
"apa yang kamu rasakan saat ini Co?" Rizal sudah berdiri disisi brankar Marco.
Ada rasa kasihan yang besar dihatinya, meski dia marah pada Marco tapi Rizal tetap menganggap Marco sebagai sahabatnya.
Sahabat yang sejak kecil menemaninya, sahabat yang selalu saling menjaga dan melindungi.
Marco tersenyum tipis, rasa malu dan sesak ia rasakan secara bersamaan.
Terlebih Rizal yang ia khianati, justru sangat baik dan peduli padanya.
"ma..maafkan aku Rizal," dengan susah payah Marco mengucapkan kata maaf, mungkin ini sudah terlambat tapi dia ingin memperbaiki semua kesalahannya.
"aku sudah memaafkan mu," Rizal tersenyum tipis pada Marco.
"istirahat lah, kau harus menebus semua kesalahan yang sudah kamu lakukan," sambungnya.
"aku akan menebus semua kesalahan ku, apapun hukuman yang kamu dan paman berikan, akan aku terima," ucap Marco lirih.
"hmm..." Rizal sudah akan melangkah pergi dari ruangan, saat tangannya dicekal oleh Marco.
"bolehkah aku meminta satu hal pada mu," jika Rizal dan tuan Rahadi memberikan hukuman berat padanya, ia ingin menjamin Vina akan baik-baik saja.
"katakan," singkat Rizal.
"bisakah kau membiarkan Vina hidup, jangan kau berikan hukuman padanya karena kesalahan yang aku lakukan," Pinta Marco dengan wajah mengiba.
"hmm....akan aku pikirkan," setelah menjawab permintaan Marco, Rizal benar-benar melangkah pergi.
Kau dan vina harus membayar semua kesalahan yang kalian lakukan pada istri dan anak ku, batin Rizal.
.
Apartemen milik Rendy....
Sudah hampir pagi, kini mereka sudah tiba di apartemen milik Rendy.
Saat menginjak kan kaki didalam apartemen, mata Dery melotot tidak percaya.
Apartemen milik Rendy ini benar-benar mewah dan sangat luas.
"tutup mulut mu, aku takut akan ada serangga yang masuk," bisik Rendy yang melihat wajah keheranan Dery.
"iiishhh...." Dery menepuk lengan Rendy, "kau ini, aku kan belum pernah melihat rumah yang seperti ini," ucapnya bohong.
Sebenarnya Dery sudah pernah beberapa kali melihat apartemen mewah seperti ini, tapi karena dia tidak ingin Rendy dan Bu Ratih tahu jika dia istri dari seorang yang kaya raya, Dery memilih berpura-pura.
"ini apartemen, bukan rumah," Kini Rendy sudah menarik tangan Dery, masuk kedalam kamar.
"ini kamar mu, selamat beristirahat nona," Rendy meninggalkan Dery tanpa menoleh.
Dery mengikuti langkah pria kaku itu, "kenapa kau mengikuti ku lagi nona Dery, istirahat lah," ucap Rendy.
"aku lapar, tuan Rendy," ucap Dery tanpa malu-malu, dan sengaja menekankan kalimatnya.
"itu dapurnya, semoga masih ada makanan yang bisa kamu makan, setelah makan tidurlah, Ramon sudah tidur dikamar ibu," jelas Rendy, sebelum menghilang dibalik pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Dery.
"baiklah tuan...." seru Dery.
Pria yang aneh...
__ADS_1
kadang sangat baik, kadang dingin dan menyebalkan juga.
__________________🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁________________
Satu Minggu berlalu....
Setelah Rendy membawa mereka ke kota tempatnya bekerja, Rendy juga memperketat pengamanan di apartemen itu.
Sejak pindah kesini sang ibu sama sekali tidak mau keluar dari apartemen.
Sedangkan Dery dan Ramon, mereka mau keluar tapi dengan penyamaran.
Siang itu setelah Rendy menerima pesan singkat dari Dery, yang memintanya untuk segera pulang dan makan siang bersama, Rendy memutuskan untuk pulang.
Sudah di apartemen...
Rendy sudah duduk di meja makan bersama dengan ibu, Dery dan juga Ramon.
Dengan cekatan Dery menyiapkan makanan untuk semua orang.
Rendy yang sejak tadi memperhatikan sikap Dery, menjadi sedikit heran.
Tidak biasanya Dery begitu perhatian padanya, hingga mengambilkan makanan untuk dirinya.
Saat semua orang sudah mulai makan, Dery justru sedang sibuk memperhatikan Rendy.
Merasa dirinya diperhatikan oleh Dery, akhirnya ia membuka suara. "apa ada yang ingin kamu sampaikan nona?" Rendy menoleh pada Dery yang menyengir kuda.
