Janda Judes

Janda Judes
110 California...


__ADS_3

"lepaskan aku, tua bangka tidak tau diri," Teriak Daniel.


Tuan Rahadi masih diam, bukti yang dia berikan selama ini benar-benar tidak membuat pendirian Daniel goyah.


Dia masih menganggap ayah dan kakak nya bersalah, atas apa yang dia dan ibunya alami selama ini.


"tuan, kenapa tidak kita berikan ini saja? aku yakin dengan bukti ini tuan Daniel akan menyadari jika selama ini dia salah paham," seorang pengawal menyerahkan bukti kejahatan ibu Daniel yang selama ini hanya disimpan oleh tuan Rahadi.


"jangan, aku tidak ingin dia akan membenci ibunya,"


"ta..tapi tuan,"


"sudahlah, biarkan dia mengumpat semaunya," tuan Rahadi berjalan keluar ruangan putranya.


Hatinya terasa sangat sakit, putra yang selama bertahun-tahun dia rindukan justru sangat membenci dirinya, karena kesalahan yang tidak dia lakukan.


"heii tua bangkaa, kembali kau, lepaskan aku. Apa tidak puas kau membuat aku dan ibu ku menderita selama ini. Tua bangka brengs*k" umpat Daniel.


"berhentilah memaki ayah mu tuan, dia sangat menyayangi mu, seandainya kamu tahu yang sebenarnya. Bisa dipastikan kamu akan menyesal," seorang pengawal merasa sangat tidak tega pada tuan Rahadi, dia tau betul bagaimana tuan Rahadi berusaha keras agar Daniel bisa hidup bersamanya.


apa-apaan mereka ini, selalu saja membela tua bangka itu. dibayar berapa mereka sampai membelanya mati-matian. Daniel sudah lelah terus berteriak. Tenggorokan nya terasa sangat kering.


"hei kau, lepaskan aku, aku ingin minum," Daniel terlihat lebih tenang.


Seorang pengawal mendekatinya menyodorkan minuman tepat didepan mulut Daniel.


"minumlah tuan,"


"lepaskan aku, aku ingin minum sendiri," Daniel melengos kesal.


"minumlah ini, aku akan melepaskan mu jika kau berjanji tidak akan membuat masalah lagi. dan jangan lagi menyakiti tuan besar,"


Daniel tidak ingin menyerah, dari pada dia harus kehausan, dia memilih meminum air itu dari tangan pengawal sang ayah.


Berbeda dengan Daniel yang terus saja marah dan menaruh dendam pada ayah dan kakaknya.


Rizal justru sedang berbahagia saat ini, acara pernikahannya berjalan dengan sangat lancar, malam ini Dery dan Rizal akan melaksanakan acara resepsi.


Didalam kamar hotel khusus pengantin, sepasang suami istri baru ini sedang bercengkrama sambil menunggu waktu resepsi berlangsung.


"kak, aku ingin mandi dulu, badan ku lengket," Dery turun dari pangkuan sang suami.


"sebentar lagi sayang, aku masih sangat merindukan mu," Rizal terus saja memeluk erat sang istri.


"kak, ayolah aku sudah tidak tahan lagi, gerah," Dery mencibikkan bibirnya.


"baiklah tapi kita mandi berdua,"


"ehh, tidak aku bisa mandi sendiri kak," Dery mendorong tubuh Rizal.

__ADS_1


"heii! aku ini suami mu, apa salahnya kita mandi bersama," sebenarnya Rizal sudah tidak sabar untuk menyentuh istrinya ini.


"stop kak, kalau kakak ikut mandi, sudah pasti akan terjadi hal-hal yang kau inginkan, itu akan memakan waktu lama," Dery menunjuk jam dengan dagunya.


"sebentar lagi kita sudah harus turun,"


"Huuhhh" Rizal menjatuhkan diri diatas tempat tidur. "baiklah, sekarang aku melepaskan mu, tapi setelah acara nanti selesai, akan aku lahap habis dan tidak ada ampun bagi mu," Rizal tersenyum smirk.


"baiklah, terserah kakak saja." Dery berjalan cepat masuk kedalam kamar mandi.


Cukup lama Dery berendam dalam air hangat, tubuhnya benar-benar lelah hari ini, ditambah nanti dia pasti akan berdiri cukup lama di pelaminan.


Tok...tok...tok...


