
Ditempat yang jauh,
Seorang pria sedang berjuang keras agar bisa lepas dari belenggu hidup yang menyiksanya beberapa bulan ini.
Jauh dari hiruk pikuk kota, dan tanpa fasilitas yang biasa dia dapatkan di kota. Kehilangan semua kemewahan yang selama ini dia nikmati.
Karena kebodohan dan obsesinya, dia harus menerima hukuman atas kesalahan yang telah dia lakukan.
Melukai wanita itu saja sudah membuatnya harus menerima hukuman berat, ditambah dia juga berkhianat dengan orang yang sudah menghancurkan hidup tuannya dulu.
Marco, dalam keadaan yang terpuruk, hari-harinya dia habiskan untuk menyesali segala perbuatan yang sudah dia lakukan.
Dia sedang duduk sendiri dirumah kecil tempat tinggalnya selama dalam pengasingan, saat suara seseorang mengagetkan lamunannya.
"Marco," wanita itu berdiri tepat di depan Marco.
"ka...kau?" Marco menatap tidak percaya pada wanita yang ada dihadapannya. "bagaimana kau bisa sampai disini?"
"haha...apa yang tidak bisa aku lakukan co," sengaja duduk diatas meja depan Marco, menampilkan paha putih mulusnya. "ikutlah dengan ku, maka kau akan terbebas dari tempat terkutuk ini,"
Tanpa pikir panjang Marco mengangguk, tidak akan ada kesempatan datang dua kali kan. Apalagi tempat ini tidak banyak yang tau tempat ini kecuali orang-orang Rizal.
Wanita itu tersenyum senang, setelah dia berhasil membawa Marco keluar dari tempat itu, dia akan melancarkan semua rencananya.
.
Di kota.....
Marco berhasil keluar dari tempat pengasingannya berkat wanita ini, kini setelah Marco merubah identitasnya dia bisa beraktivitas seperti biasa.
"wow, kau terlihat tampan co," wanita yang sedang duduk di sofa apartemennya itu berdiri menghampiri Marco yang baru saja keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Marco hanya menunduk tersenyum tipis, "terima kasih sudah menolong ku,"
"jangan sungkan co," wanita itu melingkarkan tangannya pada leher Marco, mencium bibir Marco dengan sangat rakus,
"bisakah kau membantu ku sekarang," wanita itu melepaskan ciumannya, lalu membuka kancing kemeja Marco, Mendorongnya hingga terduduk disofa.
"aku ingin merasakan kekuatan mu sayang," bisiknya tepat ditelinga Marco.
"tentu sayang," Marco yang sudah lama tidak bisa menyalurkan hasratnya, merasa senang.
Hari itu seakan mereka sedang bermandikan keringat, saling memuaskan satu sama lain.
Sepanjang hari mereka habiskan didalam apartemen, menyalurkan hasrat mereka masing-masing.
.
Ditempat lain,
Sudah lama Dery tidak datang ke panti, tepatnya sejak Dery kecelakaan dan harus dirawat cukup lama, baru kali ini Dery bisa datang lagi ke panti.
"selamat sore mbak Dery," sambut ibu panti saat Dery baru saja turun dari mobil.
"sore Bu, maaf saya baru bisa datang lagi sekarang," ramah Dery. "boleh saya menemui anak-anak?"
"tentu mbak, mari saya antarkan," ibu panti mempersilakan Dery masuk ke dalam.
Saat Dery baru menginjakkan kaki di dalam ruang panti, anak-anak sudah berlari mendekati Dery dan Rizal.
"kakak..." seru anak-anak.
"hallo sayang, apa kalian merindukan kakak?" memeluk anak-anak bergantian, "ohh ya apa mainan dan pakaian dari kakak sudah kalian terima?"
__ADS_1
"kami sangat merindukan kakak," sahut anak laki-laki bernama Ramon, "terima kasih ya kak, kami suka semua pemberian kakak," memeluk Dery dengan sayang.
"aku juga merindukan kalian semua, terutama kamu kakak merindukan kecerewetan mu," Dery mencubit pipi Ramon gemas.
"siapa Om ini kak?" Ramon terlihat kesal melihat Rizal yang dari tadi mengekori Dery.
"ini Om Rizal sayang, ayo cium tangannya," Rizal sudah duduk disamping Dery, hendak mengulurkan tangan saat Ramon dengan tegas menolak kehadiran Rizal.
"tidak, aku tidak mau mencium tangannya," ketus Ramon, padahal anak-anak lain saling berebut mencium tangan Rizal.
"kenapa?" tanya Dery.
"karena dia mendekati kakak terus dari tadi, aku tidak suka," polosnya. Dery hanya terkekeh melihat tingkah lucu Ramon.
"hei anak kecil, Dery ini calon istri ku, jadi dia milik ku," Rizal tidak mau kalah dengan Ramon.
"kak Dery ini milik ku," seru Ramon.
"milikku bocah kecil, memangnya kau bisa melindungi Dery? kau kecil begini," Rizal sengaja memeluk Dery.
"tidak, kak Dery hanya milik ku," teriak Ramon semakin kesal. "jangan memeluk kak Dery ku," Ramon menggigit tangan Rizal.
"Aargghh kau ini menyebalkan sekali," Rizal melotot kesal.
"kak, apa kau tidak malu bertengkar dengan anak usia 6 tahun?" melirik Rizal kesal. "sebaiknya kakak kesana dulu deh, aku mau menemani anak-anak ini main," bujuk Dery.
"ck, baiklah tapi jangan lama-lama, aku tidak bisa terlalu lama berjauhan dengan mu," rengek Rizal.
"kak, jangan seperti anak kecil," memelototi Rizal saking kesalnya.
dia bahkan lebih manja dari Ramon dan anak-anak ini, apa dia tidak malu.
__ADS_1
bersambung......