
"kak..."
Dery terbangun dari tidurnya, entah sudah berapa lama dia tertidur.
Tapi Rizal masih setia duduk disamping brankarnya.
"ya sayang?" Rizal tersenyum hangat menatap sang istri.
"aku lapar kak,"
"aku suapin ya sayang," Rizal meraih makanan dimeja nakas.
"aku tidak mau itu kak," memanyunkan bibirnya.
Rizal menautkan kedua alisnya, menatap heran sang istri yang berubah lebih manja.
"lalu?"
"aku mau bakso kak," membayangkan segarnya kuah bakso saja sudah membuat Dery hampir meneteskan air liurnya.
"baiklah, biar Joe belikan bakso untuk mu,"
"ehh, jangan Joe, kamu sendiri saja yang beli,"
"kenapa harus aku,"
"apa kamu tidak mau?" Dery melirik kesal.
"baiklah, akan aku belikan," Rizal mengecup kening Dery. "jangan marah ya,"
"aku juga mau, es buah dan rujak,"
"haaa"
"semua itu?"
"cepatlah kak, aku lapar,"
"iya iya sayang,"
Rizal berjalan cepat keluar ruangan, menarin Zyan yang tengah duduk didepan kamar Dery.
.
"malam-malam begini dimana aku harus mencari rujak dan es buah Zy," Rizal menatap keluar jendela mobil, berharap menemukan penjual es buah dan rujak.
"kenapa tidak meminta chef dirumah saja tuan,"
"kenapa harus repot-repot mencari penjualnya seperti ini,"
"kau benar, ayo pulang,"
apa semua orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi bodoh begini, batin Zyan kesal.
Zyan memutar kemudinya, melaju secepat mungkin agar segera sampai dirumah.
Sedangkan Rizal sibuk menghubungi kepala pelayan dirumah agar membuatkan makanan yang diinginkan sang istri.
.
Apartemen Marco....
"sialan...." umpat Marco.
"bagaimana semua rencana ku jadi gagal begini, dasar bodoh."
"ma..maaf tuan, penjagaan di rumah sakit itu sangat ketat,"
Bugh
satu pukulan melayang diperut pria dengan wajah garang itu.
__ADS_1
"brengs*k, apa penyamaran suruhan kalian juga gagal?"
"maaf tuan,"
"apa gunanya aku membayar mahal kalian, kerja kalian payah." Marco menggeram marah.
"pergi kalian, pastikan, bagaimana pun caranya, bukti itu tidak sampai pada Rizal sesuai waktu yang ditentukan."
"baik tuan,"
"jika kalian gagal lagi, aku pastikan kalian akan menyesal."teriaknya pada dua pengawal itu.
Mereka hanya mampu mengangguk patuh, bagaimana pun mereka sudah terikat janji pada Marco.
Mereka harus mematuhi perintah Marco, jika tidak ingin hidup dalam penyesalan seumur hidup.
Anak dan istri mereka jadi tahurannya.
Aku harus mengubah rencana, jika Rizal tahu semuanya, maka kesempatan ku untuk membawa Dery, akan hilang.
Rencana terakhir ini harus berhasil, peduli set*n dengan wanita rubah itu.
Biarkan saja jika dia tertangkap, yang penting aku bisa membawa Dery bersama ku.
.
Rizal sudah berada didalam ruang rawat sang istri, dan membawa semua pesanan yang dimintanya.
"sayang, ini pesanan mu," Rizal sudah duduk di samping Dery.
"terima kasih," wajah Dery tampak berbinar.
Rizal membuka satu persatu bungkusan yang dibawanya.
"mau makan yang mana dulu sayang?"
"emm, aku mau bakso"
Dengan telaten Rizal menyuapi Dery,
Padahal baru satu suap, tapi dia sudah menolak bakso ini.
"tapi ini baru satu suap sayang," paksa Rizal.
Aroma bakso kan memang seperti ini, apanya yang salah coba.
Apa istri ku ini sengaja mengerjai ku.
"jangan paksa aku," rajuk Dery.
"aku mau makan rujak saja,"
Dery meraih piring berisi rujak, memakannya dengan lahap.
"jangan terlalu banyak makan rujak sayang, nanti perut mu sakit." Rizal mengusap-usap pipi Dery.
"hmm..."