"Sayang, kau mandi atau tidur, perias mu sudah menunggu," teriak Rizal dari luar kamar mandi.


"kenapa harus dikunci sih,"


Ceklek...


"kakak, mengganggu acara mandi ku saja sih," gerutu Dery.


"acara sudah akan dimulai sayang," Rizal memeluk Dery, mencium aroma bunga yang menempel pada kulit lembab istrinya.


Rizal sengaja meninggalkan tanda merah tepat di leher sang istri.


"aku mandi dulu ya," bisik Rizal, menghembuskan nafas nya di telinga Dery.


.


Kini Dery sudah berdandan begitu cantik, wajahnya dipoles dengan make up natural, mengenakan gaun malam warna hitam simpel yang tidak terlalu panjang, rambutnya digerai menutupi leher jenjangnya.


Sedangkan Rizal sudah mengenakan setelan jas senada dengan sang istri dan dasi kupu-kupu yang bertengger dilehernya.


"sudah siap sayang?" Rizal berdiri dibelakang Dery.


"tentu," Dery bangkit dari duduknya, menglingkarkan tangannya di lengan sang suami.


Berjalan beriringan, senyum mereka mengembang. Hingga tiba di balroom hotel Rizal terus menggandeng Dery dengan sangat posesif.


Mereka sudah berdiri di pelaminan, menyambut satu persatu tamu yang hadir, tidak banyak, hanya kerabat dekat, sahabat dan juga para karyawan.


Rizal menyambut sahabat Dery dengan ramah, termasuk keluarga sahabatnya.


Tapi entah kenapa saat menyalami ibu Ikbal, gurat kemarahan bisa dengan jelas Dery baca.


"kak, kenapa saat ibu Ikbal menyalami kita, kakak seperti tidak suka?" Dery berbisik pada suaminya.


"karena aku tidak akan tinggal diam jika istri dan keluarga ku dihina," tegas Rizal.

__ADS_1


"maksud kakak?"


"sudahlah kita bahas itu nanti, kita sedang menyambut banyak tamu sayang," Rizal mengusap pipi Dery lembut.


Tidak lama Ikbal naik ke pelaminan, menatap nanar wanita yang dia cintai selama bertahun-tahun menikah dengan pria lain.


Ekhem..


"selamat ya tuan Rizal, kau berhasil memenangkan hati Dery." Ikbal memeluk Rizal hangat.


Meski hatinya sangat sakit tapi dia harus kuat.


"terima kasih, kau harus move on. Jangan lagi mendekati istri ku," ketus Rizal, spontan Dery menyikut suami itu.


"apa memang benarkan?"


"kak," Dery melotot kesal.


"suami mu benar jah," Ikbal juga memeluk Dery, "aku akan selalu mencintaimu, berbahagialah Rizal lelaki baik dia akan selalu menjaga mu," bisik Ikbal.


"terima kasih Ikbal, kau adalah sahabat terbaik ku," Dery mengusap punggung Rizal lembut,


Dia bisa merasakan sakit dihati Ikbal, sebenarnya dia tidak tega, tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.


Dery hanya mencintai Rizal.


"sudah jangan peluk istri ku terus," ketus Rizal, menarik Dery dalam pelukannya.


"kakak, dia ini sahabat ku," Dery mencubit keras perut Rizal.


"auuww sakit sayang," ringisnya, "dia memang sahabat mu tapi dia juga mencintai mu sayang," masih saja sewot menatap Ikbal.


Ikbal hanya geleng-geleng kepala, "tenang saja tuan, meski aku sangat mencintai Dery, aku tidak akan merebutnya dari mu," tulus Ikbal.


"jaga dia, jika kau berani menyakitinya sedikit saja, aku pastikan aku akan menculiknya dari mu."


"aku tidak akan pernah menyakiti istri tercinta ku ini, paham kau," Rizal semakin terpancing emosi, jika saja Ramon tidak datang menghampiri mereka.


"Papa, Mama," Ramon memeluk kaki Rizal.


"ehh iya sayang," Rizal berjongkok lalu menggendong Ramon.


Ikbal berjalan perlahan turun dari pelaminan.


Pandangannya tertuju pada live musim yang disuguhkan sebagai penghibur para tamu.


Bersambung....


bantu dukung author dengan like komen dan vote ya dear 😘😘 kasih bunga juga boleh 😁❤❤

__ADS_1


__ADS_2