
Setelah dua malam, sepasang pengantin baru ini menginap di hotel.
Akhirnya mereka sudah tiba dirumah utama Rizal,
Para pelayan menyambut hormat tuan dan nona muda mereka.
"Ramon, anak Mama," Dery berjongkok saat melihat putranya berlari kearah dirinya dan Rizal.
"Mama, Papa apa aku sudah akan punya adik," ceplos Ramon,
"ehh.." Dery dan Rizal saling melempar tatapan,
lalu melirik kearah Dena dan Dika yang berdiri diambang pintu sambil tersenyum.
"apa Om dan Tante yang mengajari mu sayang?" Dery mengusap pipi Ramon.
"iya, kata Tante, sebentar lagi aku akan punya adik," dengan polosnya Ramon mengangguk.
"Papa akan memberikan mu adik sayang," Rizal tersenyum jahil pada sang istri,
"kamu mau punya adik berapa hmm? Lima enam tujuh atau sebelas?"
Ramon tampak antusias, sedangkan Dery melotot kaget mendengar kalimat sang suami.
Dery menggandeng Ramon masuk kedalam rumah, meninggalkan Rizal yang sedang berkhayal tentang anak diluar.
memangnya kesebelasan, enak saja mau punya anak sebelas, dikira pabrik apa, suami ku sudah gila. gumam Dery.
"apa kamu sedang mengatai ku, sayang?" bisik Rizal pada Dery, dia sudah berdiri dibelakangnya saat ini.
"ehh, kamu dengar?"
"tentu saja, aku kan suami mu sayang," Rizal terus saja melingkarkan lengannya pada pinggang Dery.
"ayo kita buatkan adik untuk Ramon sayang," bisik Rizal lagi.
"stop kak, kita baru saja sampai,"
Dena mengikuti mereka duduk diruang keluarga, "kak kenapa masih gitu sih manggilnya,"
"maksudnya?" Dery menautkan kedua alisnya.
"panggil sayang kek, suami ku kek, atau kakanda kek, ini kok masih kakak aja," Dena menyomot toples cemilan diatas meja.
"kakanda? kamu kira kita hidup di jaman Majapahit?" sewot Dery, sedangkan Rizal hanya terkikik didalam pelukan sang istri.
"benar kata Dena, kenapa kamu tidak memanggil ku sayang atau cinta," Rizal menakup wajah Dery dengan kedua tangannya,
"ayo cobalah, panggil aku cinta," paksanya.
"...." Dery hanya diam menatap heran suaminya.
"jika kamu tidak mau, baiklah." Rizal mencium bibir Dery didepan semua orang.
"mmttt..." Dery mendorong Rizal.
"apa kamu sudah gila," Dery menutup wajahnya malu.
"kalian mengotori mata suci ku," dengus Dena.
Zyan dan Joe yang tadinya ingin bergabung dengan mereka, spontan membalikkan badan melihat tuannya yang sangat bucin.
"hei tuan, apa tidak ada tempat lain, jangan buat mata suci kami berdosa karena ulah mu." teriak Zyan. Joe justru menutup kedua matanya kesal.
Rizal malah semakin erat memeluk Dery, "ayo panggil aku cinta atau aku akan mencium mu lagi," ancamnya.
"huuhhh...." Dery menghembuskan nafas kesal.
__ADS_1
"baiklah, cintaaa, bisakah kamu melepaskan pelukan mu ini, aku sulit bernafas,"
"ulangi lagi aku tidak dengar,"
"suami ku, cinta ku, sayang ku," teriak Dery.
Rizal tersenyum bangga, hanya dipanggil begitu saja Rizal sudah sangat senang.
Yang lain malah tertawa dengan keras melihat bagaimana seorang tuan muda yang angkuh dan kejam ini menjadi begitu bucin pada istrinya.
"daripada kalian berdua tertawa seperti itu, lebih baik kalian segera mencari istri," Rizal menatap Zyan dan Joe dengan wajah yang meremehkan.
"aku masih suka seperti ini, kenapa harus punya istri," ketus Zyan,
"lagi pula aku tidak ingin menjadi bucin seperti mu tuan," sambung Joe.
"ahh, begini saja," Rizal menyilangkan tangan di dadanya, menatap Zyan dan Joe bergantian.
"siapa pun dari kalian berdua yang lebih dulu menikah, maka aku akan memberikan satu cabang hotel milik ku, untuk hadiah pernikahan, bagaimana?" tantang Rizal.
Zyan dan Joe saling tatap, seakan mereka saling mengerti yang ada dipikiran satu sama lain.
sialan, sepertinya Rizal benar-benar ingin menantang aku dan Zyan. batin Joe.
Sialan!!! apa Rizal benar-benar ingin melihat aku dan Joe bersaing!! batin Zyan.
