
Malam begitu dingin, Dery memilih duduk sendiri di taman belakang, melihat tanaman yang setiap hari dia rawat. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Hatinya sedang bahagia, lusa akan bisa melepaskan kerinduan pada orang-orang tersayang nya, meskipun harus dari kejauhan.
"kenapa udara dingin sekali malam ini, apa akan turun hujan?" batin Dery.
Saat akan masuk kedalam rumah utama Dery merasa kepalanya berat, sangat sakit, pandangan nya mulai kabur, Dery menyadari ada darah mengalir dari hidungnya, bugh Dery pingsan diatas rumput taman.
Hingga teriakan seorang pelayan wanita membuat seluruh penghuni rumah berlari menuju taman. Termasuk Rizal, yang sedang menyusun rencana bersama Joe dan Zyan.
"apa yang terjadi," Rizal melihat Dery sudah tergeletak dengan darah diwajahnya. Para pelayan hendak mengangkat Dery, tapi langsung dicegah Rizal, "biar aku yang angkat, panggilkan dokter sekarang, Joe." Berlari menggendong Dery.
Didalam kamar Rizal tidak mengijinkan siapapun menyentuh Dery, dia sendiri yang membersihkan darah diwajah Dery, sangat mengkhawatirkan keadaan Dery, wajah cantiknya sangat pucat. "apa yang terjadi pada mu der, kenapa kamu bisa seperti ini. jika kamu merasa sakit kenapa tidak bilang padaku," bergumam sambil menciumi tangan Dery.
Ketukan pintu terdengar, "masuklah," teriak Rizal tanpa menoleh.
"tuan dokter sudah sampai," Joe berdiri dibelakang Rizal.
"saya akan periksa nona, apakah tuan bisa sedikit memberi ruang." Rizal mundur membiarkan dokter memeriksa. Pandangannya tak bisa lepas dari Dery.
"kenapa kamu memanggil dokter laki-laki, apa tidak ada dokter wanita haaah," bisik Rizal suaranya sangat mencekam, membuat Joe bergidik.
__ADS_1
"maaf tuan saya tidak tau jika tuan tidak ingin nona dirawat oleh dokter laki-laki," Joe hanya tertunduk. "yang benar saja tuan ini, memangnya jika nona dirawat oleh dokter pria kenapa? cinta memang bisa membuat orang bertingkah tidak masuk akal," Joe menggeleng kepala lalu melirik Zyan yang mengedikan bahu tersenyum samar. Sama halnya dengan Joe, Zyan pun tidak habis pikir dengan bosnya.
"apa Dery baik-baik saja dok?" Rizal kembali duduk disamping Dery, saat dokter selesai memeriksa.
"apakah nona pernah terluka di kepala, atau sekitar hidung?" tanya dokter
"sepertinya iya dok, karena nona pernah melompat dari mobil yang melaju kencang," Zyan yang menjelaskan.
"trauma itu yang membuat nona sering kali mengalami pendarahan di hidung, terlebih jika nona terlalu banyak pikiran dan stres. itu akan memperparah keadaannya. sepertinya nona sedang memikirkan banyak hal." jelas dokter, "ini ada obat yang bisa membuat nona lebih baik, setelah nona bangun tolong segera berikan padanya," lanjutnya.
"baik dok, terimakasih," Joe mengantarkan dokter keluar.
****
"kak," Dery mulai sadar
"kamu sudah bangun, apa ada yang sakit?" membantu Dery duduk. "Joe, minta Burhan membawakan air jahe untuk Dery," teriak Rizal dari dalam kamar, Joe yang setia berdiri diluar kamar langsung berlari menuju dapur.
"kak, apa aku membuat mu kerepotan lagi?" Dery bisa melihat jelas Rizal mengkhawatirkan dirinya. "maafkan aku ya kak,"
__ADS_1
"ssttt sudahlah, kamu tidak pernah merepotkan aku atau siapapun." mengusap lembut pipi Dery, "apa ada yang sakit? atau kamu mau makan, kata pak Burhan kamu belum makan malam,"
"aku hanya sedikit pusing kak, aku tidak lapar kak,"
"hei apa kamu sedang diet? apanya yang tidak lapar, dari tadi perut mu sudah minta diisi," Kata-kata Rizal terhenti saat Joe masuk membawa air jahe untuk Dery,
"maaf tuan ini air jahenya," menaruhnya di atas meja. "ada yang bisa saya bantu lagi tuan?" lanjutnya
"bawakan bubur untuk nona," Rizal menjawab singkat, tanpa mengalihkan perhatiannua dari Dery.
"jika kamu tidak mau makan, aku juga tidak akan mengijinkan mu melihat keluarga mu," dengan sengaja mengancam Dery,
"aaiishh kak, kenapa harus mengancam ku, baiklah aku mau makan, tapi jangan bubur itu menjijikkan," baru membayangkan bentuknya saja Dery sudah tidak berselera, apalagi harus memakannya.
"apanya yang menjijikkan, bubur buatan pak Burhan sangat enak. kau ini sedang sakit," menyentuh kepala Dery dengan punggung tangannya. "mau atau tidak?," sengaja menekan suaranya, agar Dery mau menurut.
"baiklah aku mau," akhirnya pasrah, senyum sukses tercetak di wajah dingin Rizal.
Tidak lama Joe datang membawa bubur, menyerahkan pada Rizal lalu keluar.
__ADS_1
Dengan telaten Rizal menyuapi Dery, semua orang didalam rumah tahu jika Rizal menyayangi Dery, tapi Tuannya itu masih tidak ingin mengakui jika Dery sukses membuat hatinya menghangat.
*cerita ini hanya fiktif* salam sayang dari author ya 🙏❤❤ jangan lupa like dan komen.