
Hari demi hari, Minggu demi Minggu, bulan demi bulan, kehidupan Dery semakin hari semakin nelangsa.
Dery tinggal dirumah yang terlihat bahagia dari jauh,
tapi begitu menyiksa dan penuh tangis saat berada didalamnya.
Suami yang harusnya menjadi pelindung justru sering berlaku kasar,
sama sekali tidak memperdulikan dirinya. Bahkan saat Vina memperlakukan Dery dengan sangat kasar Marco hanya diam.
Dery terputus dari dunia luar, dia memang menggunakan ponsel, tapi hanya untuk menghubungi ayah dan ibunya, itu pun jika diijinkan Marco, jika Marco tidak mengijinkan dia sama sekali tidak bisa menyentuh ponselnya. Tidak pernah lagi melihat indahnya dunia luar.
Hanya air mata yang setiap hari menjadi teman Dery,
rasa sakit yang entah kapan akan berakhir.
"malam ini aku ada acara kantor, kamu harus ikut. Berdandanlah secantik mungkin?" suara Marco begitu terdengar mencekam ditelinga Dery.
"ya mas," jawab Dery.
"disana pasti ada keluarga Sanjaya dan keluarga Prasetyo jangan tunjukan wajah sedih mu dihadapan mereka. kamu mengerti?!" menepuk pipi Dery mengintimidasi. Dery hanya mengangguk.
"Mas, boleh aku bicara sebentar?" Dery menarik tangan Marco menghentikan langkahnya.
"apa lagi?, aku buru-buru" mata Marco sudah memincing kesal.
"apa aku boleh menginap dirumah ayah?" Dery memohon, menggenggam erat tangan Marco.
"nanti ku pikirkan" mengibaskan tangan Dery kasar.
Saking seringnya diperlukan kasar, Dery sudah sangat terbiasa.
__ADS_1
Walau terkadang hatinya sakit tapi dia bisa apa,
pernah satu kali Dery melawan dan mengancam akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.
Tapi berujung fitnah yang membuat ayah Dery begitu marah, Marco mengatakan pada orang tua Dery, bahwa dia sudah berselingkuh dibelakang Marco.
Hingga lebih dari dua bulan ayah sama sekali tidak mau berbicara denganya, walau Dery mencoba menjelaskan, keluarganya sama sekali tidak percaya padanya.
Terlebih setelah dia menikah komunikasi dengan sahabat dan keluarga sahabatnya pun terputus, Dery tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa.
****
Malam hari Dery sudah siap dia mengenakan gaun merah maron panjang, dengan riasan wajah natural, bibir merah chery dan rambut hitam panjang menambah kesan elegan. Selesai bersiap Marco sudah berdiri dibelakangnya.
"hhmm....kamu terlihat sangat menggoda," berbisik tepat ditelinga Dery, suaranya sungguh membuat Dery merinding takut. "ayo kita jalan sekarang, jangan sia-siakan waktu, dan ingat jangan macam-macam," Dery hanya mengangguk patuh.
Selama perjalanan Dery hanya diam, pandangannya fokus keluar jendela mobil, melihat lampu jalan berlarian melewatinya. Setitik air mata lolos dari mata indah Dery, ingin rasanya Dery pergi jauh dari tempatnya sekarang, meninggalkan rasa sakit yang terus menyiksa dirinya.
"hapus air matamu, jangan tunjukan kesedihan mu didepan banyak orang." lamunan nya dikagetkan dengan tarikan kasar Marco.
"Ok tapi jangan macam-macam, tampilkan senyum indah mu," Marco berpura-pura baik saat ada orang lain.
"iya mas, apa aku boleh ke toilet sebentar?" tersenyum samar menghapus air mata.
"hhmm, jangan lama-lama aku tunggu didalam," Marco mengusap rambut Dery.
Keluar dari toilet Dery tidak sengaja berpapasan dengan mantan atasannya, Rizal Arandra Putra.
"heeii der, kamu datang juga ternyata?" sapa Rizal ramah
"selamat malam pak, iya mas Marco mengajak saya," tersenyum samar.
__ADS_1
"kalau begitu saya duluan pak," menunduk hormat.
Saat akan pergi, Rizal sengaja menghalangi langkah Dery.
"tunggu der, apa kamu baik-baik saja?" Rizal tidak sengaja menyentuh pergelangan tangan Dery yang memerah.
"aauww," sedikit meringis
"saya baik-baik saja pak, bisa kah saya pergi sekarang, mas Marco mungkin sudah menunggu saya." Dery mencoba menutupi lukanya,
"apa Marco berbuat kasar pada mu? apa dia menyakitimu?" Rizal terus saja memaksa Dery. "jika iya, aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah Marco lakukan pada mu," Rizal tertunduk, menyesal telah membujuk Dery untuk mau menikah dengan Marco.
Ternyata selama ini Marco masih tidak berubah, sikapnya masih sama, masih sangat kasar.
"tidak pak, bapak tidak bersalah ini sudah jalan hidup saya," Dery hanya tersenyum.
"kalau kamu tidak mau bercerita, aku bisa menyelidiki sendiri.
Dan jika benar, Marco berlaku kasar pada mu aku pastikan dia akan menyesali perbuatannya, dia memang teman baik ku, orang kepercayaan ku tapi dia berulang kali menipu ku der." Rizal menepuk pundak Dery,
"aku minta kamu mau jujur der, setidaknya biarkan aku membantu kamu keluar dari cengkeraman Marco. Kamu bisa menghubungi ku setiap saat kapanpun kamu mau, kamu tidak mengganti nomor ponsel mu kan?" Rizal bersungguh-sungguh menyesali telah membantu Marco.
"saya tidak lagi menggunakan ponsel pak, maaf." jawab Dery jujur.
Mendengar jawaban Dery, Rizal sudah bisa menebak jika selama ini Marco memutus semua komunikasi Dery,
Dari dunia luar agar tidak ada yang mengetahui jika Dery tidak bahagia bersamanya.
"ini kartu nama ku simpan lah, jika kamu ingin benar-benar lepas dari Marco kamu bisa menghubungi ku, aku pasti akan membantu mu." Rizal menyerahkan kartu namanya. "simpan baik-baik jangan sampai Marco tahu." pesannya sebelum Dery benar-benar pergi.
Rizal menatap kepergian Dery dengan rasa penyesalan yang dalam, seandainya dulu dirinya tidak membantu Marco membujuk Dery,
__ADS_1
mungkin gadis itu tidak akan berada dalam masalah sebesar ini, Dery tidak akan kehilangan kebahagiaannya.
*cerita ini hanya fiktif* semoga kalian suka, maaf ya jika masih ada kesalahan 🙏🙏❤❤ jangan lupa like dan komen.