Janda Judes

Janda Judes
68 Hukuman Untuk Marco


__ADS_3

Setelah mengantarkan Dery pulang kerumah orang tuanya,


Rizal memutuskan untuk langsung pergi karena Joe dan Zyan sudah menunggunya di markas, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia segera sampai.


"siang tuan," Joe menunduk sopan saat Rizal baru sampai.


"siang Joe, dimana Zyan?" sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Joe.


"itu dia tuan," menunjuk joe yang baru masuk.


"tuan sudah sampai," duduk di samping Joe


"hmm..." Rasanya sangat pusing memikirkan apa yang harus dia lakukan pada Marco,


dari yang Joe dan Zyan laporkan padanya, Marco benar-benar tidak mau melepaskan Dery.


Dia bahkan tidak henti-hentinya meneriakkan nama Dery.


Bagaimana pun juga Marco tetaplah sahabatnya, orang yang sejak dulu dia dukung, tapi entah apa yang terjadi pada Marco, hingga dia berani mengkhianatinya.


Dulu setelah kematian istri pertama Marco dia bahkan tidak peduli dan bisa dengan mudahnya mencari pengganti, tapi kenapa sekarang, dia tidak mau melepaskan Dery.


Meskipun Marco setiap hari selalu berganti wanita dan pergi tanpa rasa penyesalan tapi melepaskan Dery tidak ingin dia lakukan.


"apa tuan tidak tega menghukum Marco?" Zyan melihat jelas gurat kebimbangan diwajah Rizal.


"ya..." Rizal memijit pelipisnya "apa yang harus aku lakukan pada mereka, hukuman apa yang pantas untuk mereka." menatap Joe dan Rizal bergantian.


Mereka mengerti apa yang Rizal rasakan saat ini, Daniel dan Marco adalah orang-orang yang Rizal sayangi.


Meskipun berulang kali Daniel mencoba menghancurkan Rizal tapi dia tetap adiknya.


"taun, sebaiknya mereka kita asingkan saja, setidaknya sementara waktu mereka menjauh dari hidup tuan dan nona, pengasingan bisa membuat mereka berpikir dengan jernih kan.


Aku bisa pastikan mereka tidak akan bisa keluar dari tempat itu." Zyan memberikan saran pada Rizal.

__ADS_1


"kau yakin Zy?" Rizal menautkan kedua alisnya.


Zyan mengangguk mantap.


"ya, Zyan benar tuan." Joe ikut mengangguk.


"aku ingin bertemu dengan mereka, hukuman akan aku tentukan setelah aku menemui mereka." Rizal berdiri, lalu berjalan menuju ruangan Marco terlebih dulu, diikuti Zyan dan Joe.


****


tap tap tap


langkah kaki Rizal memecah keheningan ruang penyekapan Marco.


"kau datang juga akhirnya," Marco masih menunduk tapi dia tahu siapa yang mendekatinya.


"kau masih sahabat ku co, kau bahkan mengenali langkah kaki ku," Rizal duduk tepat di depan Marco, menatap iba pada sahabatnya.


"hahaha..." Marco mendongak menatap tajam mata Rizal. "aku bukan lagi sahabat mu brengs*k. Lepaskan aku, jika kau memang laki-laki ayo bertarung dengan ku." menantang Rizal dengan wajah angkuhnya.


"kau tidak mencintainya, kau hanya terobsesi pada Dery. Kau bisa menikmati wanita mana pun tapi jangan Dery, dia wanita baik yang seharusnya kita jaga,"


"hahaha apa kau sungguh tergila-gila pada istri ku, kau mau menikmati bekas pakai ku, sepertinya jal**g itu memberi mu service yang sangat memuaskan ya, sehingga kau mau membantunya?"


Deg kata-kata Marco sukses membuat Rizal terpancing emosi.


