Janda Judes

Janda Judes
89 Motor Baru?!


__ADS_3

Diperjalanan Dery sengaja mengubah tujuannya saat ponselnya berdering, Pesan masuk dari seorang yang dia kenal,


Dery masuk kesebuah dealer motor.


Seakan tidak kapok dengan insiden yang hampir merenggut nyawanya Dery sengaja membeli motor sport yang sudah dia pesan beberapa hari yang lalu.


"selamat pagi der,"


"hmm pagi, apa motor yang ku pesan sudah bisa aku bawa hari ini?"


"tentu der, semua sudah siap ini suratnya, dan motor mu disana kau bisa membawa nya."


Dery menepuk pundak rekannya, "nih bonus buat lo,"


"terima kasih der, hati-hati ya," Dery mengacungkan jempol lalu pergi.


ahh aku rindu naik kuda besi, mari kita jalan-jalan sayang.


Dery tersenyum saat sudah duduk diatas motor barunya.


Dery membelah ramainya jalanan dengan kecepatan sedang. Senyum terus saja terukir di wajah Dery, seakan baru saja menang lotre.


Dery sampai di cafe saat semua karyawan nya sibuk melayani pengunjung.


Fia yang melihat Dery mengendarai motor baru melotot tidak percaya,


bos? dia mengendarai motor lagi? apa bos tidak merasa trauma setelah kejadian itu.


Fia berlari menyambut bosnya,


"bos, apa kau sudah sembuh?"


"seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, ikut keruangan ku,"


"baik nona," Bugh Fia menabrak Dery yang berhenti mendadak.


"sejak kapan kau memanggilku seperti itu, hah?" Dery menatap tajam Fia, sedikit berteriak sampai beberapa orang melihat kearahnya.


"ma..maaf bos," wajah Fia pias


Dery berjalan cepat masuk kedalam ruangannya. Mendengus kesal karena Fia ikut-ikutan memanggilnya nona.

__ADS_1


apa dia sudah tertular Joe dan Zyan, kenapa Fia jadi menyebalkan sekali. merusak mood ku saja.


"apa wanita itu masih bekerja dicafe kita?" Fia sudah tau siapa yang di maksud Dery mengangguk mantap.


"dia berkali-kali ingin keluar nona tapi tidak berani karena dia tidak mampu membayar denda," jelas Fia.


"baguslah, aku sendiri yang akan memecatnya nanti jika aku sudah puas melihatnya menderita." Dery tersenyum smirk membuat Fia bergidik ngeri.


kenapa bos jadi semakin kejam saja sih, dia selalu baik pada semua karyawan tapi kenapa dengan wanita ini bos sangat membenci nya.


Setelah selesai mengecek semua laporan selama dia sakit, Dery memerintahkan Fia memanggil karyawan wanita yang sudah lama Dery benci.


Dery berdiri menghadap jendela dengan sebotol soda ditangan kirinya.


"bos," Fia berdiri dibelakang Dery,


"hmm..." Dery berbalik dengan tatapan tajam. berjalan mendekati wanita yang terus tertunduk menatap lantai.


"apa kau tidak ingin melihat ku?" suara Dery lebih mengerikan dari biasanya.


Mendengar suara yang tidak asing baginya wanita itu mendongak menatap Dery.


Dery? apa bener ini Dery? jadi dia bos dicafe ini?


"hmm pekerjaan dicafe memang seperti itu, apa kau lelah?" Dery tersenyum samar, dia memang sengaja meminta Fia untuk memberi Vina lebih banyak pekerjaan.


"apa kau ingin menyiksa diri ku? aku sudah sangat kelelahan tapi dia terus saja memberiku pekerjaan." Vina berteriak pada Dery.


Plak....satu tamparan Dery layangkan kepipi Vina, "jangan pernah berteriak pada ku, gadis ular,"


Vina mulai terisak, tidak lagi berani melawan Dery yang sudah sangat marah, bahkan Fia sampai menjauh, baru kali ini dia melihat Dery benar-benar marah.


"apa lo lupa, bagaimana Lo memperlakukan gue waktu itu? Lo injak-injak harga diri gue Lo jadikan gue pembantu dirumah terkutuk itu?" Dery mencengkeram pipi Vina. Tidak lagi memperdulikan rintihan yang keluar dari mulut Vina.


"ma..maaf der, maafkan aku," lirih Vina.


"maaf Lo gak akan balikin masa lalu. sekarang Lo nikmatin hasil perbuatan Lo, jangan harap Lo bisa keluar dari tempat ini."


"seret dia keluar dari sini." bisik Dery pada Fia.


kenapa bos bisa sekejam ini sih, aku jadi ngeri.

__ADS_1


.


Dery memasukan berkas-berkas yang dia butuhkan, lalu beranjak pergi.


"fi gue balik, Lo urus dia,"


"ba..baik bos," Fia menunduk. "hati-hati dijalan bos,"


"hmm"


Dery melajukan mobilnya menuju rumah, sudah beberapa kali sang ayah menelfon dirinya, memintanya segera pulang.


Dery sudah masuk ke halaman rumah, sebuah mobil terparkir disana.


Rizal yang sejak tadi menunggu di teras rumah dibuat tercengang melihat Dery pulang mengendarai motor sport baru.


ngapain lagi sih ni tuan muda kesini.


"ngapain kalian disini?" ketus Dery menatap Joe dan Rizal.


"kamu baru saja sembuh, kenapa sudah pergi?" lembut Rizal.


"bukan urusan lo," Dery berjalan menerobos masuk, tapi ditahan oleh Rizal.


"ini motor baru? apa kamu tidak merasa takut atau trauma, setelah apa yang terjadi pada mu kemarin?"


"ck, lepas," Dery mengibaskan tangan Rizal. "kalau gue suka Lo mau apa?"


"aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi der, aku mohon jangan lagi mengendarai motor ini," nampak jelas gurat kekhawatiran di wajah Rizal, tapi Dery tidak peduli.


"terluka bukan hanya karena mengendarai motor, semua hal bisa membuat orang terluka." Dery membuka tas nya mengeluarkan beberapa berkas yang dia bawa, "satu lagi, nih gue balikin, Lo minta gue buat kelola cafe Lo kan, udah gue kelola dengan baik, dan ini hasilnya gak ada serupiah pun gue ambil keuntungan dari cafe itu. dan sekarang lebih baik kalian pergi dari sini, terima kasih udah bantu gue selama ini, biaya pengobatan gue bakal gue bayar nanti." Dery masuk kedalam rumah dengan wajah merah dan air mata yang mulai mengalir, sakit dihatinya kembali terasa.


Rizal masih mematung ditempatnya, apa yang dia lakukan dulu benar-benar membuat Dery sangat membencinya.


"nak Rizal, maafkan sikap Dery ya," ayah dan ibu Dery mendekati Rizal, sejak tadi mereka mendengar perdebatan Rizal dan putrinya.


"tidak yah, memang seharusnya Dery mencaci ku kan, aku memang bersalah pada Dery." Rizal menunduk, "aku pamit yah,aku akan berusaha untuk meminta maaf pada Dery nanti," Rizal pergi dengan perasaan bersalah.


Dery benar-benar membenci ku, aargghhh kenapa dulu aku harus melakukan hal bodoh itu.


Rizal terus mengutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2