Terakhir kali kau seperti ini, kau meminta ku untuk mencari jambu yang langsung dipetik dari pohonnya. gerutu Rendy
"tuan Rendy, kau ini kan pria yang baik dan tam....eemmm"
"iiishhh," Dery mendengus.
"Bisa kah kau mencarikan pria dengan perut buncit dan kepala botak," mata Dery sudah berbinar.
Uhhukk Uhhukk.... Mendengar permintaan Dery membuat Rendy sampai tersedak.
"iiihhh... pelan-pelan dong makannya." dengan cepat Dery menyodorkan air minum untuk Rendy, sedangkan ibu Ratih dan Ramon hanya terkikik mendengar penuturan Dery.
"apa kamu ingin mengusap-usap kepala botak pria dengan perut buncit sayang?" tanya Bu Ratih dengan menahan tawanya, Dery langsung mengangguk mantap.
"aku ingin sekali Bu..." ucap nya dengan bibir mengerucut.
"tidak!" tegas Rendy. "dimana aku harus mencari pria seperti itu, kau ini ada-ada saja," Rendy memijat pangkal hidungnya.
Hiks...Hiks...
Mendengar penolak kan dari Rendy membuat Dery langsung terisak, dan berlari ke kamar.
"Rendy..." Bu Ratih menatap Rendy dengan wajah kecewa.
"tapi Bu.."
"kau kan sudah janji kan membantu Dery dan Ramon, jangan biarkan ada wanita lain yang bernasib seperti ibu nak.." Bu Ratih mengusap punggung Rendy.
huuuhhh....
Dengan nafas berat, Rendy berjalan menyusul Dery ke kamarnya.
__ADS_1
"semangat sayang," ucap Bu Ratih sambil mengangkat kedua tangannya.
Melihat Dery mengidam seperti ini, aku jadi ingat dulu saat mengandung... Batin Bu Ratih.
Kini Dery sedang duduk di balkon kamarnya, isakkannya bisa terlihat jelas dari pundaknya yang terguncang.
Rendy sudah berdiri di samping Dery, menghela nafas saat Dery memalingkan wajah kearah lain.
"kenapa kamu kemari, mau menertawakan aku?" ucap Dery ditengah isakkannya.
"Ck...jangan menangis, aku tidak bisa melihat wanita menangis," Rendy mengusap pucuk kepala Dery.
Apa semua wanita hamil seperti ini, dia benar-benar sangat sensitif dan cengeng. gerutu Rendy.
"kamu yang membuat aku menangis," Dery menghentak-hentakkan kakinya kesal, dengan bibir yang mengerucut, membuat Rendy begitu gemas.
Saking gemasnya Rendy sampai mencubit pipi Dery, "kamu ini sudah mau punya dua anak, tapi masih seperti anak-anak" seloroh Rendy.
"Rendy!!" seru Dery, sambil memukul-mukul lengan Rendy. "sakiiiit!" sambungnya.
"baiklah, aku minta maaf,"
"maafnya tidak diterima," dengan cueknya Dery, meninggalkan Rendy yang masih berdiri disampingnya.
"ya sudah," Rendy memilih duduk di kursi tempat Dery duduk tadi. "aku tidak akan membantu mu mencari pria botak dan buncit itu,"
Mendengar penuturan Rendy, Dery langsung menghentikan langkahnya.
Secepat kilat berbalik dan menatap wajah datar Rendy.
"jadi?!"
"apa, prok prok prok...." seru Rendy sambil bertepuk tangan dan tertawa terbahak.
Sejak bertemu dengan Rendy, baru kali ini Dery melihat pria ini tertawa selepas itu.
"Rendy jangan bercanda dong," dengus Dery, tapi senyum tipis terlihat diwajahnya.
"aku ke kantor dulu, setelah pulang kantor nanti, aku akan membawa pria botak dengan perut buncit untuk mu," Rendy sudah bangkit dari duduknya, mengacak-acak rambut Dery sebelum meninggalkan kamar wanita hamil yang sedang mengidam itu.
"benarkah?" wajah berbinar Dery membuat Rendy tersenyum.
"ya, tapi jangan lagi menangis, oke,"
"terima kasih Rendy," saking senangnya Dery hampir saja melompat kegirangan.
"jangan melompat, jaga anak dalam kandungan mu dengan baik, nona," kalimat yang keluar dari mulut Rendy penuh dengan penekanan, membuat Dery menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengat kuda.
Akhirnya aku bisa mengusap kepala pria botak dengan perut buncit. Senyum Dery mengembang.
Bersambung.....
jangan lupa mampir ke novel baru aku ya dear 😘😘
Judulnya Mr Kulkas Jatuh Cinta
tengkyuu dear ❤😘😘😘
__ADS_1