
Waktu terus bergulir.
Akhir-akhir ini waktu Daniel banyak ia habiskan untuk menemani sang putra, hingga ia meninggalkan perkerjaan yang semakin menumpuk.
Ditambah sejak kakak iparnya melahirkan, tanggung jawab cafe berpindah padanya.
Daniel memaklumi kesibukan Dery untuk merawat Rey dan Ramon, semakin repot lagi jika Rizal mulai cemburu pada kedua putranya, dia akan menjadi sangat manja dan merepotkan Dery.
Tubuh lelah Daniel sama sekali tidak ia rasakan, meski beberapa hari ini merasa sangat lemah dan sering sesak nafas.
Daniel selalu menutupi apa yang ia rasakan dari keluarga nya. Hanya tak ingin membuat mereka khawatir.
Dari gedung perusahaan Arandra group kini ia melajukan mobilnya ke cafe milik Dery, berjalan perlahan membelah hiruk pikuknya jalanan.
Siang cukup terik, dengan lalu lalang orang-orang memenuhi jalan saat waktu makan siang. Sibuk mencari tempat makan yang enak namun terjakau bagi para pekerja.
Jika ia bisa memilih mungkin Daniel tak akan mau melanjutkan perkerjaan Dery di cafe, Enggan rasanya menginjakkan kaki di sana.
Mungkin karena hatinya yang merasa tak nyaman, atau entahlah.
Setelah berlama-lama di perjalanan, kini Daniel telah sampai di halaman parkir cafe.
Cukup lama ia menatap bangunan di depannya tak kunjung turun dari dalam mobil.
haaahh
__ADS_1
Menghembuskan nafas panjang, sambil beranjak keluar mobil.
Baru melangkah masuk kedalam cafe pandangan matanya melihat dua orang yang tak asing tengah berbincang dengan hangatnya, bahkan senyuman mereka menggambarkan jika mereka saling nyaman satu sama lain.
Dengan senyum tersungging ia masuk kedalam ruang kerja, yang mulai hari ini akan menjadi ruangannya.
Hari pertama yang buruk. gumamnya.
Matanya melirik begitu banyak berkas menumpuk diatas meja. Perlahan memulai pekerjaannya.
Cukup lama ia berkutat dengan pekerjaanya, sampai tanpa di sadari waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Bahkan sejak ia tiba sampai sekarang tak sekalipun Daniel beranjak dari duduknya.
"kenapa waktu cepat sekali berlalu, aku harus segera pulang, Ramon pasti sudah menunggu ku untuk makan malam, "
ceklek
Baru saja ia ingin membuka pintu, tapi pintu terbuka dari luar.
"loh, tuan Daniel anda disini? " tanya Fia dengan wajah panik.
"sejak kapan tuan berada disini? "
Daniel hanya terkekeh pelan, "kau terlalu lama menerima tamu sampai tak tahu aku sudah berada di sini sejak siang tadi. "
__ADS_1
Matilah aku, bagaimana aku tidak tahu jika tuan Daniel disini, apa yang harus aku katakan sekarang.
"ma.. maaf tuan, "
"sudahlah, " menepuk pundak Fia, "aku mengerti, aku akan pulang tolong pastikan besok pagi ruang kerja ku sudah bersih dan rapi, "
"ba.. baik tuan, "
"ah iya satu lagi, katakan pada semua karyawan jika mulai hari ini aku lah yang akan mengurus cafe ini dan semua cabangnya. " Daniel berbalik menatap wajah pias Fia yang terlihat sangat takut padanya. "jangan takut, aku tidak marah pada mu, "
Tanpa menunggu jawaban ia langsung melangkah pergi, meninggalkan Fia dengan rasa bersalah.
Saat berjalan keluar ekor matanya bisa melihat Rendy masih setia duduk di kursi yang sama seperti tadi siang.
sepertinya kalian semakin dekat
Di dalam mobil, Daniel menyandarkan kepalanya. Entah mengapa tubuhnya tiba-tiba merasa sangat lemah, bahkan nafasnya tak lagi teratur.
Beberapa menit Daniel berusaha menstabilkan nafasnya tapi tak kunjung membaik, rasanya justru malah semakin memburuk.
Huuhhh
Aku butuh bantuan sekarang.
Tangannya meraih ponsel, mendial nomor yang sudah cukup lama tak dihubungi.
__ADS_1
Dengan nafas terengah meminta si penerima telefon untuk segera menjemputnya.
Bersambung.....