Janda Judes

Janda Judes
Kejutan 2


__ADS_3

Jack meringis kesakitan kala tali yang mengikat tubuhnya dilepaskan. Rizal yang menatap tubuh Jack bisa memastikan jika pria kepercayaan ayahnya ini, sudah cukup lama terikat dan digantung diatas pohon.


"apa yang sebenarnya terjadi pada mu Jack?" tanya Sam dengan menahan tawanya.


"wanita itu benar-benar membuat aku tertipu tuan" seloroh Jack bangkit dari duduknya.


Joe yang melirik kesal pada Jack hanya tersenyum sinis.


"apa lagi-lagi kau tebar pesona pada wanita liar diluar sana?" sindir Joe dengan wajah kesalnya. "untung saja Juii aku perintahkan untuk melanjutkan pendidikan dan jauh dari markas, jika tidak tentu saja dia akan terjebak dengan laki-laki seperti mu," dengusnya lalu beranjak meninggalkan kerumunan.


"diam kau, sialan," sentak Jack tak terima.


Semua orang yang ada di sana hanya bisa menggeleng, melihat kelakuan Jack dan juga Joe.


"apa kalian berdua tidak bisa sekali saja tidak bertengkar saat bertemu?" ucap Zyan jengah.


"Tidak!!" sahut Jack dan Joe berbarengan, membuat Rizal dan Sam memutar bola mata malas.


Rizal menarik lengan Jack, " katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rizal penuh selidik. "kenapa kau bisa digantung diatas pohon seperti itu?"


Flashback


Siang itu Jack yang sedang mengerjakan tugasnya diruang khusus miliknya dimarkas, menerima pesan dari nomor yang tidak dia kenal.


Bisakah kau menemani ku makan di resto XX siang ini? anggap saja aku meminta imbalan karena kau selamat berkat diri ku.


Isi pesan itu membuat Jack mengingat wanita yang tempo hari menyelamatkan dirinya saat ia dengan ceroboh menerobos masuk wilayah The BlackDelta.


"gadis itu? bagaimana dia tahu nomor ponsel ku," Jack bermolog sendiri sambil memandangi layar ponselnya.


Baiklah, aku akan mentraktir mu.


Setelah mengirimkan pesan balasan Jack bergegas keluar dari markas, untuk menemui wanita bernama Jenny itu.


Tidak lupa ia menitipkan pesan pada anak buah yang berjaga dimarkas, tentang kemana dia akan pergi.


Mobil Jack membelah jalanan kota hampir 30 menit lamanya, sampai ia tiba di restoran tempat Jenny menunggu dirinya.


Dari luar restoran Jack bisa melihat Jenny yang duduk tepat samping jendela kaca.


Gadis itu mengingatkan ku pada seseorang... gumam Jack.


Dengan langkah cepat Jack memasuki restoran, dan tanpa permisi kini pria itu sudah duduk tepat didepan Jenny yang masih asik dengan ponselnya.


"kau sudah datang rupanya," seru Jenny dengan senyum manis diwajahnya.


"yah..." Jack mengerlingkan sebelah matanya, "aku langsung meluncur kemari, saat tahu jika orang yang mengajak ku makan siang adalah wanita cantik nan tangguh seperti diri mu," ucap Jack dengan gaya coolnya.


Dasar kadal buntung, bisa-bisanya dia mencoba merayu ku. batin Jenny kesal.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan rayuan Jack, Jenny langsung memanggil pelayan.


"silahkan pesan duluan tuan Jack,"


"wanita lebih dulu," goda Jack, membuat Jenny memutar bola mata malas.


Awas saja kau nanti, aku pastikan kau akan menyesal telah berani menggoda ku, gumam Jenny pelan.


Setelah memesan makanan, Jack dan Jenny hanya saling diam.


Jack menatap kagum pada Jenny, sedangkan wanita itu hanya sesekali melirik kesal pada pria Casanova dihadapannya ini.


Hingga mereka menghabiskan makanan dimeja, keheningan masih saja terjadi.


Ekheem...


Jack berdehem untuk mencairkan suasana.


"Hei nona, kenapa sejak tadi kau hanya diam saja, hmm? apa kau mulai terpesona dengan ketampanan ku?" goda Jack tanpa ada rasa malu.


"Tentu saja, memangnya wanita mana yang tidak terpesona padamu tuan Jack," balas Jenny dengan gaya centilnya.


"bisakah setelah ini kau temani aku berjalan-jalan mengelilingi kota?" pinta Jenny dengan suara selembut mungkin.


"tentu saja," angguk Jack penuh semangat.


