Janda Judes

Janda Judes
116 Gagal!


__ADS_3

"dan sekarang aku sedang hamil, aku mau Rizal bertanggung jawab atas anak ini,"


"aku tidak pernah menyentuh mu, itu bukan anak ku!"


"apa bukti itu masih kurang cukup, hah?"


"orang mana yang akan percaya dengan pengkhianat seperti diri mu!"


"CUKUP!!" Dery bangkit dari duduknya.


"kau akan mendapatkan apa yang kau mau..."


Wanita itu sudah tersenyum senang, sedangkan Rizal pucat pasi, tidak habis pikir dengan jawaban sang istri.


apa kau akan meninggalkan ku cinta, apa kau lebih percaya dengan wanita ular ini?


"jangan senang dulu," lanjut Dery


"aku ingin kau melakukan tes DNA, dan jika terbukti anak dalam kandungan mu adalah anak Rizal, aku akan mengajukan gugatan perceraian lalu kalian bisa menikah."


Selesai ngucapkan kalimatnya Dery berjalan meninggalkan mereka semua.


"aku tahu kau menjebak ku kan, pria diresto itu pasti suruhan mu, dasar wanita rubah." Rizal menggeram menatap wanita itu.


"seret dia dari sini, jangan biarkan dia menginjak kan kaki disini lagi," titah Rizal.


Joe sudah bangkit dari duduknya, sangat marah.


Dia menyeret wanita itu dengan kasar.


"lepaskan aku," teriak wanita itu.


"jika nanti aku sudah menikah dengan Rizal, akan aku pastikan hidup mu akan menderita," ucapnya tanpa rasa takut.


"silahkan bermimpi." acuh Joe.


"usir dia." bisik Joe pada pengawal yang berdiri didepan pintu.


Sedangkan Rizal berlari menyusul sang istri kedalam kamar.


Dery sudah duduk ditepi ranjang, terus berurai air mata.


Hatinya sungguh sakit, suami yang dia percaya suami yang sangat dia cintai dan banggakan, tega berbohong padanya.


Bayangan Dery sudah berlarian pada waktu dimana Rizal menghilang tanpa kabar saat itu.


Jadi ini alasannya, kenapa pernikahan ini dipercepat...


Berulang kali Dery memukul dadanya, agar sakit dihatinya berkurang.


Ceklek...


Rizal membuka pintu, melihat sang istri terisak ditepi ranjang.


Dia bersimpuh didepan kaki Dery, menatapnya dengan penuh penyesalan.


"maafkan aku sayang," Rizal menghapus air mata di pipi Dery.


"sumpah demi apapun, aku tidak pernah menyentuh wanita lain apa lagi wanita itu, setelah aku mengenal mu," Rizal berusaha meyakinkan istrinya.


Huuhhh


Dery menarik nafas panjang, menguatkan diri agar air matanya tidak lagi menetes.


"aku mohon percaya lah pada ku, sayang,"


"jika aku tidak percaya pada mu, sekarang aku pasti sudah pergi dari rumah ini dan meminta cerai." lirih Dery.


Rizal sedikit lega mendengar jawaban Dery.


"kenapa kak?"

__ADS_1


"kenapa kamu tidak jujur pada ku? apa ini juga alasan mu mempercepat pernikahan kita?"


"maafkan aku sayang, aku tidak punya keberanian untuk berkata jujur pada mu, aku takut kamu akan menggagalkan pernikahan kita,"


"lalu, membiarkan ku mengetahui semuanya dengan cara seperti ini?"


"Bu..bukan begitu sayang, aku hanya mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya."


"jika dulu kamu jujur, mungkin aku pasti akan merasa sakit kak, tapi tidak akan sesakit ini." lagi-lagi air mata Dery meleleh.


"maafkan aku sayang, maaf, aku memang pria bodoh." Rizal memeluk kaki Dery, hatinya ikut sakit melihat air mata sang istri.


"aku janji sayang, aku akan membuktikan jika aku tidak bersalah, dan semua itu hanyalah jebakan wanita rubah itu," ucap Rizal sungguh-sungguh.


"buktikan lah kak, aku harap kamu yang benar,"


Rizal mengangguk mantap.


Dery sudah berdiri berjalan menjauh dari Rizal, "sebelum semuanya terbukti, biarkan aku tidur kamar lama ku,"


Langkah Dery berhenti saat Rizal memeluknya erat.


"jangan sayang, aku mohon, aku bersumpah aku tidak melakukan itu, dan aku mau melakukan apapun agar kamu memaafkan ku, jangan tidur dikamar lain sayang,"


"kita tunggu saja hasil tes dna itu kak," Dery melepaskan pelukan Rizal.


"sekarang biarkan aku sendiri dulu." Dery keluar dari kamar mereka, berjalan cepat menuju kamar lamanya.


