
Sudah satu Minggu lebih Dery menghilang, tidak ada kabar darinya, tidak ada petunjuk apapun tentang keberadaannya, orang-orang utusan Ikbal, Roby dan Reno sama sekali tidak memberikan titik terang.
Semua jalan yang mereka telusuri, buntu.
Keadaan yang membuat Ikbal frustasi, semua pekerjaan dia tinggalkan untuk mencari keberadaan Dery.
Selalu marah kepada semua orang, hingga tidak ada yang berani melaporkan perkembangan pencarian Dery secara langsung padanya.
Siang ini Reno datang menemui Ikbal, Roby sudah menyerah untuk membujuk Ikbal yang terus saja menenggak minuman keras.
"apa dengan merusak diri mu sendiri, Dery akan kembali bal?" Reno berdiri didepan pintu kamar, "apa kamu lupa, jika Dery sangat membenci minuman itu?" menunjuk botol diatas meja.
"apa kakak sudah menemukan keberadaan Dery?" mendongak menatap Reno penuh harap.
"tidak ada petunjuk apapun tentang keberadaannya," Reno memasukan botol-botol itu kedalam kardus, lalu meminta seorang pelayan untuk membuangnya.
"lalu kenapa kakak kemari? aku sungguh mengkhawatirkan Dery kak," mengacak rambutnya frustasi.
"aku tau kamu mengkhawatirkan Dery, semua orang juga bal, tapi bukan berarti kamu harus merusak diri mu sendiri kan?" Reno duduk di samping Ikbal.
"sebaiknya kakak keluar, aku hanya ingin sendiri sekarang," setetes air mata lolos dari mata Ikbal.
"Ok baiklah, tapi aku harap kamu jangan lagi meminum air setan itu," bangun dari duduknya,
"satu hal lagi, jika kamu memang mencintai Dery, bangkitlah ayo kita cari dia bersama, jangan buat Dery merasa bersalah karena saat dia pulang nanti, dia melihat kondisimu sudah seperti orang gila." menepuk kepala Ikbal, sebelum benar-benar pergi dari kamar Ikbal.
****
__ADS_1
Ditempat lain, Dery sedang berdebat dengan Zyan dan juga Rizal.
"apa kalian pikir aku ini penyakitan haah?" sudah berkacak pinggang dengan judesnya, "aku ini baik-baik saja, suruh saja dokter itu pergi!! aku baru saja keluar dari rumah sakit dan sekarang akan diperiksa lagi, apa kalian sudah gila?" Dery benar-benar tidak habis pikir,
Rizal tetap kekeh membujuk Dery, tidak peduli jika Dery memukuli dirinya sekalipun.
"ayo lah der, aku hanya ingin tau kenapa hidung mu sering berdarah, itu saja,"
"kau saja periksa sendiri, apa aku dibawa kesini untuk dipaksa menuruti kemauan mu? jika iya lebih baik aku pergi, apa bedanya diri mu dengan Marco. kalian sama saja!!!!" melihat mata Dery sudah berkaca-kaca dan mendengar ucapan Dery sukses membuat Rizal tidak bisa berkata-kata.
Dengan hanya melambaikan tangan Zyan sudah tau maksud Rizal. Zyan membawa dokter dan para pelayan untuk keluar dari kamar Dery. Sungguh baru kali ini Zyan melihat Rizal tidak berkutik dihadapan seorang wanita.
"apa tuan Rizal mencintai Dery? kenapa dia begitu takut jika Dery merasa tersakiti, melihat Dery berkaca-kaca saja membuat tuan Rizal tak berdaya," batinnya.
"Mereka sudah pergi, apa kau akan terus marah pada ku?" Rizal duduk didepan Dery.
"aku minta maaf jika aku terlalu memaksa mu," Dery hanya melirik kesal.
Melihat Rizal seperti itu, Dery malah tersenyum, "sudahlah aku hanya bercanda, kamu kenapa seperti itu, aku tidak benar-benar marah padamu," Rizal yang melihat Dery tersenyum lagi, merasa sangat bahagia.
"kau ini, kenapa menggemaskan sekali sih," mencubit hidung Dery. "itu artinya kau mau diperiksa kan?" Rizal sudah berdiri menyilang kan tangan didada.
"tentu saja tidak," mengedikan bahu.
"pak tua, bisakah kau keluarga dari kamar? aku ingin tidur," mengerucutkan bibir lagi.
"apa? kau panggil aku apa tadi?" berkacak pinggang wajahnya memerah kesal.
__ADS_1
"apa kau tidak mendengar tadi, pak tua," Dery tertawa, sambil mendorong Rizal keluar dari kamar.
"awas kau yaa," teriak Rizal dari luar kamar, menggeleng berkali-kali. wanita ini benar-benar membuatnya kehilangan akal.
"Apa yang kalian lihat," Bentak Rizal pada Zyan dan pelayan yang memperhatikan dirinya dari tadi.
Semua hanya menunduk takut, "baru satu menit yang lalu dia terlihat sangat manis sekarang sudah berubah kaku lagi." batin Zyan.
"ma..maaf tuan," jawab Zyan takut.
"panggil Joe, suruh keruang kerja sekarang, kau juga." tegas Rizal
****
Rizal duduk di sofa menyandarkan kepala, memandang langit-langit ruang kerjanya, seolah mencari jawaban dari segala kegelisahan yang dia rasakan.
Tok tok tok, terdengar ketukan pintu. "kalian masuklah," Rizal masih belum merubah posisinya.
"ada yang bisa saya kerjakan lagi tuan?" Joe membuka suara.
"tidak, aku hanya ingin tau, apa tugas yang aku berikan sudah kau laksanakan?" Rizal menatap Joe serius.
"sudah tuan, semua sudah beres. Kita hanya perlu menunggu kabar penemuan saja, mungkin besok pagi tuan akan mendengar kabar itu." jelas Joe.
"Ok bagus, kau boleh pergi," setelah Joe meninggalkan ruang kerja Rizal, sekarang hanya tinggal Zyan dan Rizal saja.
"Zy Carikan guru beladiri untuk Dery, guru terbaik, dan bantu Dery mengubah penampilannya, jangan lupa buat jadwal pertemuan dengan psikolog untuk Dery" Rizal memberikan tugas pada Zyan. "satu lagi jangan sampai ada satu orang pun yang tau keberadaan Dery." tegasnya, Zyan hanya menunduk hormat lalu keluar.
__ADS_1
Rizal benar-benar ingin Dery keluar dari masa lalunya, dia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga Dery sekuat yang dia mampu.
*cerita ini hanya fiktif* semoga kalian suka, jangan lupa like dan komen ya dear 🙏🙏❤❤