"kak, habiskan bakso itu, jangan buang-buang makanan, itu tidak baik,"
Rizal hanya melongo menatap Dery,
dia yang minta kenapa jadi aku yang menghabiskan.
sayang aku bahkan tidak suka makan makanan seperti ini.
Rizal terpaksa memakan bakso itu, meski dia tidak menyukainya tapi demi sang istri Rizal mau melakukan apapun.
Diluar ruangan Zyan dan Joe masih sibuk mencari bukti-bukti kejahatan Monica.
Serta mengawal ketat proses tes DNA yang dilakukan di rumah sakit ini.
__ADS_1
Meski awalnya Monica menolak tes itu dilakukan dirumah sakit milik Arandra group ini, tapi akhirnya dia pasrah mengikuti semua aturan yang Rizal berikan.
Wanita itu masih meyakini jika Marco akan dengan mudah menembus pengawalan ketat yang Rizal lakukan.
Dia bahkan tidak tahu, jika orang-orang suruhan Marco gagal melakukan rencana yang sudah Marco susun dengan sangat matang.
Kini hanya menghitung hari sampai hasil tes itu sampai ditangan Rizal.
Dan jika Rizal tahu semuanya, maka habislah mereka semua.
Bukan cuma wanita itu, Marco dan Mike juga akan mendapatkan pembalasan yang berat.
Marco tahu benar bagaimana Rizal, dia tidak akan mengotori tangannya untuk melawan musuh-musuhnya.
Dia akan membuat musuhnya mati dengan sangat menyakitkan dan menderita.
Orang yang sedang dikejar Rizal saat ini adalah Mike.
Mereka sudah tahu, jika Mike yang menemui Rizal direstoran itu, bukanlah Mike orang kepercayaan dari perusahaan yang meminta kerja sama dengan perusahaan Rizal.
Mereka Mike yang berbeda, satu nama dengan dua orang yang berbeda.
.
Kini Dery sudah tidur pulas setelah menyantap rujak dan es buah yang dia inginkan.
Dery masih belum memberitahu Rizal jika dirinya kini sedang mengandung.
Dokter yang merawat Dery juga tidak berani melanggar perintah istri pemilik rumah sakit ini.
Jika saja dokter Ilham ada disini mungkin dokter wanita itu akan menceritakan semuanya padanya.
Hanya dokter Ilham orang yang berani membujuk Dery atau Rizal, jika seperti ini.
Rizal keluar ruangan menemui Zyan dan Joe.
"apa kalian sudah menemukan petunjuk tentang pria itu?"
Joe dan Zyan menggeleng samar.
"sepertinya, mereka sudah merencanakan ini dengan matang tuan."
"huuuhhh" Rizal membuang nafas kasar.
"kita hanya bisa memperkecil kemungkinan tes DNA itu dimanipulasi oleh Monica,"
Mendengar nama wanita itu disebut membuat Rizal melirik tajam kearah Joe.
"Mak..maksud saya wanita itu."
Sejak pengkhianatan yang dilakukan Monica dulu, Rizal memang sangat membencinya.
Dia tidak ingin nama wanita itu disebut, di depannya. Bahkan melarang keras semua orang yang bernama Monica masuk dalam jajaran karyawan di semua perusahaan milik Arandra group.
Jika ada yang bernama Monica disana, maka mereka harus merubah nama itu jika berada didalam kantor.
Memang terkesan berlebihan, tapi begitu lah Rizal. Jika ada sesuatu yang dia benci maka, dia tidak akan melihat apa lagi menyentuhnya.
Prinsip itu juga yang membuat Zyan dan Joe, tidak mempercayai bukti yang Monica berikan tempo hari.
Mereka tahu betul Rizal sangat membenci Monica, semua barang-barang milik Monica yang tertinggal dirumah Rizal bahkan sudah dia buang.
Kamar bekas Monica juga sudah dirubah sedemikian rupa agar kenangan tentang Monica sirna.
"jika hasil tes DNA itu sudah keluar, kalian tahu harus berbuat apa kan?"
Dengan gaya cool dan tenangnya Rizal menatap Zyan dan Joe bergantian.
"tentu tuan," jawab Joe mengerti, Zyan tersenyum dan mengangguk senang.
Mereka terlihat sangat senang, seperti mendapatkan mainan baru.
__ADS_1
bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote ya 😘😘❤❤