Janda Judes

Janda Judes
117 Pengikat.


__ADS_3

"wow, kau tampak sangat bahagia sepertinya?"


"tentu saja, jika saja kau tahu bagaimana wajah wanita sial itu, saat aku melemparkan foto ku dan Rizal, pasti kau akan ikut bahagia sekarang."


"melihat mu bahagia saja, aku sudah bahagia sayang,"


"tapi wanita itu meminta aku melakukan tes DNA, lalu kita harus bagaimana?"


"tenang saja, semua itu sudah aku pikirkan sebelumnya."


"Dery bukan wanita bodoh yang akan begitu saja percaya dengan bukti macam itu."


"yaah kau benar, wanita itu lebih pandai dari yang aku kira."


Dery segala-galanya lebih baik dari wanita murah seperti diri mu.


"untuk tes DNA, aku akan mengurusnya nanti. Sekarang kita harus menyembunyikan Mike, jika ada satu saja pengawal Rizal mengetahui keberadaan Mike, maka mati lah kita semua."


"Mike sudah berada ditempat yang aman,"


"haahh,"


"baguslah, kau meringankan pekerjaan ku."


"apa kau tidak ingin menolong adik mu sayang? aku sungguh kasihan padanya."


"Vina? aku tahu bagaimana dia saat ini, biarkan saja, dulu dia juga menyiksa Dery habis-habisan."


Marco mengingat betul bagaimana adiknya itu menyiksa Dery saat masih menjadi istrinya dulu.


Meski dia merasa kasihan pada Dery, tapi dia tidak bisa melarang Vina saat itu.


"apa kau sungguh tergila-gila pada jal*ng itu? sampai kau membiarkan adik mu disiksa disana."


berhentilah menyebutnya jal*ng, yang jal*ng itu kau bukan istri yang paling aku cintai.


"aku memang menginginkan Dery, aku juga tidak akan membiarkan Vina selamanya tersiksa disana,"


"....."


"keberadaan Vina disana akan menguntungkan kita, lihat saja nanti."


"waah, kau memang hebat co, kau selalu bisa memanfaatkan keadaan yang ada,"


Wanita itu kini sudah duduk diatas pangkuan Marco, sengaja menggesekkan pahanya yang terbuka agar milik Marco mengeras.


"kau ingin perayaan?" bisik Marco sambil menyusuri dada wanita itu yang terbuka.


"sshhh..."


"te...tentu saja." wanita itu mulai mendes*h saat jari Marco sudah masuk kedalam intinya.


Cukup lama Marco hanya bermain-main dengan jarinya, membuat wanita itu meminta lebih dan lebih lagi.


"lakukan sayang, aahhh..."


"aku sudah tidak tahan lagi,"


Tanpa aba-aba Marco menghujam kan miliknya dengan sangat keras, hingga membuat lawannya menjerit penuh kenikmatan.


Baru setengah permainan, ponsel Marco berdering. Marco melepaskan tautannya, dan mengangkat telepon.


"ck, mengganggu saja." wanita itu kesal.


Marco berjalan mendekatinya, "maaf sayang sepertinya harus kita tunda dulu, ada hal penting yang harus aku urus sekarang."


Marco mengenakan pakaiannya secepat mungkin, lalu pergi meninggalkan wanita itu yang masih sangat kesal.


Wanita itu belum puas, dia butuh pemuas nafsunya yang sudah kadung diubun-ubun.


Dia memanggil dua pengawal yang selalu berjaga didepan apartemennya.


"ya nona, and..." belum selesai bicara dua pengawal itu melotot melihat tubuh seksi tanpa busana didepan mata.


Mereka susah payah menelan savilanya.


"kemari lah..." wanita itu duduk dengan pose yang seksi.

__ADS_1


Mereka berjalan perlahan mendekati bosnya ini.


"lepaskan baju kalian berdua," titahnya.


Tidak berani membantah, dua pria ini melepaskan pakaian yang menempel pada tubuhnya.


Melihat tubuh polos dua pengawalnya ini, membuatnya semakin ingin disentuh.


"aku ingin kalian memuaskan ku sekarang,"


Seperti mendapat angin segar, dua pria itu langsung melancarkan aksinya.


.


Kini Dery selalu menyibukkan dirinya, sudah beberapa hari ini, Dery selalu pulang setelah cafe sudah tutup.


Tidak seperti biasanya, yang selalu pulang siang hari.


Rasanya Dery enggan berlama-lama tinggal dirumah.


Terlebih Rizal juga sangat sibuk, mencari bukti-bukti kejahatan wanita itu.


Siang ini Dery, baru saja menjemput Ramon dari sekolah dan langsung menuju cafe.


"Mama, kenapa Mama terlihat pucat?" Ramon mengusap wajah Dery.


"sepertinya Mama masuk angin sayang,"


"apa Mama sudah minum obat?"


Dery hanya menggeleng pelan, putranya sungguh sangat perhatian padanya.


"Ramon, Mama bisa minta tolong?"


"tentu saja, Mama mau Ramon melakukan apa?"


"tolong bilang sama Tante Fia, bawakan minuman hangat untuk Mama, perut Mama mual sayang,"


"iya ma, tunggu sebentar ya, Mama istirahat dulu."


Dery yang sedang duduk bersandar, tiba-tiba merasa perutnya sangat mual.


kenapa aku jadi mual banget sih, sepertinya ini karena aku terlalu stres, waktu makan ku juga berantakan akhir-akhir ini.