Tidak lagi menghiraukan Joe dan Zyan yang duduk di sofa tidak jauh dari kamar mereka.


Nona, maafkan kami yang tidak mampu melindungi kalian.


"sayang, tunggu." Rizal berulang kali mengetuk pintu kamar Dery.


"aku mohon sayang, aku minta maaf. Jangan begini sayang aku mohon." Air mata Rizal pun lolos.


"tuan..." Joe membuka suara.


"Joe, tolong bujuk istri ku, aku tidak bisa jika dia marah padaku seperti ini Joe," Rizal terduduk di depan pintu kamar.


"ada yang lebih penting, kita harus mencari tahu kebenaran semua ini."


Rizal mendongak menatap Joe dan Zyan.


"kau benar, ikut aku ke ruang kerja sekarang."


Rizal berjalan cepat menuju ruang kerjanya, diikuti Joe dan Zyan.


Rizal mencari-cari berkas dari perusahaan milik pria itu, pria yang memaksanya minum-minum diresto saat itu.


Setelah kejadian diresto, perusahaan itu tiba-tiba membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan Arandra Gruop milik Rizal.


"Cari pria bernama Mike, dia utusan dari perusahaan ini." Rizal membanting berkas diatas meja kerjanya.


"jika dugaan ku benar, pria ini pasti ikut andil membantu wanita sialan itu,"


huuhhh Zyan menarik nafas panjang.


"kenapa tuan tidak mengatakan semuanya dari dulu?


Zyan mengurut pangkal hidungnya.


"apa kalian juga tidak percaya pada ku, hah?" dengus Rizal.


"aku tidak pernah lupa, apa yang wanita itu lakukan pada ku dulu." Rizal menggebrak meja.


"bukan, kami bukannya tidak percaya," Zyan ikut frustasi melihat Rizal seperti itu.


"tapi jika dulu kamu mengatakan semuanya, aku dan Joe bisa mencegah semua ini terjadi,"


"sudahlah, semua sudah terjadi." Joe jauh lebih tenang dibanding Zyan.

__ADS_1


"besok kita cari bukti kejahatan wanita itu, sekarang lebih baik kita istirahat dulu," Joe mengambil berkas dimeja itu.


Zyan sudah bangkit dari duduknya, membenarkan apa yang Joe katakan.


"kau juga tuan, istirahat lah." Joe dan Zyan berjalan keluar ruang kerja Rizal.


Rizal keluar ruang kerja dengan wajah lesu.


ceklek


Rizal mencoba membuka pintu kamar Dery, tapi sayang pintu itu masih terkunci.


Maafkan aku sayang, maaf.


Aku terlalu bodoh, aku sangat menyakiti mu.


Ia terduduk dilantai depan kamar Dery.


Hingga tanpa sadar Rizal tertidur disana.


Sedangkan didalam kamar, Dery masih terisak dibawah selimut tebal.


Tidak tahu berapa lama dia menangis hingga terlelap.


.


Pagi hari...


Dery bangun dengan kepala yang terasa pusing, bahkan pandangannya buram karena terlalu lama menangis.


Diluar kamar, Rizal terbangun saat tangan kecil Ramon menyentuh pipinya lembut.


"Papa, kenapa papa tidur disini?"


"ehh, sayang, papa ketiduran disini," Rizal mengusap lembut kepala Ramon.


"kenapa?"


"itu, tadi malam papa bermain petak umpet dengan Om Zyan dan Joe, lalu papa ketiduran disini."


"begitu ya, lalu dimana Mama?"


Dery keluar dari kamar, menatap Rizal dan Ramon sedang duduk didepan pintu kamarnya.


"Mama.."


"ya sayang"


"Mama," Ramon berdiri menatap sang ibu.


"mata Mama kenapa bengkak?"


"emm ini, tadi malam mama kelilipan jadi sekarang bengkak," jawab Dery asal, sambil menggandeng Ramon menuruni tangga.


Semua orang sudah duduk dimeja makan untuk sarapan.


Dery menyuapi anaknya sarapan pagi, dia sendiri sedang kehilangan selera makan.


Rizal tidak henti-hentinya menatap sang istri dengan rasa penyesalan yang besar.


Setelah Dery mengantar Ramon sampai pintu utama, dia memutuskan untuk masuk kedalam rumah.


"Joe, tolong batalkan rencana bulan madu." ucap Dery singkat.


"ta..tapi nona."


"aku tidak ingin kemanapun saat ini."


Rizal hanya bisa menatap nanar sang istri yang menaiki tangga.


Zyan dan Joe menatap Rizal, dia hanya mengangguk.

__ADS_1


Toh Rizal juga tidak memaksa sang istri saat ini. Dia rela menggagalkan rencananya asal Dery tidak semakin marah padanya.


Bersambung....


__ADS_2