
Daniel yang dikurung sang ayah didalam apartemen sama sekali tidak bisa keluar.
Pengamanan sangat ketat, hingga dia merasa setiap gerakannya diawasi oleh pengawal sang ayah.
Daniel merasa Rahadi ayahnya menyembunyikan sesuatu,
karena selama dia ada disini, ada satu ruangan yang selalu dijaga ketat 24jam, bahkan yang boleh masuk hanya ayahnya dan tangan kanannya.
Penasaran? tentu saja Daniel dibuat sangat penasaran. Apa yang ada didalam ruangan itu hingga dirinya bahkan tidak bisa mendekat lebih dari lima meter dari pintu kamar itu.
Selama beberapa lama, dia mengawasi setiap pengawal disana, berharap akan ada celah agar dirinya bisa masuk kedalam ruangan itu.
Berhari-hari Daniel menyusun rencana, dan sepertinya alam sedang berpihak padanya.
"lepaskan aku dari sini atau akau akan melompat," teriakan Daniel mengagetkan semua pengawal disana.
Daniel tengah berdiri di pinggir balkon kamarnya, dia sengaja tidak menutup pintu kamarnya agar para pengawal itu bisa melihat apa yang dia lakukan.
Melihat Daniel akan melompat, empat pengawal berlari secepat mungkin menerobos masuk dalam kamar Daniel.
Dan dengan sepecat kilat dia menjatuhkan bantal guling yang sudah dia pasangkan baju nya, dia sendiri melompat ke sisi balkon agar tidak terlihat oleh pengawal itu.
"tu...tuan Daniel."
Berhasil pengawal itu mengira Daniel benar-benar melompat dari balkon.
Saat mereka sedang fokus menatap kearah bawah balkon, Daniel berlari keluar kamar dan mengunci pintu.
Daniel bisa mengecoh para pengawal yang ada disana, hingga mengira dirinya benar-benar melompat dari balkon kamarnya.
Masih ada dua pengawal didepan kamar rahasia, dengan cepat Daniel melumpuhkan mereka, lalu mengikat mereka di kursi dapur.
Brakk..
Dalam satu tendangan, pintu kamar rahasia itu terbuka lebar.
Mata Daniel terbelalak saat melihat isi ruangan.
Foto-foto masa kecil dirinya dan sang kakak terpampang nyata disetiap sudut ruangan itu.
Daniel mengelilingi setiap sudut ruangan, melihat dengan teliti apa saja yang ada disana.
Apa istimewanya foto-foto ini kenapa kamar ini sampai dijaga sebegitu ketat.
Ini kan foto masa kecil ku.
Daniel menduga foto-foto masa kecilnya diambil secara diam-diam.
Itu terlihat jelas karena dia tidak pernah merasa berfoto seperti yang ada di sini.
Kini matanya tertuju pada sebuah laptop yang ada diatas meja. Entah mengapa dia bergerak membuka laptop itu.
__ADS_1
Dan bagai disampar petir, tubuhnya luruh seketika, saat dia melihat foto-foto masa muda ibunya sedang memadu kasih dengan pria lain dirumah milik ayahnya dulu.
Bahkan yang membuatnya makin tercengang adalah rekaman pengakuan sang ibu yang telah menghabisi ibu kandung kakaknya.
Tuan Rahadi yang baru saja tiba di apartemen sangat terkejut melihat pintu ruang rahasianya terbuka lebar dan tidak ada pengawal yang berjaga.
"Daniel..." dia begitu terkejut saat melihat putranya tengah menatap laptop yang berisi bukti-bukti kejahatan mantan istrinya.
Daniel menatap ayahnya dengan nyalang. "ke...kenapa ayah kenapa kau menyembunyikan semua kebenaran ini." Daniel sudah berdiri didepan Rahadi.
Tuan Rahadi bahkan tidak bisa berkata apapun, ia tahu cepat atau lambat kebenaran akan terungkap, tapi Daniel pasti akan sangat terluka jika mengetahui yang sebenarnya.
"kenapa, ayah membiarkan aku dibesarkan oleh wanita jahat itu," Daniel luruh, tubuhnya terasa lunglai.
Rasa bersalah hinggap dihatinya,
Selama ini dia salah menaruh kebencian pada ayah dan kakaknya.
Tuan Rahadi hanya diam, ada rasa haru yang begitu besar dihatinya, saat untuk pertama kalinya Daniel memanggil dirinya dengan sebutan ayah.