Saat berjalan menuju toilet, kepalanya terasa sangat pusing, dan pandangannya berubah gelap.


"awh.." Dery meringis merasakan sakit di kepalanya.


Dery mencoba meraba apapun yang ada didekatnya, untuk dijadikan tumpuan. Dery mengeratkan giginya sambil memejamkan mata.


Pusing kepalanya tidak lagi tertahankan.


kenapa pandangan ku jadi gelap begini, oh Tuhan kepala ku rasanya sakit sekali.


Brukk...


Wanita itu tiba-tiba kehilangan kendali dirinya. Kesadarannya sudah tidak bisa dikontrol lagi. Membuat tubuhnya limbung dan jatuh pingsan.


.


Semua orang panik saat mendengar kabar jika Dery ditemukan pingsan di dalam ruang kerja cafenya.


Fia dan Ramon menemukan Dery sudah tergeletak di lantai, saat mereka masuk membawakan minuman hangat untuk Dery.


Fia dan dua karyawan cafe langsung bergegas membawa Dery ke rumah sakit, karena hampir setengah jam setelah ditemukan pingsan Dery tak kunjung sadar.


"katakan apa yang terjadi Fi?" suara pelan namun dengan nada yang begitu mencekam, pertanyaan itu keluar dari mulut seorang suami yang sangat khawatir dengan keadaan yang istri yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Energi Rizal selalu terkuras jika menyangkut soal Dery, terlebih jika itu hal yang tidak baik.


Dengan gugup Fia menjawab pertanyaan Rizal.


"sa..sayaaa..."


"katakan Fi," Desak Rizal.


dasar bos kejam, kenapa tidak sabaran sekali sih.

__ADS_1


"saya tidak tahu tuan, waktu itu Ramon meminta saya membawa kan minuman hangat untuk nona, katanya perut nona mual." Fia menarik nafas dalam.


"lalu saat saya masuk keruangan, nona sudah tergeletak pingsan tuan."


Rizal mengacak rambutnya frustasi, beberapa hari ini dia memang sangat sibuk mencari bukti bahwa dirinya tidak bersalah.


"maaf tuan, beberapa hari ini nona memang terlihat tidak sehat, nona juga sering melupakan waktu makannya, ketika saya paksa nona akan marah."


ya Tuhan apa aku telah mengabaikan istri ku, bahkan dia sedang tidak sehat pun aku sampai tidak tahu.


Suami macam apa aku ini.


.


"apa asam lambung saya naik dok, beberapa hari ini saya kehilangan selera makan," Dery sudah sadar, tubuhnya terasa sangat lemah saat ini.


"tidak nona, bukan asam lambung," dokter itu tersenyum, "kapan terakhir kali nona datang bulan?"


Mendengar pertanyaan dokter wanita yang merawatnya, Dery sedikit terkejut.


"sebelum saya menikah dok,"


"selamat ya nona, Anda akan menjadi ibu,"


"i..ibu?" mata Dery berkaca-kaca.


"saya hamil dok?"


Dokter itu mengangguk, "sebaiknya nona banyak istirahat ya, saya saran kan rawat inap selama dua hari dulu, kondisi kandungan nona sangat lemah saat ini, usianya masih empat Minggu nona,"


Dery hanya diam, dia senang mendapat anugerah ini, tapi dia juga bimbang, kenapa dia hamil disaat yang seperti ini.


ya Tuhan, engkau kirim kan malaikat kecil dalam rahim ku, tapi kenapa harus dalam kondisi yang seperti ini.


Dery masih ingat betul wanita itu juga menuntut pertanggungjawaban sang suami yang sudah menabur benih dalam rahimnya.


Bahkan sampai kini Rizal masih belum mampu membuktikan jika dirinya tidak bersalah.


"saya akan sampaikan kabar baik ini pada tuan Rizal, nona" dokter itu sudah selesai memeriksa Dery.


"dokter tunggu," Dery memegang tangannya.


"tolong jangan beritahu berita ini pada siapapun,"


"tapi nona, ini kan berita baik, semua orang pasti senang,"


"tidak dokter, biar aku saja nanti yang menyampaikan berita ini, aku mohon rahasia kan ini dari siapa pun ya,"


"baik nona, sesuai keinginan mu." dokter itu mengangguk.


"saya permisi dulu, istirahatlah,"


Dery hanya mengangguk samar, matanya terpejam dia tidak ingin air matanya lolos lagi.


apa engkau sengaja menganugerahkan pengikat antara aku dan suami ku, aku mohon berikan jalan terbaik atas masalah yang sedang kami alami saat ini.


"sayaaaang...." Rizal menghambur memeluk Dery.


"maafkan kau, aku sudah mengabaikan mu akhir-akhir ini,"


"tidak kak, aku tahu kamu sedang sibuk," Dery tersenyum. "aku hanya kelelahan saja."


"tapi aku bahkan tidak tahu jika beberapa hari ini kamu sedang tidak sehat,"


maaf kak, selama kamu belum mampu membuktikan kebenaran yang ada, aku akan terus menyembunyikan kehamilan ku.


"hei kenapa melamun sayang?"


"ti..tidak apa aku boleh tidur, aku lelah,"


"tidurlah, aku akan menjaga mu," Rizal mengecup kening Dery lembut.


Tiga hari lagi sayang, hasil tes itu akan keluar, dan orang-orang ku sedang mencari keberadaan pria itu.


***bersambung.....


jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote yaa 😘😘 kasih othor bunga juga boleh 😁😍***

__ADS_1


__ADS_2