Janda Judes

Janda Judes
108 Di Pingit.


__ADS_3

Dery sedang duduk menikmati sarapan paginya, sudah tidak sabar menunggu Rizal yang masih belum bangun.


Joe dan Zyan juga sarapan bersama dengan Dery. Mereka selalu suka masakan yang dibuat Dery.


"nona, kenapa anda tidak membuka restoran saja, atau makanan ini dimasukkan dalam menu dicafe." ceplos Zyan


"haha ini makanan murah dan sederhana Zy, lagi pula dicafe kan hanya menyediakan makanan ringan pendamping kopi saja." Dery tersenyum


"tapi ini enak sekali, bahkan koki disini saja kalah," cibir Zyan.


"jangan berkata seperti itu, jika tuan muda menyebalkan itu mendengar bisa dipastikan koki disini akan diganti."


Joe makan tanpa bersuara sedikit pun, dia benar-benar menikmati makanan yang Dery masak. Bahkan dia enggan mengomentari percakapan Dery dan Zyan.


Sampai Joe melihat Rizal berjalan kearah mereka,


meski mencoba menahan tawanya, tapi Joe akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat wajah cemong Rizal.


Zyan juga ikut tertawa saat melihat bos nya yang nampak konyol.


Sedangkan Dery hanya tersenyum memalingkan pandangannya.


"apa yang kalian tertawakan, haahh?" dengus Rizal masih belum menyadari wajahnya yang terlihat konyol karena ulah Dery.


"apa tuan sedang bermain badut-badutan?" Joe mencoba menghentikan tawanya, perutnya sudah sangat kram saat ini.


"apa maksud mu,"


"lihat ini," Zyan memotret Rizal, lalu menunjukkan pada bos nya itu.


" apa ini," Rizal menatap tajam pada Dery, "apa yang kamu lakukan pada wajah tampan suami mu ini sayang," Rizal mencubit hidung Dery gemas.


Tawa Dery pecah, sudah tidak sanggup lagi menahan tawanya.


"maaf kak maaf, tadi aku mencoba membangunkan mu tapi kamu malah semakin nyenyak tidur, aku hanya iseng," Dery memeluk pinggang Rizal, menyembunyikan wajahnya.


"beraninya kau," Rizal menggendong Dery berjalan cepat menuju kamarnya.


"aahhh kak turunkan aku, iya aku minta maaf kak," teriak Dery.


"tidak semudah itu," Rizal membanting pintu, berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan Dery disana.


"berani sekali kau ya," dia tersenyum smirk.


"maaf kak maaf," Dery berguling menjauh dari Rizal.


Secepat kilat Rizal menarik tangan Dery lalu menggelitiki gemas.


"ampun Kak, geli lepaskan," teriak Dery.


Puas menggelitik Dery Rizal menjatuhkan diri disamping kekasihnya itu,


"bersihkan wajah ku,"


"tidak akan," Dery masih mengatur nafasnya.


"mau aku gelitik lagi?" ancamnya.

__ADS_1


"iyaaa iya" Baru akan melangkah turun dari kasur, ponselnya berdering.


~nak, kapan kamu pulang, kamu harus dipingit beberapa hari sebelum acara ijab qabul, apa pemotretannya belum selesai?~ ayah.


~aku akan pulang yah, sebentar lagi sampai,~ Dery.


"kak antarkan aku pulang, ayah sudah mengirimkan pesan," Dery menunjukkan pesan yang dikirim sang ayah.


"baiklah aku mandi dulu," Rizal bangkit, masuk kedalam kamar mandi.


Dery mandi dikamarnya, secepat mungkin.


Saat keluar dari kamar Rizal sudah berdiri didepan kamarnya.


"sudah siap sayang?"


"sudah kak, apa kakak tidak ingin sarapan dulu?" mereka berjalan menuruni tangga,


"aku sudah minta pak Burhan menyiapkan makanan ku, aku makan didalam mobil saja, kau yang menyuapi ku," mencubit dagu Dery.


"baiklah," Dery mengangguk


Didalam mobil, Rizal terus saja bermanja-manja pada kekasih tercinta nya itu, membuat Joe dan Zyan sangat kesal.


"tuan berhentilah bersikap seperti anak kecil," gerutu Zyan.


"siapa yang seperti anak kecil hah?" ketus Rizal.


"siapa lagi kalau bukan kau," Zyan ikut-ikutan ketus.


Plak satu pukulan mengenai lengan Zyan.


"huuhhh.... dasar bucin, akan aku adukan kau pada ayah," dengus Zyan.


