
Sore hari Dery baru bangun, dia merasa tubuhnya begitu sakit dan lemas.
"auw kepala gue sakit, lemes banget lagi badan gue" batin Dery belum benar sadar.
Saat Dery sudah membuka mata, dia merasa tubuhnya berat, seperti ada yang memeluknya erat.
Dery melihat tangan kekar melingkar di perutnya, dan dia tidak menggunakan pakaian, tubuhnya hanya tertutup selimut.
Belum sepenuhnya mengingat apa yang telah terjadi tapi air mata Dery sudah mengalir begitu derasnya,
melihat keadaannya sendiri yang begitu berantakan.
Melihat laki-laki yang memeluknya adalah Marco membuat hatinya semakin hancur. Dengan kasar Dery mendorong Marco menjauh darinya.
Marco yang kaget mendapat dorongan dari Dery pun terbangun, dengan senyum menjijikkan.
"haii sayang kamu sudah bangun?" tanya Marco tanpa rasa bersalah. " jam berapa ini" melihat jam di ponselnya. "wah sudah sore ternyata, saking semangatnya sampai lupa waktu" lanjut Marco bangga.
"apa yang bapak lakukan pada saya?" teriak Dery dan menampar wajah marco keras terus memukul dengan sisa tenaga yang Dery miliki.
Marco yang sudah menduga Dery akan Semarah ini, dia tidak terpancing emosi.
__ADS_1
"ya ini yang sudah terjadi, kamu juga menginginkan ini, kenapa kamu semarah ini sayang?" santai Marco menarik tangan Dery.
"apa bapak gila, saya tidak pernah menginginkan ini pak, saya benci sama bapak" maki Dery kepada Marco.
Lagi-lagi Marco hanya tersenyum, "ini semua sudah terjadi der, kamu bisa apa?"
Dery yang ingin bangun dari tempat tidur tidak bisa bergerak karena rasa sakit yang dia rasakan.
Marco benar-benar kehilangan akal, entah berapa kali Marco melancarkan aksinya hingga membuat Dery tidak bisa berdiri.
Melihat Dery menangis membuat Marco ingin mengulang lagi.
Setelah selesai menuntaskan hasratnya, Marco mengangkat tubuh Dery ke kamar mandi,
membiarkan Dery berendam dengan air hangat, agar tubuhnya lebih segar dan sedikit mengurangi rasa sakit karena ulahnya.
Sebelum meninggalkan kamar mandi Marco memberi solusi.
Bukan, ini memang rencana Marco dari awal, ingin menikahi Dery tanpa penolakan.
"sayang, setelah apa yang kita lakukan, seharusnya kita menikah." usul Marco mengusap wajah Dery lembut.
__ADS_1
Dery hanya memalingkan pandangan, tidak ingin melihat wajah Marco.
"Saya tidak ingin menikah dengan bapak!" jawab Dery tegas.
"kalau kamu tidak mau menikah dengan saya, tidak masalah, tapi jika nanti ada orang yang tahu tentang ini, apa yang akan mereka pikirkan tentang kamu, dan kalau orang tua kamu tahu atau kamu hamil, saya tidak akan bertanggung jawab." Marco berdiri dan keluar dari kamar mandi.
Mendengar ucapan Marco tentang orang tuanya Dery menjadi sangat hancur, bagaimana jika mereka tahu, mereka pasti sangat kecewa,
hati Dery masih terus berperang antara mau menikah dengan Marco yang sudah merenggut mahkotanya secara paksa dan melupakan semua kejadian ini atau menolak menikah dengan Marco dengan segala resiko yang akan dia tanggung sendiri.
Hampir satu jam Dery dikamar mandi, dia hanya merenung, menangis dan terus menangis.
Tidak lagi memperdulikan apa yang akan terjadi nanti,
yang terlintas dalam pikiran Dery hanya ingin segera mengakhiri semua ini.
Emosi yang begitu menguasai diri Dery hingga dia memukul keras kaca didepannya, melihat serpihan kaca berserakan tanpa pikir panjang Dery menggoreskan kaca tajam di urat nadinya.
Bruk, Dery jatuh tak sadarkan diri, dengan darah mengalir di tangan kirinya.
*cerita ini hanya fiktif* maaf jika masih ada kesalahan, semoga kalian suka ya dear🙏❤ jangan lupa like dan komen.
__ADS_1