
Drama mie instan masih berlanjut, Rizal sudah berdiri didepan kamar sang istri.
Berulang kali mengetuk pintu kamar, tapi sang istri tak kunjung menanggapinya.
Pak Burhan yang sejak tadi memperhatikan Rizal menggerutu didepan pintu kamar, berinisiatif memberikan kunci cadangan untuknya.
"gunakan ini saja tuan,"
Rizal melirik kesal. "kenapa tidak dari tadi saja pak,"
"ma...maaf tuan,"
Dena hanya menggeleng melihat kakak iparnya itu.
Dasar bucin, dikasih solusi malah sewot.
Rizal masuk kamar dengan mengendap-endap, melihat sang istri masih bersembunyi dibalik selimut.
Tidak ada gerakan apapun.
Dia menaruh makanan diatas meja nakas, lalu perlahan menaiki tempat tidur.
Membuka sedikit selimut untuk mengecek apakah sang istri masih menangis.
tidur ternyata, aku bangunkan saja lah, kalau menunggunnya bangun mie ini pasti tidak enak lagi.
Rizal menciumi lembut mata sembab Dery, mengusap lembut bibir yang beberapa hari ini enggan diciumnya.
Dery menggeliat karena Rizal terus menciumi kening dan pipinya.
"kak.." seraknya.
"sayang, maaf ya aku membuat mu menangis," Rizal tersenyum lembut.
"hmm..." jawabnya singkat.
Dery mencium aroma yang begitu menggugah selera.
Baunya enak sekali, aku lapar. batinnya.
"sayang mau makan mie kan?" Rizal bangkit, meraih mangkuk mie yang tadi dia masak sendiri.
"ini aku sudah masakan mie yang kamu mau, dengan telur mata sapi dan cabai,"
Senyuman Dery langsung mengembang.
Wajahnya berbinar, dia duduk menghadap sang suami.
Kemarahannya sirna seketika, saat melihat mangkuk mie yang masih hangat.
Dery meraih mangkuk itu.
Tapi wajahnya berubah masam, lalu mengembalikan mie itu pada Rizal.
"kenapa sayang?" Rizal semakin bingung.
"tidak ada sayurannya, aku tidak mau," Dery mencibikkan bibirnya.
ya Tuhan salah lagi, sepertinya dia sengaja membuat ku kewalahan. batin Rizal.
Dery menatap Rizal tajam, "kakak sedang mengatai ku ya?"
"ehh!"
"ti..tidak sayang."
"aku mau mie dengan sayur, bukan seperti ini."
"tapi Dena bilang..."
"aku tidak mau itu." tegas Dery.
"baiklah aku buatkan lagi ya," Rizal tersenyum hangat.
Semanja dan semenyebalkan apapun kamu, aku akan selalu mencintaimu.
Rizal berjalan keluar kamar, secepat mungkin membuatkan mie untuk istrinya.
Tanpa disadari Dery sudah berdiri dibelakang dan memperhatikan setiap gerakannya.
__ADS_1
"kak.."
"ya sayang,"
"aku buat sendiri saja mie nya, itu kakak yang makan," Dery melirik mie yang ada dimeja makan.
Rizal tidak lagi mau membantah sang istri, takut jika nanti Dery marah lagi.
"silahkan nyonya," Rizal mempersilakan sang istri.
Sepuluh menit Dery berkutat didepan kompor, kini mie nya sudah siap.
Dery berjalan menuju meja makan, Rizal sudah menunggunya sejak tadi.
"kenapa belum dimakan kak?"
"tentu saja aku ingin makan bersama istri tercinta ku ini,"
"hmm..." Dery hanya manggut-manggut, lalu menyuap mie hangat buatannya.
Rizal tersenyum senang melihat Dery menyantap makanannya dengan lahap.
Apa semua wanita begini? saat dia pms moodnya akan mudah berubah-ubah secepat ini. Baru satu jam yang lalu dia marah-marah sekarang sudah tersenyum bahagia hanya karena mie instan.
"kakak mau coba?"
"apa boleh?"
"tentu saja, aku suapi yaa,"
Aaa...
Dery menyuapi Rizal dengan sendoknya.
"kenapa rasanya beda, buatan ku kenapa tidak seenak milik mu sayang,"
Dery hanya terkekeh.
"mau lagi?" Rizal mengangguk, mulutnya sudah terbuka lebar minta disuapi lagi.
Acara makan mereka diiringi tawa, Dena, Dika dan pak Burhan yang memperhatikan dari jauh ikut bahagia melihat kemesraan mereka.
Mereka seakan lupa akan masalah yang sedang mereka hadapi.
Keluarga Dery, belum tahu jika rumah tangga Dery sedang diterpa masalah yang cukup serius.
