
"seminggu ini kok kak Rizal gak ada kabar sih?" batin Dery berulang kali mengecek ponselnya. Baru saja meletakkan ponselnya, tiba-tiba terdengar nada dering pesan masuk. "kak Lidia, ck aku kira kak Rizal, dia kemana sih gak biasanya banget sampe seminggu gak ngabarin aku," nampak jelas gurat kekecewaan di wajah Dery.
_Dery, hari ini ada waktu gak? kita ketemu di mall XXX ya dek, makan siang disana. kakak sama Amih kangen banget sama kamu,_ isi pesan Lidia.
"Amih, ahh aku rindu Amih. aku kesana sekarang aja deh. Udah jam 11 juga," Dery bergegas berangkat ke mall menggunakan taksi.
****
Di Mall XXX,
Dery yang lebih dulu datang memutuskan membeli hadiah untuk Amih dan Lidia.
Hampir satu jam berkeliling mencari hadiah, akhirnya Dery memilih beristirahat sejenak disalah satu resto dalam mall, sampai mata Dery melihat seseorang yang sangat dia kenal. "kak Rizal? dia disini, kebetulan banget," senyum Dery mengembang melihat Rizal berada ditempat yang sama. Dery berjalan mendekati meja Rizal.
"hai kak," sapa Dery, mengagetkan Rizal yang sedang tertunduk menatap layar ponselnya.
"Dery? apa aku sedang berhalusinasi, aku mendengar suara Dery," batin Rizal.
"kak, kenapa malah ngelamun sih?" Dery menggoyangkan lengan Rizal.
Rizal bangun dari duduknya menatap Dery tidak percaya, "Dery, kamu disini? sedang apa?" masih dengan wajah terkejutnya.
Saking senangnya melihat Rizal, spontan Dery memeluk Rizal. "kenapa kaget, kakak gak suka ketemu aku? ck, kakak menyebalkan, sudah satu Minggu ini kakak gak ngabarin aku, sesibuk apa sih?" cerocos Dery, Rizal hanya diam tidak membalas pelukan Dery.
"kau sudah mau menikah dengan pria lain, tapi kenapa masih menunggu kabar dari ku der," batin Rizal, ingatannya kembali pada saat Ikbal melamar Dery.
"kau sedang apa disini, dengan siapa? apa dengan Ikbal?" Rizal memalingkan wajahnya, tidak ingin Dery melihat matanya yang sudah berkaca-kaca.
"aku ada janji sama Amih dan kak Lidia," Dery merasa ada yang aneh pada Rizal, Rizal sangat dingin padanya.
Tidak lama datang seorang wanita dengan wajah cantik menghampiri Rizal dan Dery,
"hai zal, maaf membuatmu menunggu lama," sapa wanita itu akrab. "siapa dia?" wanita itu menatap Dery.
"kenalkan, dia Dery," Rizal memperkenalkan, Dery menjabat tangan wanita itu.
"hai Dery, kamu cantik sekali, kenalkan aku Lea.." belum selesai Lea bicara Rizal sudah menyela dan memeluk pinggang ramping Lea.
"Lea ini calon istri ku Der," sahut Rizal membuat Dery tercengang, senyum Dery yang tadi mengembang hilang seketika.
Seakan kehilangan kekuatannya, saat mendengar Rizal mengatakan jika Lea adalah calon istrinya.
__ADS_1
"oh jadi kak Lea calon istri pak tua sombong ini?" tersenyum samar menutupi rasa kecewanya.
"selamat ya kak semoga langgeng dan selalu bahagia," Dery memeluk Lea hangat.
"kalau begitu aku pergi dulu, aku masih ada janji," pergi meninggalkan Rizal dan Lea tanpa menoleh lagi.
Air matanya meleleh dengan derasnya, pergi dari tempat itu secepat yang dia bisa, hingga beberapa kali menabrak pengunjung resto lain.
tanpa sengaja Dery menabrak dokter Ilham,
"nona?" Ilham kaget melihat yang menabrak dirinya adalah wanita yang sangat dicintai Rizal sedang beurai air mata.
"dokter Ilham," Dery mendongak, menghapus air matanya.
"ada apa nona? kenapa menangis?" dokter Ilham sengaja menghentikan langkah Dery.
"tidak, aku tidak menangis, ini karena kelilipan debu saja, maaf aku buru-buru dokter, permisi." Dery pergi meninggalkan dokter Ilham yang nampak bingung.
.
Setelah Dery pergi dengan wajah kecewa, Lea menatap tajam Rizal.
"kenapa kau menatap ku seperti itu?" Rizal mengangkat satu alisnya.
