
Hari keberangkatan Dery menuju Surabaya tiba. Penerbangan Dery pukul lima sore, tapi Marco sudah beberapa kali menelpon, hanya untuk memastikan Dery tidak berubah pikiran.
Dirumah,
Ayah dan ibu Rahmat sedang mempersiapkan segala kebutuhan putrinya.
Ayah banyak memberi wejangan agar putrinya selalu menjaga diri dengan baik,
Ya begitulah orangtua, sudah sebesar apapun anak-anaknya akan tetap dianggap masih kecil.
Meskipun tidak rela jauh dari putrinya, ayah dan ibu mencoba menerima keputusan Dery.
Terlebih awal dari Dery bekerja di perusahan itu karena desakan dari ibu, yang ingin melihat Dery bekerja dengan penampilan rapi, dan tidak menjadi montir lagi.
****
Di bandara lagi-lagi suasana haru sangat terasa, saat keluarga Sanjaya dan ketiga sahabatnya, juga datang mengantarkan Dery. Amih terus saja menitikkan air mata, membuat Dery yang berusaha tegar menjadi ikut menangis.
Marco juga sudah sampai di bandara menyaksikan kehangatan keluarga Dery dan sahabatnya dari kejauhan.
Hingga pandangan Marco tertuju pada laki-laki yang sangat ia kenal, putra sulung keluarga Sanjaya, Reno Rahardi Sanjaya teman semasa sekolah nya dulu.
"jadi Roby itu adik Reno? gue musti hati-hati sama mereka, jangan sampai karena Reno gue jadi gagal dapetin Dery. Kenapa dunia sesempit ini." Gerutunya dalam hati.
Ia khawatir jika Reno tahu dirinya mengincar Dery, maka usahanya akan digagalkan oleh Reno.
Semasa sekolah dulu hingga sekarang Reno tahu betul jika dirinya tidak bisa setia dengan satu wanita.
Marco memilih pergi menjauh dari Dery dan keluarganya.
****
Setelah Perjalanan yang melelahkan,
Marco dan Dery sudah tiba di apartemen yang disediakan kantor untuk mereka.
__ADS_1
Masih satu lantai tapi tentu saja berbeda unit. Marco memang sengaja memilih 2 unit yang saling berhadapan dalam 1 lantai, agar dia dengan mudah mengawasi semua kegiatan Dery.
Dery yang sedang bersantai, setelah mengelilingi tempat tinggal barunya, dikejutkan dengan ketukan pintu.
"ck siapa sich ganggu aja deh, Ijah kan pengen tidur" berjalan menuju pintu dengan malas.
"ya ada apa?" hanya mengeluarkan kepala.
"ck" Marco hanya berdecak.
"bisa tidak, kamu bersikap sopan?" tegas Marco.
"emm maaf pak, sebentar" kembali masuk dan menutup pintu. Dery lupa jika dirinya hanya memakai daster tanpa memakai bra.
Marco masih menunggu, sambil terus mengetuk-ngetuk pintu.
"Malah ngapain sih anak itu" gerutunya semakin kesal.
Tak berselang lama Dery akhirnya keluar "maaf ya pak, tadi saya kebelet pipis" ia tidak mungkin bilang jika dirinya masuk untuk memakai bra.
"mau kemana pak?" Dery berlari kecil agar bisa mengimbangi langkah Marco.
"beli makan lah, memang kamu gak lapar?" ketusnya. Hanya diangguki oleh Dery.
Didalam lift Marco terus saja memandangi Dery. "kenapa dia manis sekali sih, cuma pakai daster gini aja bikin jantungku berdebar kencang" mencoba menutupi rasa kagumnya pada Dery.
"Bapak kenapa? kok mondar-mandir terus dari tadi. apa bapak ingin ke toilet?" Dengan polosnya Dery bertanya, membuat Marco terbahak.
"hahaha kenapa kamu lucu sekali, memang kalau orang mondar-mandir sudah pasti ingin ke toilet?" masih terus tertawa.
"soalnya saya kalo nahan pipis suka mondar-mandir gitu pak" mengedikan bahu cuek.
Marco sampai mencubit pipi cubi Dery, saking gemasnya. "kamu itu terlalu polos ya" sambung Marco.
"aduh pak jangan cubit pipi saya dong, sakit" memonyongkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"kita beli makan dimana pak? naik apa? jalan kaki pak?" bertanya tanpa henti.
"sstt kalau kamu gak bisa diam, mau aku cium agar kamu diam?" tersenyum mengerikan. Dery langsung memberi jarak lima meter.
"naik, cepat" menunjuk mobil didepannya.
"ba..baik pak" gugup Dery.
Marco memilih makan di warung kaki lima, Saking takutnya dengan ancaman Marco, sepanjang jalan Dery tak mengeluarkan suara sedikitpun. Marco hanya tersenyum melihat wajah kesal Dery.
Sambil menunggu pesanan jadi, iseng Marco bertanya. "Dery, apa kamu tidak memiliki kekasih?" memulai obrolan.
Dery yang mendengar pertanyaan Marco malah melotot.
"saya tanya, bukanya dijawab malah melotot" balas menatap tajam.
"emm itu pak, saya gak pernah punya kekasih" jujur Dery.
Mendengar jawaban Dery, Marco sampai tersedak. "haa serius? gadis secantik kamu gak punya pacar? terus laki-laki yang memeluk mesra kamu di bandara tadi siapa?" Marco semakin penasaran.
"maksud bapak siapa? kok bapak tahu, apa bapak memata-matai saya?" Dery melirik curiga.
"ck, pede sekali kamu. tadi saya lihat di bandara. laki-laki tinggi dengan topi hitam" Marco balas melotot.
"oh, dia Ikbal, sahabat saya" memutar bola mata malas.
"oh, hanya sahabat. Tapi kenapa dia melihat mu dengan tatapan cinta?" mendesak Dery untuk mengaku. "saya ini kan pria, saya tahu saat pria jatuh cinta itu seperti apa." lanjutnya.
"dia memang sahabat saya. anda percaya atau tidak saya tidak peduli." menyelesaikan makan, memilih masuk kedalam mobil. "bapak yang bayar ya. karena bapak yang ngajak saya." teriaknya dari dalam mobil.
Marco semakin dibuat penasaran dengan Dery, gadis lain seusianya pasti sudah berlomba-lomba memamerkan pasangannya, tapi Dery, dia malah tidak peduli kalau ada laki-laki yang mencintainya.
Sampai di apartemen, Dery yang kadung mengantuk tak mempedulikan Marco, dia memilih langsung meninggalkan Marco didepan pintu.
"gadis ini benar-benar ya, selain menggemaskan ternyata dia juga menyebalkan. Baru kali ini ada perempuan yang tak menggubris kehadiran ku." Marco mengepal tangan kesal.
__ADS_1
*cerita ini hanya fiktif* maaf jika masih banyak kesalahan 🙏🙏❤ semoga kalian suka ya dear.