Dena dan Dika yang sering menginap dirumah utama Rizal, juga tidak tahu tentang permasalahan mereka.
Dan masih tidak ada yang tahu tentang kehamilan Dery, Dena pikir Dery bertingkah seperti itu karena sedang datang bulan saja.
Karena banyak wanita yang akan uring-uringan, pada saat kedatangan tamu bulanan.
author juga sering uring-uringan kalo likenya dikit 😂😂😂
etdah paan sih thor 😒
.
Pagi menjelang...
Rizal sudah bersiap berangkat ke kantor, sedangkan Dery sudah duduk manis dimeja makan, menikmati secangkir teh hangat dan roti gandum.
"sayang, kenapa akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat mu makan nasi?"
Rizal baru saja duduk, dia memang beberapa kali ingin bertanya soal ini tapi dia selalu saja lupa.
"sedang tidak ingin saja," Dery mengedikkan bahu cuek.
"ini saja sudah cukup," tersenyum hangat.
"jangan coba-coba untuk diet ya," Rizal tidak ingin Dery menyiksa dirinya hanya untuk penampilan.
Rizal sudah sangat bahagia memiliki Dery, apapun keadaan dan kondisinya.
Sama sekali tidak mempermasalahkan Dery gemuk atau kurus.
"kenapa aku harus diet, aku tidak gendut,"
"lalu kenapa tidak mau makan nasi?" Rizal terlihat tidak puas dengan jawaban Dery barusan.
__ADS_1
"kan sudah aku bilang kak, aku sedang tidak ingin makan nasi," Dery sudah mulai kesal.
huuhhh....
Rizal menghembuskan nafas panjang.
Ok Rizal, tahan, jangan sampai istri mu ini mengamuk lagi, dia sedang pms. batin Rizal.
Mereka melanjutkan sarapan tanpa berbicara.
Selesai makan Dery mengantar Rizal dan sang putra yang akan ke sekolah sampai pintu utama.
Melambaikan tangan melepas kepergian sang suami dan putranya.
Rasanya tidak rela jika berjauhan dari Rizal, tapi Rizal juga harus mengurus pekerjaan dikantor kan.
Lagi pula kalau Dery menahan sang suami, dia harus memberi alasan apa, sedangkan dia saja belum memberitahu Rizal jika dia sedang mengandung.
Didalam mobil...
Rizal menatap keluar jendela mobil, jalanan cukup ramai pagi ini.
"tuan, dokter Ilham Ingin bertemu dengan anda siang ini," suara Zyan memecah keheningan.
"suruh dia kekantor, aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana,"
"tapi tuan, dokter Ilham Ingin Anda kerumah sakit, ada hal penting yang ingin dia tunjukkan, katanya ini menyangkut soal tuan dan nona."
Mendengar istrinya ikut disebut, Rizal menjadi penasaran.
"istri ku?" Rizal tampak mengerutkan keningnya.
"tentu saja tuan, memangnya ada nona lain yang tidak kami ketahui?" ketus Joe.
Plaakkk
"apa kau pikir aku ini gila," dengus Rizal kesal.
"sepertinya kau sudah mulai bosan mendampingi ku ya,"
"huh... sakit sekali," Joe mengusap lengannya yang dipukul Rizal.
"yang mendampingi taun itu nona, bukan aku, aku ini hanya asisten saja."
"ya, maksud ku itu."
"kenapa tidak kerumah sakit saja tuan, kita kan juga harus mengambil hasil tes itu," lanjut Joe.
"kau benar,"
"Zy katakan pada Ilham, kita akan kesana siang ini."
Zyan hanya mengangguk, lalu mengetikkan pesan untuk dokter Ilham.
Dirumah utama...
Dery sedang gelisah didalam kamar, entah mengapa perasaannya tidak enak hari ini.
Dery mondar-mandir di balkon kamar, tidak tahu harus melakukan apa.
Tidak lama, ponselnya berdering dengan nyaring.
Dery buru-buru melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.
_nona, bisakah nona ke cafe sekarang? sedang ada masalah disini, cepatlah datang nona, banyak karyawan yang keracunan._ pesan dari Fia asistennya.
Setelah membaca pesan itu, Dery dengan panik berlari menuruni tangga.
Dia ingin segera sampai di cafe.
pantas saja perasaan ku sangat tidak enak, ternyata ada masalah di cafe, kenapa bisa semua karyawan ku keracunan.
Dery melajukan mobilnya tanpa supir, padahal Rizal sudah mewanti-wanti agar Dery selalu diantar supir kemampun dia pergi.
Karena panik Dery melupakan segala hal. Bahkan dompetnya saja tidak terbawa.
***Bersambung..
biasakan meninggalkan jejak like komen dan vote ya dear 😘❤❤***
__ADS_1