihan juga pasti akan berlalu pada waktunya kan,


Semua Dery anggap sama, sama-sama hanya sementara.


Tidak ada yang harus disesali dalam hidup, semua sudah diatur Tuhan, kita sebagai umatnya hanya harus berjuang dan menjalani hidup sebaik mungkin, tanpa harus merugikan atau merebut kebahagiaan orang lain.


Sudah beberapa hari ini ibu panti berulang kali menghubungi Dery,


Ramon anak usia 6 tahun itu sering merengek karena merindukan Dery. Entah apa sebabnya sejak kehadiran Dery di hidup Ramon, dia seperti menemukan sosok seorang ibu.


Ramon selalu bermanja-manja jika bersama Dery, dibanding anak-anak panti yang lain Ramon lebih bergantung pada Dery, pun Dery juga sangat menyayangi Ramon.


Pria kecil yang ditinggalkan sang ibu didepan panti asuhan, hanya mengenakan selembar kain tanpa penghangat lain. Tubuh kecil menggigil ditengah derasnya hujan malam itu, Itulah yang Dery tau tentang Ramon.


"sedang memikirkan apa nak?" Pak Rahmat sudah duduk disamping Dery,


"ah ayah, gak ada yah hanya pekerjaan saja," Dery menyomot pisang goreng yang dibawa sang ibu.


"jangan bohong, pasti memikirkan yang lain kan," sahut ibu penuh selidik.


"emm itu Bu Dery keinget Ramon terus beberapa hari ini," jujur Dery.


"Ramon? siapa Ramon pacar mu, terus nsk Rizal?" Pak Rahmat sedikit terkejut.


"ihh ayah, sejak kapan aku punya pacar," memanyunkan bibir " Ramon itu anak di panti yah, apa ayah tidak tau?"

__ADS_1


"oh yang anaknya ganteng itu ya, agak ke bule-bulean, yang suka merengek ikut kamu pulang," ingat ibu.


"Yap betul," mengacungkan jempol.


"kenapa memangnya?" disela-sela mengunyah pisang goreng, ayah menatap serius Dery.


"boleh gak yah kalau Ramon aku adopsi aja, kasian dia yah," jujur Dery.


"adopsi? kamu serius?" kening ayah dan ibu berkerut terkejut dengan niat Dery.


Dery mengangguk mantap, dia memang sudah lama ingin mengadopsi Ramon, hanya tidak memiliki keberanian untuk jujur pada keluarganya.


"tapi adopsi kan syarat nya kamu harus memiliki suami nak," pak Rahmat menatap Dery serius.


"kamu benar-benar ingin mengadopsi Ramon? kamu yakin?"


"tentu yah, aku yakin." menarik nafas panjang, "besok aku akan ke panti yah, akan aku tanyakan pada ibu panti apa boleh jika mengadopsi Ramon tanpa harus menikah dulu." Dery berkata dengan bersungguh-sungguh.


Terlebih mereka tahu, jika Dery sudah berkeinginan maka dia akan berjuang keras untuk mencapainya.


.


Dua hari berlalu...


Rizal baru saja mengetahui jika Dery ingin mengadopsi seorang anak dari panti asuhan.


Meski terkejut dengan keputusan Dery, tapi Rizal tidak akan melarangnya, kebahagiaan Dery lah yang Rizal inginkan. Bahkan Rizal juga membantu Dery agar bisa mengadopsi Ramon secepatnya.


"apa kau senang, cinta?" Rizal membuka suara.

__ADS_1


"cinta?" wajah Dery memerah menahan malu, didalam mobil ini ada Joe dan Zyan tapi Rizal memanggilnya cinta.


cinta? oh Tuhan apa aku harus setiap hari melihat tuan bermesraan dengan nona? cinta? panggilan macam apa itu. Dasar bucin. gerutu Zyan dalam hati, sedangkan Joe hanya menggeleng samar, mungkin dia juga menggerutu dalam hati.


"kenapa?" menaikkan sebelah alisnya,


"aku memang mencintaimu kan, apa salahnya memanggil mu cinta?" cuek Rizal.


"kak, kenapa kamu jadi seperti abg begini sih" menutup wajahnya saking malunya.


"jangan halangi pandangan ku," menarik tangan Dery.


"aku ingin memandangi wajah cantik mu,"


astaga, makin hari pak tua ini makin seperti anak-anak. Rasanya aku ingin tenggelam saja kelaut.


"apa kau malu pada dua jomblo ini, cinta?" melirik Joe dan Zyan dengan ekor matanya.


"anggap saja mereka tidak ada."


"heii tuan, jangan bawa-bawa status ya," ucap Joe dan Zyan bersamaan. Mendengar itu Rizal melotot, sedangkan Dery terkikik geli.


"kalian memang jomblo kan," ketus Rizal, "setelah ini akan aku berikan kalian cuti, carilah wanita agar kalian bisa merasakan jatuh cinta," ucapan Rizal sedikit meremehkan.


"iishh mentang-mentang sedang jatuh cinta, dia meremehkan kita Joe," Zyan melengos kesal, Joe mengangguk mantap.


"sudah, kenapa kalian malah bertengkar sih, ayo turun kak itu Bu panti sudah menunggu." tunjuk Dery kearah pintu utama panti, wajah Dery berbinar berharap semoga dia bisa mengadopsi Ramon secepat mungkin.


ijinkan aku merawat Ramon, Tuhan. Lancarkanlah semua urusan ku.

__ADS_1


bersambung.......


__ADS_2