"aku pastikan tuan tidak akan bertemu nona dan hanya akan diam didalam rumah." gumamnya.


Joe hanya terkikik melihat Zyan menggerutu, meski dia sendiri kesal melihat Rizal bermanja-manja pada Dery tapi dia enggan menegurnya.


Sudah dirumah...


Zyan sengaja mengadu pada pak Rahmat tentang kelakuan Rizal.


Membujuk pak Rahmat agar mau menjahili calon mantunya itu.


Sejak dia mengenal pak Rahmat, Zyan merasa memiliki ayah lagi. Pak Rahmat sangat menyayangi Joe dan Zyan.


Dan Zyan sukses membujuk ayah barunya itu.


"nak Rizal, selama dipingit, kau tidak boleh menemui Dery, tidak boleh menelpon, tidak boleh video call, hanya boleh mengirim pesan saja, sampai kalian menikah nanti." tegas pak Rahmat.


"apa harus yah?" wajah Rizal berubah lesu.


"harus lah, dan kamu juga tidak boleh pergi kemana pun, diam dirumah, lakukan pekerjaan rumah juga berkebun. Zyan, Joe dan pak Burhan akan mengawasi mu." suara pak Rahmat sungguh mencekam pagi ini.


"...."Rizal hanya melongo, tidak habis pikir bagaimana dia harus melakukan semua pekerjaan itu.


"jika kamu melanggarnya, ayah batalkan pernikahan kalian," pak Rahmat bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"sekarang kamu pulang dan kerjakan semuanya, sampai hari pernikahan kalian."


Zyan tersenyum puas melihat bosnya dikerjai habis-habisan oleh calon mertuanya itu.


Terus saja pamer kemesraan di depan ku, inilah balasannya hahahaha. batin Zyan


.


Rumah Utama....


Rizal sudah mulai mengerjakan semua yang diperintahkan sang calon mertua.


Dengan hanya menggunakan celana training panjang, dan bertelanjang dada.


Zyan dan Joe merekam semua kegiatan yang dilakukan bosnya. Sambil terus tertawa puas.


Seminggu ke depan dia akan mendapatkan tontonan seru.


Kapan lagi mereka bisa mengerjai bosnya itu, seorang Rizal Arandra mengerjakan pekerjaan rumah dan berkebun.


"ayah benar-benar hebat Zy, dia bisa membuat bos kita itu tidak berkutik." bisik Joe pada Zyan.


"tentu saja, dia mana berani membantah," senyum Zyan merasa terhibur.


"heii kalian, cepat bantu aku," teriak Rizal dari lantai bawah.


"maaf tuan, kami tidak berani membantah perintah ayah," balas Joe.


"selesai kan tugas mu tuan, kami ingin istirahat," Joe dan Zyan berjalan cepat menuju sofa depan TV lantai atas.


Terdengar suara tawa yang cukup keras.


Mereka berdua menertawakan ku, kurang ajar. setelah aku menikah nanti aku pastikan mereka tidak akan berhenti bekerja. aku akan ambil cuti satu bulan full untuk bulan madu. biar tau rasa mereka. dengus Rizal kesal.


Sedangkan Dery dan sang ayah sedang tertawa, melihat video yang dikirimkan Zyan pada mereka.


"ayah kenapa kejam sekali," meski tertawa tapi dia tidak tega melihat tubuh calon suaminya bercucuran keringat.


kenapa kamu semakin tampan saja kalau sedang begitu kak, oh Tuhan ciptaan mu sungguh sempurna. batin Dery.


"hei berkedip, melongo saja. sudah sana masuk kamar mu," ayah mengusap wajah Dery yang tidak berkedip menatap Rizal.


"ahh ayah ganggu aja," manyun Dery. "kak Rizal tampan ya yah, ayah seneng gak sih punya mantu kayak kak Rizal." Dery mengalihkan pembicaraan.


"dia memang tampan, tapi ayah jauh le ih tampan." ayah menepuk dada sombong.


"iishh kenapa ayah jadi ikut-ikutan sombong Kayak dia sih, senang sekali dibilang tampan." gerutu Dery.


"biarkan saja, dia kan calon mantu ayah."


Pak Rahmat mengusap punggung tangan Dery,


"ayah senang kamu akan menikah dengan Rizal, dia pria yang baik, dia bisa menghargai dan menghormati mu, dia menyayangi mu sama seperti ayah menyayangi mu." Pak Rahmat memeluk putrinya.


dia memang pria baik yah, Dery memeluk sang ayah haru, setetes air mata lolos.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2