"apa kau serius tuan?" ucap Joe dan Zyan bersamaan.
"tentu saja, kapan aku pernah tidak serius," Rizal menciumi rambut istrinya.
Sultan mah bebas, asistennya mo nikah dikasih hadiah hotel, gumam Dery.
"apa istri Sultan juga mau hadiah, hmm?," bisik Rizal.
"ehh, sayang dengar?"
Dery hanya mengedikkan bahu.
"kak apa aku boleh ikut?" ceplos Dena,
"ikut apa?" tanya Dery.
"ikut, tantangan yang kak Rizal berikan," Dena menyengir kuda, "aku juga ingin punya hotel sendiri kak hahaha," tawa renyah Dena sukses membuat semua orang ikut tertawa, kecuali Dery.
"berani kau macam-macam, aku pastikan hidup mu akan menderita," dengus Dery.
"isshh kakak, udah gak jadi janda tapi tetep judes dan kejam saja." Dena sengaja memeluk Joe yang duduk disamping nya.
"kak, lindungi aku," bisiknya pada Joe.
"Joe, lepaskan Dena, jangan berani menyentuh nya,"
"eeh, aku tidak menyentuh Dena kok, dia sendiri yang main nyosor saja," Joe sedikit mendorong Dena agar menjauh.
"kalian berdua sama saja," marah Dery.
Dena hanya terkikik, sambil terus memeluk lengan Joe.
Entah sejak kapan, Dena memang terlihat sangat mengagumi Joe.
Dia bahkan sudah sangat sering mengatakan jika ingin memiliki suami yang seperti Joe, padahal Dena kini masih duduk di bangku SMA.
Dena memang berbeda dengan Dery.
Jika Dery lebih suka menyimpan segala unek-unek dan apapun yang dia rasakan.
Dena justru lebih berani mengungkapkan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
.
Malam menjelang....
Rumah utama terasa sangat ramai saat ini,
Kehadiran Ramon sungguh membuat semua orang tersenyum,
Tingkah polosnya membawa kebahagiaan dirumah itu.
Setalah menyelesaikan acara makan malam, semuanya berkumpul diruang keluarga.
Ada yang sibuk dengan gadget masing-masing, sedang menonton tv, ada juga yang sedang bermesraan disana.
Ramon yang sejak tadi bermain-main dengan Dika, tiba-tiba menghampiri Dery dan Rizal.
"Mama, apa aku boleh tidur dengan kalian malam ini?" Ramon sudah duduk dipangkuan Rizal.
Rizal melotot mendengar permintaan sang putra,
jangan sayang, Papa mohon jangan, jika kamu ikut tidur dikamar Papa bagaimana kamu akan mempunyai adik secepatnya. batin Rizal.
"tentu saja boleh," Dery tersenyum senang, dia bisa menebak apa yang ada didalam pikiran sang suami.
Joe dan Zyan tersenyum samar,
memangnya enak, batin Joe
sukuriiin, batin Zyan.
Sedangkan Dena dan Dika sama sekali tidak mencoba mencegah Ramon.
Itu semua karena mereka dipaksa oleh Joe dan Zyan.
Jika Joe yang meminta, dengan senang hati Dena akan menurutinya.
"kenapa Ramon tidak tidur dengan Om Dika saja, hmm?" Dengan lembut Rizal mencoba membujuk Ramon.
"Papa tidak suka ya kalau aku tidur dengan kalian?" Ramon tertunduk lesu.
"Bu..bukan begitu sayang, Papa suka kok Ramon tidur bareng Mama sama Papa," Rizal mengusap-usap pipi Ramon.
"tapi kan tadi Ramon bilang, Ramon ingin punya adik,"
Melihat wajah Ramon yang bingung, Rizal mencoba menjelaskan padanya sebisa mungkin.
"gini sayang, adik Ramon kan masih sangat kecil, jadi dia malu jika bertemu Ramon sekarang." ucap Rizal asal.
"sekecil apa Pa? dimana dia sekarang?" Ramon makin antusias.
"kecil sekali sayang, dan masih ada disini," menunjuk perut rata sang istri.
"jadi malam ini Ramon tidur sama Om Dika dulu ya, biar adik Ramon cepat besar," bujuk Rizal.
Ramon hanya tersenyum dan mengangguk, lalu berjalan mendekati Dika.
"Om ayo kita tidur aku sudah mengantuk." menarik Dika masuk kedalam kamar nya.
kecil katanya!! Tentu saja kecil, sama kecebong aja kecilan itu.
Huuhhh jadi gagal kan ngerjain bos bucin ini. batin Zyan kesal.
Joe juga tidak habis pikir, bagaimana bosnya ini bisa memberikan jawaban seperti itu pada anak kecil, dan Ramon langsung menurut.
***bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote ya gaes.... ❤❤😘😘***
__ADS_1