"apa kau tidak sedang sibuk, tuan?"


Sedangkan dibalik punggung Jack, Jenny justru menampilkan wajah geram penuh amarah.


Akan aku balas kau Jack!!!


Jack yang berjalan didepan Jenny, dengan cekatan langsung membukakan pintu mobil untuk wanita cantik itu.


Dan saat Jack masuk kedalam mobil, belum juga dia mengenakan sabuk pengaman, tiba-tiba kepalanya terasa begitu berat, lalu pria itu kehilangan kesadaran.


Dengan cepat Jenny keluar dari dalam mobil dan membuka semua jendela mobil agar udara segar masuk.


Flashback off


"Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi tuan, tiba-tiba aku sudah tergantung disini," Jack menutup ceritanya dengan wajah kesal.


Bhahahaha dengan lantangnya Joe menertawakan Jack yang begitu bodohnya ditipu oleh seorang wanita.


"berarti kau sudah digantung disana hampir 2 hari, Jack?" Rendy melirik batang pohon besar tempat Jack digantung.


"entahlah, tapi aku sadar saat mendengar suara mobil kalian datang," seloroh Jack.


Tidak lama, Joe menarik baju bagian belakang Jack. "sepertinya kita sudah menemukan petunjuknya, tuan," Joe menyerahkan selembar kertas dibalik baju Jack.

__ADS_1


Dengan perlahan Rizal membaca dengan teliti setiap kata dalam kertas itu.


"Kita harus kemarkas The BlackDelta sekarang juga," titah Rizal tegas.


"apa pasukan kita cukup tuan?" tanya Zyan.


"apapun yang terjadi kita harus kesana, baby R dalam bahaya," dengan langkah cepat Rizal masuk kedalam mobilnya, disusul tuan Rahadi dan juga yang lain.


Deru mesin mobil memecah keheningan jalanan sepi pinggir hutan itu. Semua orang sudah siap menyerang musuh mereka demi bayi mungil yang kini dalam bahaya.


Tidak butuh waktu lama, rombongan Rizal kini sudah tiba tepat didepan markas musuh mereka.


Entah apa yang sedang mereka pikirkan, tapi mereka nampak heran karena markas itu nampak sepi, hanya beberapa pengawal yang berjaga didepan gerbang.


Dengan cepat Zyan sendiri pun sudah mampu melumpuhkan mereka.


Lalu mempersilahkan Rizal dan juga rombongan untuk menerobos masuk.


Meski nampak tenang tapi kilatan kemarahan terlihat jelas dimata tuan Rahadi.


Pria paruh baya itu, sudah kehilangan kesabarannya.


"Sonya!!!" Teriaknya lantang tanpa rasa takut, bahkan Rizal begitu tercengang saat mendapati sang ayah begitu murka.


Selama ini tak pernah ia lihat Tuan Rahadi marah sebesar ini.


Tap...Tap...Tap...


Suara langkah kaki memenuhi ruangan itu.


"Haiii" sapa wanita paruh baya itu diambang pintu. "apa kabar mantan suami ku?" serunya tak kalah lantang.


"tidak perlu basa-basi lagi Sonya, dimana cucu ku?" Tuan Rahadi sudah maju beberapa langkah mendekati Sonya.


"apa kau belum puas menghancurkan hidupku dan juga putra-putra ku, hahh?"


"Aku akan puas saat melihat mu mati, dan tidak ada satupun keturunan mu yang tersisa," tantang Sonya. "kenapa kau mencari bayi sialan itu kemari? aku bahkan belum pernah melihat rupanya,"


"Siapa lagi manusia kejam yang mampu memisahkan anak dari ibunya, jika bukan dirimu Sonya." Nampak jelas kilatan amarah diwajah tuan Rahadi, Rizal bahkan sudah mengepalkan kedua tangannya demi menahan emosi.


Sedangkan lawannya hanya tertawa lantang, tanda memberikan tantangan.


Tak ada rasa takut diwajah Sonya, wanita itu bak iblis yang tak mempunyai hati.


"jika bayi itu ada padaku, sudah aku pastikan dia akan hidup menderita seperti istri tercinta mu, atau bahkan mati mengenaskan seperti sahabatmu yang bodoh itu!!" teriaknya.


Bagaikan disambar petir kata-kata yang keluar dari mulut Sonya membuat Tuan Rahadi seperti kehilangan kekuatannya.


Berarti benar apa yang Ratih katakan, istri ku Risya masih hidup. batin Tuan Rahadi berkecamuk.

__ADS_1


Sonya....


Bersambung....


__ADS_2