Bugh satu pukulan Rizal layangkan pada Marco, membuatnya memuntahkan darah. " tutp mulut mu Baji***n, kau yang merusak dia bangs*t, kau yang menghancurkan hidupnya. Dia bahkan sangat menjaga martabat dan kehormatannya sebagai seorang wanita. Tapi karena kelicikan mu dia harus menderita selama ini." kemarahan Rizal benar-benar tidak bisa dibendung lagi, mendengar wanita yang dia cintai dihina dan direndahkan membuatnya lepas kendali.


"Joe berikan dia hukuman, buat dia merasakan bahwa kematian akan lebih baik dari pada hukumnya." Rizal keluar dan membanting pintu.


Joe hanya mengangguk samar.


"maaf co, kau sungguh keterlaluan. Seharusnya kau bisa menyadari semua kesalahan mu bukan malah menambah kesalahan yang baru." Joe keluar mengikuti Zyan dan Rizal.


Diruangan lain Daniel terus saja meronta dan berteriak mengumpati Rizal.

__ADS_1


Rizal yang mendengar Daniel terus mengumpatinya, kemudian masuk menemui adiknya itu.


"kenapa kau begitu membenci ku dan? selama ini aku selalu mengalah pada mu kan? memberikan apa yang kau dan ibu mu mau?" menatap Daniel lembut.


"kau yang membuat aku dan ibu ku terusir dari rumah, dan diabaikan oleh ayah. kau bilang selalu mengalah? kau memiliki semua milik ayah dan aku, aku harus bersusah payah merebutnya dari mu." teriaknya lantang.


"harus aku katakan berapa kali, jika ayah tidak pernah mengusir ibu dan kau, ayah juga sudah membagi semua asetnya dengan adil kan, bahkan kau sudah mengambil yang harusnya jadi milikku. Semua yang aku miliki sekarang adalah hasil kerja keras ku sendiri." Rizal mencoba menjelaskan pada Daniel,


"aku akan pastikan kau hidup menderita, sama seperti saat aku dan ibu ku diusir dari rumah itu." Daniel terus saja kekeh pada pendiriannya.


"kau masih sangat kecil saat ibu mu memutuskan untuk pergi dari rumah dan membawa mu, jika kau ingin tahu yang sebenarnya mari bicara baik-baik, kita temui ayah, asal kau tahu ayah sangat merindukan mu," Rizal menepuk pundak Daniel,


tidak bisa dipungkiri jika Rizal sangat menyayangi Daniel, dia saudara satu-satunya yang Rizal miliki.


Entah apa yang sudah Daniel ceritakan padanya hingga Daniel sangat membenci Rizal dan ayah nya.


Sepatutnya Rizal lah yang marah, karena ibu Daniel lah penyebab ibunya meninggal dunia, Rizal tahu segalanya tapi tidak ingin menceritakan pada Daniel karena jika Daniel tahu yang sebenarnya bisa dipastikan Daniel akan membenci ibunya sendiri.


"pergi kau brengs*k aku tidak akan pernah mau bertemu dengan tua bangka itu, akan ku bunuh dia jika aku lepas dari sini" mendengar ayahnya dihina, membuat Rizal sakit hati.


"terserah kau saja, terimalah hukuman mu, kau harus tahu semua perbuatan yang kau lakukan itu salah sasaran." Rizal meninggalkan Daniel.


Kepala Rizal terasa sangat berat, masalah yang dia hadapi sungguh menguras emosinya. Bagaimana dia harus menghadapi Daniel yang begitu keras kepala.


"apa tuan Daniel masih tidak mau mendengarkan mu tuan?" Zyan dan Joe sudah berdiri dibelakang Rizal.


"ya, dia masih saja keras kepala," menggelengkan kepala.


"kenapa tuan tidak ceritakan yang sebenarnya saja?" Joe membuka minuman untuk Rizal.


"aku tidak bisa Joe, hanya ayah yang berhak menceritakan semuanya." jawab Rizal lalu menenggak minumannya. "kalian urus Marco, aku pergi dulu." menepuk pundak Joe dan Zyan bersamaan lalu pergi.


Joe dan Zyan mengangguk patuh.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2