Daniel terisak, hatinya benar-benar sakit, rasanya tidak bisa ia menerima kenyataan bahwa selama ini dia hanya dimanfaatkan sang ibu.
Melihat air mata anaknya mengalir deras, tuan Rahadi duduk mensejajari Daniel.
Mengusap punggung Daniel lembut,
"Maafkan ayah yang tidak jujur padamu, nak,"
Dia menggeleng beberapa kali, "ha..harusnya aku yang meminta ma..maaf yah," ucapnya terbata.
"harusnya aku percaya pada ucapan ayah dan kak Rizal, harusnya dari awal aku tahu jika ibu hanya memanfaatkan ku selama ini.
Tapi aku terlalu naif yah, meski ibu tidak pernah bersikap baik pada ku aku selalu mempercayai semua perkataan nya." Kini Daniel bahkan bersujud di kaki sang ayah.
Dia benar-benar merasa sangat berdosa pada ayah dan kakaknya.
"jangan seperti ini nak, ayo bangun," tuan Rahadi menuntun putra nya untuk berdiri.
Memeluknya erat, setelah selama ini dia hanya bisa melihat anaknya dari jauh, dan kini dia bisa memeluk putranya, hatinya bahagia sangat bahagia.
Mungkin jika ia tak mengingat usianya yang sudah tua, dia sudah melompat kegirangan.
Jack tangan kanan tuan Rahadi, yang sedari tadi setia berdiri dibelakangnya sangat terharu melihat ayah dan anak ini berdamai.
Dia tahu benar perjuangan tuan Rahadi untuk bisa bersatu dengan kedua anaknya.
Semoga setelah ini tidak ada lagi kesalah pahaman dalam keluarga mu tuan, sungguh aku tidak tega melihat diusia tua mu masih saja masalah terus mengusik mu. Jack.
.
Dery masih terus berjalan menjauh dari villa itu, ada rasa tidak tega ada rasa khawatir saat suara tembakan terus saja terngiang di telinganya.
__ADS_1
Marco, apa kamu baik-baik saja, batinnya.
Dalam gelap Dery terus berjalan menyusuri hutan yang cukup lebat, berusaha menenangkan Ramon yang berulang kali mengungkapkan rasa takutnya.
Dia sangat lelah, entah sudah berapa jam dia berjalan menggendong putranya.
"aakkhh..." Dery meringis merasa kan sakit pada bagian perutnya.
Dia menghentikan langkahnya, menggenggam erat ranting pohon disampingnya.
"Mama?.." Ramon menyadari jika Dery sedang kesakitan saat ini. "Mama kenapa?" dia menatap mata ibunya didalam gelap.
Dery menggeleng tidak ingin sang anak merasa khawatir padanya,
"tidak sayang, Mama tidak apa-apa, ayo kita jalan lagi."
"aakkhhh,"
Baru satu langkah Dery kembali merintih tertahan, dia tidak ingin putranya tahu jika dia sedang kesakitan saat ini.
Dery menggigit bibirnya kuat agar tidak ada rintihan yang keluar dari mulutnya.
"Sa..sayang kita istirahat disini dulu ya," Dery membelai wajah Ramon lembut.
"iya ma, Mama pasti lelah kan, dari tadi menggendong ku,"
"tidak apa sayang," Dery duduk menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang cukup besar.
Memeluk erat Ramon disampingnya, memberikan rasa aman dan nyaman. Meski dia sendiri sedang merasa kan sakit yang amat sangat diperutnya.
Ya Tuhan, aku mohon jagalah kami, jagalah anak dalam kandungan ku, kuatkan dia Tuhan.
Mata Dery terasa sangat perih, luruh sudah air matanya.
kuat sayang, kuatlah didalam sana, Mama menyayangi mu, maafkan mama yang harus membawa mu berjuang sejauh ini.
Dery mengusap perut ratanya.
Ramon sudah terlelap dalam pelukannya, dia tahu Ramon pasti sangat lelah.
"Mama menyayangi mu, Mama tidak ingin kehilangan mu dan adik mu dalam perut Mama ini," gumam Dery.
***Bersambung....
like yukk...
Komen2 juga boleh, kasih saran gimana kelanjutan hubungan Dery dan Rizal,
bakal ada kejutan di bab2 berikutnya...
tunggu otor up yaak ❤😘***
__ADS_1