Janda Judes

Janda Judes
75 Joe lagi?!


__ADS_3

Dery bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya, tidak peduli para karyawan yang menyapanya sopan.


Menghentikan langkah saat seorang karyawan wanita menghentikannya.


"bos, kemarin ada yang datang kemari mencari Anda," kata Fia.


Dery berbalik, menatap Fia "ikut gue" menunjuk ruang kerja dengan dagu nya.


Dia hanya mengangguk patuh.


"tutup pintunya fi," sambung Dery yang sudah sibuk mencari sesuatu di meja kerjanya. "siapa yang kamu maksud?" lanjutnya.


"amm itu bos, pak Joe" mendengar nama Joe yang disebut membuat Dery menghentikan kegiatannya.


"Joe lagi, mau apa dia sebenarnya. Kenapa akhir-akhir ini semakin sering mencari ku," gumam Dery pelan.


Dery mendongak menatap Fia penuh tanya.


Fia yang paham akan maksud Dery langsung melanjutkan kalimatnya " pak Joe meminta nomer ponsel mu bos, tapi tidak ada yang berani memberikan nya."


"huft," Dery menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya. menarik nafas panjang sebelum melanjutkan bicara "jangan pernah berikan nomer baru ku pada siapa pun Fi, aku tidak ingin ketenangan ku diganggu."


"baik bos," Fia mengangguk,


Dery menaikkan satu alisnya, seolah mengatakan apa ada yang ingin dibicarakan lagi. Fia langsung mengerti apa yang dimaksud Dery.


"cabang baru sudah siap bos, dan ini daftar karyawan barunya, Anda bisa cek sendiri," menyerahkan beberapa berkas pada Dery.


"kau atur saja soal karyawan, aku tidak peduli. Aku juga tidak akan datang saat launching nanti kau saja yang mewakilkan ku." Dery mengedikkan bahu.

__ADS_1


"baik bos," Fia menunduk lalu berjalan pergi.


"Fi, tolong laporan kemarin ya," ucap Dery lagi.


"siap bos, aku ambilkan dulu." bergegas keluar ruangan.


Dery mengurut pangkal hidungnya, tiba-tiba sekelebat bayangan Rizal tersenyum padanya muncul begitu saja. "dia lagi, dia lagi, apa sebenarnya mau mereka. Apa tidak sadar, yang mereka lakukan membuat ku sangat terluka." Dery menggelengkan kepala menghilangkan bayangan Rizal yang selalu saja hadir jika dirinya sedang sendirian, saking kesalnya Dery sampai meninju tembok hingga tangannya berdarah.


"bos ini laporan yang anda minta," Fia masuk menatap Dery dengan wajah bingungnya. "kenapa bos apa yang terjadi." tanya Fia masih berdiri ditempatnya.


"apa aku terlihat kacau?" Dery hanya tersenyum samar, lalu duduk disofa. "Bukankah kalian sering melihat aku seperti ini? kenapa harus heran," batin Dery menyadari jika sejak kepergian Rizal membuat dirinya sangat berantakan.


"sebenarnya apa yang terjadi padamu bos, jika tidak keberatan bisa ceritakan masalah mu pada ku, aku janji tidak akan membocorkannya." Fia merasa iba melihat Dery yang sekarang.


Bosnya ini kehilangan senyum dan keceriaannya, Fia sering memergoki Dery terus saja melamun bahkan sering melukai dirinya sendiri, seolah sedang melampiaskan kemarahannya.


"sudahlah Fi, aku tidak apa-apa kembalilah bekerja, aku akan membawa semua ini ke bengkel, kau urus cafe ya, jika ada masalah hubungi aku." Dery menepuk pundak Fia, lalu bergegas meninggalkan cafe.


"ini hanya lecet, kau kembali bekerja sana, aku sudah telat ke bengkel. Jika ada yang mencari ku lagi, ingat ya jangan pernah beritahu jika aku ada dibengkel." Dery mewanti-wanti karyawannya. Dia benar-benar tidak ingin hidupnya diusik lagi, luka yang ada dihatinya sangat sulit untuk diobati.


.


Setibanya dibengkel, Dery berjalan cepat menuju toilet, mengganti pakaiannya dengan wearpack, mengikat rambutnya keatas memakai topi dan masker.


"hei nona, kenapa kau selalu menutupi wajah cantik mu," goda Reno saat Dery sedang berdiri didepan lemari pendingin.


"kak, jangan pernah panggil aku nona lagi." dibalik topi hitam yang dia kenakan tatapan tajam Dery bisa dengan jelas dilihat Reno.


"adik ku ini kenapa sekarang jadi judes banget sih," Reno menarik Dery untuk mengikutinya. "apa kamu sudah kehilangan senyum manis mu, hmm?" Reno duduk berhadapan dengan Dery.

__ADS_1


"tidak aku masih bisa tersenyum, tapi aku hanya lebih senang seperti ini kak, dengan aku bersikap begini gak akan ada orang yang berani macam-macam kan?" menjawab asal.


"serius?" Reno mencari kebenaran dimata Dery. "lalu tangan mu kenapa lagi?" pandangan Reno beralih pada punggung tangan Dery yang terluka dengan darah sudah mengering. "kamu mukulin orang lagi der?"


"ah ini, yaa begitulah," meletakkan minuman dimeja. "aku kerja dulu ya kak,"


"gak ada yang perlu dikerjakan der, semua kakak oper ke bengkel cabang, hari ini kita liburan." Rizal menyilangkan kakinya tersenyum melihat wajah bingung Dery.


"liburan? yang benar saja," berkacak pinggang. "kenapa gak bilang sih kak, kalau bilang udah pasti aku tidur aja dirumah."


"hidup mu memang hanya untuk kerja dan tidur ya der," melempar botol air mineral kosong kearah Dery.


"apa salahnya?" saat akan balas melempar Reno, pandangan Dery tertuju pada Ikbal Iwan dan Roby yang baru saja datang.


"jadi kalian dalangnya?" menatap tajam tiga sahabatnya itu.


"memangnya kenapa, sudah lama sekali kita gak liburan bareng kan, kayak nya terakhir kali pas kamu diceburin Vina ke laut deh," dengan polosnya Iwan mengungkit soal Vina, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Reno Ikbal dan Roby.


"itu mulut emang gak punya rem ya," terdengar suara sentilan keras.


"argh sakit kampret, bisa monyong bibir gue kalo Lo sentil," Iwan meringis mengusap bibirnya.


"biar makin seksi, mau gue tambahin gak wan?" Dery sengaja mengacungkan tinju tepat di depan mata Iwan, membuat Iwan mundur tiga langkah.


"sekarang Lo bahkan lebih macho dari pada kita jah," Iwan bergidik ngeri menatap Dery dengan penampilan yang seperti sek lelaki.


Dengan perdebatan yang panjang akhirnya Dery mau ikut liburan, dengan syarat dia mengendarai motor sendiri, akhirnya Iwan pun ikut berkendara dengan motor.


Dua motor satu mobil, mereka memilih pergi ke villa kecil di pedesaan milik orang tua Lidia, menurut Lidia tempat itu cocok untuk berlibur jauh dari hiruk pikuk kota dan ada danau indah dibelakang villa itu.

__ADS_1


bersambung......


bantu like komen dan vote ya dear ❤❤🙏🙏 biar mimin semangat up 😘😍


__ADS_2