
Cinta,
Memang tidak pernah ada yang melihat. tidak ada yang bisa benar-benar mengartikan apa itu cinta.
Sesuatu yang tidak akan lepas dari bahasan insan di dunia. Cinta memang sesuatu yang tak kasat mata, tapi hanya bisa dirasakan.
Tapi, percayalah jika cinta memiliki kekuatan yang sangat besar, terkadang pun bisa menjadi kelemahan.
Hari keenam setelah Dery tidak sadarkan diri, semua usaha telah mereka lakukan untuk membuat Dery kembali sadar, tapi lagi-lagi mereka harus menerima kenyataan jika Dery benar-benar tidak merespon apapun.
Dokter Ilham sedang berbicara pada orang tua Dery, saat mereka berhasil membujuk Rizal untuk istirahat sebentar.
"tuan, kesempatan nona untuk kembali membuka matanya hanya 10% lagi, nona sudah sangat lemah saat ini, obat-obatan dan nutrisi yang dokter berikan pada nona, tidak memberikan hasil apapun." Ilham benar-benar menyesal harus mengatakan semua ini.
"apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Putri kami dok?" air mata ayah sudah menganak sungai.
"kami sungguh sudah melakukan yang terbaik tuan, kasus yang dialami nona benar-benar diluar dugaan kami, nona mengalami trauma yang berat,
entah apa yang membuat nona tidak merespon semua usaha kita, nona sudah sangat lemah," Ilham menunduk dalam,
bagaimana dia akan memberitahu Rizal tentang kondisi Dery saat ini.
Ayah dan Ibu terus menangis disisi putrinya, masih berusaha membuatnya bangun.
Rizal yang baru saja masuk saat ibu dan ayah masih terisak.
"ayah ibu, apa kalian baik-baik saja, kenapa menangis seperti itu?" sudah berdiri dibelakang mereka.
"kenapa sudah bangun nak, kamu baru tidur satu jam," ayah menghapus air matanya.
__ADS_1
"aku tidak mengantuk yah, aku ingin menemani Dery disini, jika ayah dan ibu lelah istirahatlah." Rizal menepuk-nepuk pundak pak Rahmat.
"baiklah," ayah tersenyum lalu menuntun ibu untuk duduk di sofa.
Rizal duduk di samping Dery, tidak mau melepaskan tangan Dery terus mengusap lembut pipi Dery.
Rizal tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri, tubuhnya sangat lelah tapi Rizal tidak peduli, wajah pucat, kantung mata, mungkin Rizal sudah kehilangan beberapa kilo berat badannya sejak Dery tidak sadarkan diri, Rizal benar-benar kehilangan selera makan.
Lamunan Rizal dikagetkan, karena tim dokter tiba-tiba masuk dengan tergesa-gesa. Entah apa yang terjadi Rizal dipaksa keluar oleh Ilham.
Mereka yang disana hanya bisa menunggu kabar baik dari dokter. Rizal berdiri didepan pintu dengan tatapan mata kosong, tiba-tiba dadanya terasa sakit. Rizal menopang tubuhnya pada tembok sambil meremas dadanya.
Joe yang melihat Rizal kesakitan langsung mendekat, "apa tuan baik-baik saja, apa ada yang sakit tuan?"
"tidak Joe, aku tidak apa-apa, hanya sedikit nyeri saja," Rizal mencoba menguatkan dirinya.
dengan wajah penuh penyesalan Ilham mengisyaratkan pada Joe dan Zyan agar berada di samping Rizal kalau-kalau Rizal tidak bisa menahan dirinya.
"ham, apa Dery sudah bangun?" Rizal sudah tidak sabar.
tidak ada yang berani menjawab "apa kalian tuli hahh, kenapa diam saja, Dery baik-baik saja kan?" sudah berteriak dengan emosi memuncak.
"ma..maaf zal, nona tidak lagi membuka mata, kita harus ikhlas, mungkin ini yang terbaik untuk nona," dengan terbata Ilham memberanikan diri bicara.
Deg Rizal seperti kehilangan kekuatannya, sampai harus menopang tubuhnya pada Zyan.
Melihat senjata disaku jas Zyan, Rizal langsung menariknya dan menodongkan tepat di kepala Ilham.
"apa kau bilang, ulangi lagi kau bilang apa, Dery baik-baik saja kan?"
__ADS_1
Melihat apa yang dilakukan Rizal membuat, nyali semua orang yang ada disana menciut.
Hanya ayah yang berani mendekat untuk menenangkan Rizal.
Rizal membuang senjatanya, berlari masuk kedalam ruang perawatan Dery. Seorang dokter sedang melepaskan peralatan yang menopang kehidupan Dery selama beberapa hari ini. Rizal mendorong dokter itu menjauh dari Dery. "jangan pernah menyentuh wanita ku," teriakannya memenuhi ruangan.
Rizal sudah berdiri di samping Dery, memiringkan kepala menatap hangat wanita didepannya. "sejak kapan kau suka tidur, nona? ayo bangun dan peluklah aku," air matanya tidak lagi bisa ditahan.
"tu..tuan nona su..sudah tidak lagi bernafas, kami harus melepaskan semua peralatan itu." seorang dokter memberikan diri untuk bicara.
"diam kau, atau ku bunuh kau sekarang, keluar kalian semua." Tubuhnya ambruk dilantai. Dia terisak, sudah tidak peduli dengan harga dirinya sebagai seorang laki-laki yang terkenal kejam. Berkali-kali Rizal memukul dadanya yang terasa sesak.
"maafkan aku Dery, maaf" meraih tangan lemah Dery "maafkan aku bangunlah aku mohon bangunlah." menciumi tangan Dery dengan air mata yang terus mengalir.
"Joe, Zyan tolong bantu kami" dokter Ilham berbisik pelan sembari memberi isyarat agar dokter bisa segera melepaskan peralatan ditubuh Dery.
"oh Tuhan aku sungguh tidak tega melihat Rizal seperti ini, kenapa kau selalu mengujinya" batin dokter Ilham yang ikut menitikkan air mata.
Joe dan Zyan mendekat, membantu Rizal bangun, memberikan ruang agar dokter bisa melakukan tugasnya.
Saat dokter baru satu langkah mendekat, Rizal melihat dada Dery menarik nafas lemah, "lihat, kalian lihatkan Dery bernafas, jangan lepaskan peralatan itu," teriak Rizal. Joe sekuat tenaga menahan Rizal.
Dokter Ilham mendekati Dery memperhatikan dari ujung kaki hingga kepala, tapi dia tidak menemukan apa tanda-tanda jika Dery kembali bernafas.
Dokter Ilham menggeleng, "kau hanya berhalusinasi tuan, kau harus merelakan nona pergi,"
**bersambung....
yuukk jangan lupa like komen dan vote ya gaes ❤❤**
__ADS_1