"baiklah, aku minta maaf," meski cuek tapi hati Rizal sangat sakit telah membohongi Dery.
"Ck, minta maaflah pada Dery bukan pada ku," Lea benar-benar tidak habis pikir, kenapa Rizal bisa melakukan itu.
"ada apa sayang?" Ilham yang baru saja datang mendapati Lea sangat marah pada Rizal.
"kenapa kamu lama sekali sih," menarik lengan Ilham. "kau tahu, sahabat mu ini mengatakan pada Dery jika aku adalah calon istrinya." Lea melirik Rizal kesal.
"jadi nona menangis karena itu?" Ilham juga menatap tajam Rizal. "kenapa kau begitu? bukankah kau mencintainya?"
"menangis?" terkejut mendengar jika Dery menangis karena dirinya. "mana mungkin Dery menangis, hahaha yang benar saja kau ini," mencoba menutupi wajah terkejutnya.
"untuk apa aku berbohong, nona memang menangis, tadi dia tidak sengaja menabrak ku." jelas Ilham.
"sudahlah jangan bahas tentang Dery lagi, aku kesini hanya untuk memberikan hadiah pernikahan kalian." Rizal menyerahkan sebuah kotak pada Lea dan Ilham. "aku tidak bisa datang ke pernikahan kalian, sore nanti aku harus berangkat ke Amerika." lanjutnya.
"Amerika? yang benar saja, kenapa mendadak begini?" Ilham kaget mendengar keputusan Rizal.
__ADS_1
"ada pekerjaan disana," cuek Rizal "baiklah aku harus pergi sekarang." Rizal sudah berdiri lalu berjalan meninggalkan Lea dan Ilham yang masih mematung.
"lalu bagaimana dengan nona?" teriak Ilham tapi Rizal tidak menoleh sama sekali.
****
Dery yang sudah sampai dirumah, mengurung diri didalam kamar.
Hatinya benar-benar sakit, dadanya terasa sangat sesak. Pria yang berhasil mencuri hatinya, ternyata sudah memiliki calon istri.
"kenapa kak, kenapa kamu begitu baik pada ku kamu sangat melindungi dan menjaga ku selama ini, memperlakukan seakan aku ini wanita yang istimewa bagi mu. Apa aku ini yang terlalu bodoh, terlalu berharap lebih." gumam Dery, air matanya terus menganak sungai.
Tidak lagi memperdulikan ponselnya yang terus berdering, Dery terus menangis hingga kepalanya terasa sangat pusing. Entah berapa lama Dery menangis, sampai dia tertidur.
.
Ditempat lain,
Rizal tengah duduk diruang keluarga bersama Joe dan Zyan, tatapan mata Rizal hanya tertuju pada layar ponselnya sejak tadi.
Sejak kejadian itu Rizal lebih banyak diam, Joe dan Zyan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sejak saat itu juga Rizal kembali pada kebiasaan lamanya, sudah seminggu ini Rizal terus saja menenggak minuman keras. Jika ditanya Rizal hanya diam, tidak sepatah kata pun ia ucapkan.
Sampai dia memutuskan untuk pergi ke Amerika dan menyerahkan semua pekerjaannya disini pada Joe dan Zyan.
Rizal berdiri merapikan pakaiannya "ayo berangkat" berjalan meninggalkan ruang keluarga.
"baik tuan," Joe dan Zyan ikut berdiri dan mengikuti langkah kaki Rizal.
Sepanjang perjalanan menuju bandara Rizal hanya diam dan menatap keluar jendela, "aku tidak bisa terus berada disini, aku harus melupakan mu Der, aku tidak sanggup jika harus melihat dirimu dimiliki pria lain. semoga kamu selalu bahagia." batin Rizal, tak terasa air matanya menetes.
"tuan, kita sudah sampai," Joe membuka pintu mobil untuk Rizal.
"ah, baiklah." Rizal turun dari mobil.
"Joe, Zy kalian jangan pernah beritahukan kepada siapapun kemana aku pergi." Rizal berbalik menatap dua sahabatnya itu.
"baik tuan," mereka menunduk sopan.
"dan satu lagi jangan mengecewakan aku, kalian urus semua pekerjaan disini dengan baik, aku tidak akan pergi lama mungkin hanya satu sampai dua tahun, kalian mengantar ku sampai sini saja, sekarang pulang lah," Rizal memeluk Joe dan Zyan.
__ADS_1
"tuan tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan. Hati-hati tuan dan cepatlah kembali," ucap Zyan sebelum Rizal benar-benar pergi.
bersambung......