
Tiga hari berlalu....
Di rumah Arandra terdengar riuh dengan celotehan anak yang sedang merajuk. Merengek mencari keberadaan sang ayah yang tak kunjung pulang beberapa hari ini,
Bahkan mengabari pun tidak.
"dimana daddy ma, aku ingin bersama daddy, " menghentakkan kaki berulang kali, membuat sang ibu kewalahan.
"daddy sedang ada pekerjaan sayang, papa sedang mencoba menghubungi daddy mu, " bujuk Dery dengan sabar.
Daniel kamu dimana, apa kamu tidak tahu kami semua khawatir.
"sayang, apa sudah ada kabar dari Daniel? " bisik Dery pada Rizal.
Rizal hanya menggeleng.
Daniel memang keterlaluan, kenapa pergi tidak mengabari siapapun. adik kurang ajar.
"pergilah jalan-jalan dengan aunti Dena sayang, setelah pulang daddy mu pasti sudah dirumah, " bujuk Rizal.
Dena mengangguk sambil memeluk Ramon sayang, "dengarkan aunti sayang, daddy sedang membuat kejutan untuk mu jadi jangan ngambek begitu, ayo kita pergi ke mall dan bermain di sana, "
Mendengar kalimat Dena, Ramon terlihat lebih tenang. Bangkit dari duduknya menarik tangan Dena.
"ayo aunti, " bersemangat,
__ADS_1
Semua orang bisa menarik nafas lega. Akhirnya Ramon luluh dengan bujukan Dena, kini mereka tinggal mencari keberadaan Daniel dan membawanya pulang.
.....
Tak lama setelah kepergian Ramon dan Dena, seorang pelayan masuk dengan membawa banyak barang belanjaan.
Belum sempat Dery mengajukan pertanyaan, Daniel muncul dari pintu utama.
"niel, " seru Dery dengan sedikit kesal. Diikuti tatapan tajam dari Rizal dan tuan Rahadi.
"kemana saja kau, pergi tanpa memberi kabar, " sungut Rizal.
Daniel mendudukan diri disofa sebelum menjawab pertanyaan Rizal, mengatur nafasnya yang sedikit terengah. "maafkan aku ayah, kak, kemarin aku ada sedikit urusan sampai aku lupa mengabari kalian, "
Melihat wajah Daniel yang sedikit pucat dari biasanya serta nafasnya yang sedikit terengah.
"urusan apa sampai kamu tidak sempat memberi kabar, "
"apa kamu baik-baik saja? " ceplos Dery, matanya tak beralih dari wajah Daniel.
Mengangguk mantap, "aku baik kak, " bangun dari sofa " aku ingin membersihkan diri dan istirahat, jika nanti Ramon pulang tolong berikan semua ini untuknya ya, " berjalan sedikit cepat tanpa menjawab pertanyaan Rizal. Sebelum semakin banyak pertanyaan lebih baik ia segera masuk kamar pikirnya.
Tuan Rahadi Rizal dan Dery hanya saling pandang, sepertinya bukan hanya Dery yang merasakan keanehan pada Daniel.
Tak biasanya Daniel seperti itu, terlebih Daniel sangat menyayangi putranya, mustahil jika ia tak ingat untuk mengabari Ramon, batin mereka.
__ADS_1
Didalam kamar...
Setelah mengunci pintu Daniel duduk termenung ditepi ranjang. pikirannya berlarian entah kemana, tubuhnya terasa lemah.
Beberapa kali matanya berkaca-kaca tapi tak sampai ada air mata yang menetes.
Sesekali bibirnya tersungging, entah apa yang sedang ia tertawakan.
keluarganya sudah sangat bahagia sekarang. gumamnya.
Harusnya dia juga bahagia karena dikelilingi keluarga dan sahabat yang sangat menyayanginya.
Mengkhawatirkan keadaan dan keberadaannya.
Tapi dalam hatinya ada kegundahan yang tidak bisa ia bagi kepada siapa pun, entah itu ayah atau sang kakak.
Jangan usik kebahagiaan keluarga mu Daniel. Mereka harus terus bahagia. kamu bisa melewati semua ini sendiri.
Daniel menggenggam erat tanganya, meyakinkan diri jika semua akan baik-baik saja. Kebahagiaan keluarga dan juga Ramon adalah prioritasnya saat ini.
Tidak ada satu hal pun yang akan mengurangi kebahagiaan keluarga Arandra, sekarang atau nanti.
*Dua bab lagi ya readers... selamat membaca salam sayang dari othor sehat selalu kalian semua.... 😘😇
jangan bosan2 baca karya othor ya 😁*
__ADS_1