Janda Judes

Janda Judes
91 Ikbal atau Rizal?


__ADS_3

Hingga pagi menjelang,


Dery bangun dengan wajah kusut karena semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Merasa kasian pada Rizal yang masih saja berdiri diam diluar rumah, tapi egonya melarang untuk menemui Rizal.


"nak, kamu temui nak Rizal sana ajak dia masuk untuk sarapan, kasian" Ayah Dery berdiri didepan pintu kamarnya.


"ayah aja deh, aku mau langsung pergi ada urusan penting," sudah bersiap pergi, bergegas menuju teras rumah.


"ayah gak ijinkan kamu pergi Dery," langkah dery terhenti mendengar larangan ayahnya.


"kenapa sih yah? aku cuma mau pergi sebentar saja," Dery menghentakkan kaki kesal. Rizal mendekati Dery yang berdiri disamping motornya. Melihat Rizal mendekati putrinya pak Rahmat memutuskan untuk masuk kedalam.


"Dery..." Rizal menatap sendu wanita yang dia cintai ini.


Dery hanya melirik Rizal, penampilannya sungguh berantakan.


pucat banget sih ni tuan muda, kasian juga sih. ck, tapi biarin aja deh bodo amat.


"Dery, aku mohon berikan aku satu kesempatan lagi," Rizal sudah menggenggam tangan Dery erat.


"pulanglah, aku sedang tidak ingin melihat mu," melirik sinis Rizal.


"aku mau melakukan apapun der, asalkan kamu mau memaafkan kesalahan ku,"


"pergilah dari hidup ku." Dengan tegas Dery mengucapkan itu, tapi hatinya justru terasa sangat sakit.


"aku tidak akan pernah pergi, aku men...."


"ijaaahhhh........" teriakan Ikbal menghentikan kalimat yang akan Rizal ucapkan.


"Ikbal," Dery turun dari motor memeluk Ikbal, sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabatnya ini.


"kamu gak kenapa-kenapa kan, maaf waktu kamu dirumah sakit aku sedang di California, dan aku baru saja kembali." Ikbal membalas pelukan Dery, menatap Rizal yang berdiri tidak jauh dari mereka.


melihat Dery seakrab itu pada Ikbal hati ku sangat tidak rela.


"gue baik kok," tersenyum hangat "kita masuk yuk," menarik Ikbal masuk.

__ADS_1


"ee tunggu, ini motor baru? kamu masih berani naik motor seperti ini jah,"


"memangnya kenapa?" Dery menyilang kan tangan didepan Dada.


"jangan bilang kamu masih ikut balap liar," menatap tajam Dery.


"apa salahnya? kegiatan itu menyenangkan," mendengar kalimat Dery Rizal dan Ikbal melotot kesal.


"itu berbahaya Dery," Rizal dan Ikbal kompak.


"sejak kapan kalian kompak? mau masuk gak? kalo gak gue mau cabut," menaikan sebelah alisnya, Ikbal langsung bergegas masuk kedalam rumah.


"kamu gak mau ikut masuk? jangan sampai gue dikira manusia gak punya hati, karena ngebiarin tuan muda seperti anda pingsan karena kelelahan." sinis Dery, Rizal hanya mengikuti langkah Dery.


Dimeja makan,


Rizal dan Ikbal duduk berhadapan, ayah dan ibu sudah selesai sarapan saat mereka bertiga masuk kedalam.


"ayah sama mau berangkat dulu ya nak, jangan pergi, dirumah saja," ayah dan ibu bergegas pergi, Dery hanya mengangguk.


Setelah kepergian ayah dan ibunya, suasana dimeja makan sangat hening, tidak ada yang berbicara, bahkan suara nafas mereka saja tidak terdengar.


Dery mengambil piring mengisinya dengan nasi dan lauk lalu menyerahkan pada Rizal dan Ikbal.


"berhenti saling melotot, sekarang makan atau kalian mau gue hajar," jengah Dery.


Mereka makan tanpa saling bicara, Rizal terus menatap Dery penuh kasih sayang. Meski dia masih tidak dihiraukan, tapi melihat Dery tersenyum membuatnya sedikit lega.


seandainya senyum mu itu untukku pasti aku akan sangat bahagia der,


Dery memang sengaja tidak memperdulikan Rizal, dan lebih perhatian pada Ikbal, itu dia lakukan untuk membuat Rizal kesal.


"gue ke kamar bentar kalau udah selesai makan taruh situ aja nanti gue beresin, kalian ke depan aja."


Rizal dan Ikbal mengangguk tersenyum hangat.


"tuan punya nyali juga ya menemui Dery, setelah apa yang sudah anda lakukan." ucap sinis Ikbal.


"aku memang bersalah pada Dery, tapi aku akan menebus semua kesalahan ku," Rizal menatap Ikbal kesal.

__ADS_1


"sepertinya sudah tidak ada kesempatan untuk Anda tuan, jadi lebih baik tuan pergi dari hidup Dery,"


"tidak akan pernah, aku mencintai Dery, sampai kapan pun aku akan berjuang mendapatkan cinta Dery lagi." tagas Rizal, lalu berjalan menuju ruang keluarga.


"hei tuan, awas saja kau," Ikbal berusaha mengejar langkah cepat Rizal.


Tanpa sengaja Ikbal menabrak Dery yang baru saja keluar dari kamarnya, hingga Dery hampir terjatuh untungnya dengan sigap Rizal menarik tubuh Dery dipelukannya.


Hingga netra mereka bertemu.


kenapa deg-degan banget sih, jangan sampe tuan muda menyebalkan ini mendengar detak jantungku, atau da akan besar kepala.


"lepaskan," ketus Dery. "nih handuk, mandi saja setidaknya agar tubuh mu lebih segar."


"terima kasih," Rizal berjalan masuk kedalam kamar mandi.


"apa kamu mau memaafkan tuan Rizal jah?" Dery dan Ikbal sudah duduk sofa yang saling berhadapan.


"entahlah bal, aku tidak tahu rasanya sakit sekali jika mengingat kejadian itu," jujur Dery, sebenarnya Dery masih mencintai Rizal tapi egonya terlalu besar hingga ia enggan memberi kesempatan pada Rizal.


"sebenarnya apa yag terjadi, selama ini kamu tidak pernah bercerita kan,"


berikan aku kesempatan untuk bisa menjaga mu der, aku masih sangat mencintai mu, selama ini aku tidak bisa menghapus cinta dihati ku.


"sudahlah lupakan, aku tidak ingin mengungkit luka itu," Dery tersenyum samar.


"ekheem...." Rizal berdehem, berdiri tidak jauh dari mereka, menampilkan wajah tampan yang terlihat lebih segar setelah selesai mandi, rambut yang masih basah.


"Kau sudah segarkan, sekarang Anda boleh pulang tuan," ketus Ikbal.


"lalu membiarkan lelaki seperti mu disini dengan Dery?" tersenyum remeh "tidak akan," tegasnya.


"sudahlah jangan bertengkar terus," Dery menggebrak meja kesal.


kalian ini seperti kucing dan tikus, setiap kali ketemu pasti bertengkar.


bersambung.....


Bantu like komen dan vote dong, bantu author biar semakin semangat berkarya. ❤🙏

__ADS_1


__ADS_2