Janda Judes

Janda Judes
Pertolongan.


__ADS_3

Dery terbangun saat perutnya kembali terasa sangat sakit.


"aargghhh," ringis Dery sambil meremas bajunya sendiri.


Rasanya sangat sakit.


"Mama," lirih Ramon.


Dery tidak bisa menjawab panggilan Ramon, mulutnya terkunci karena menahan sakit.


"apa mama sakit, wajah mama sangat pucat," Dery hanya mengangguk samar.


"Ra.. Ramon tolong Mama sayang," suara Dery sangat pelan.


Ramon bangkit dari duduknya, hari sudah terang, jadi Ramon bisa melihat sekeliling. Tenyata mereka sudah ada ditepi hutan.


"Mama tunggu disini ya, Ramon akan cari bantuan," meski masih sangat kecil tapi dia benar-benar cerdas, dia tanggap dalam segala hal.


Belum sempat Dery mencegah, Ramon sudah berlari dengan cepat.


Dery memejamkan mata, sakit di perutnya tidak bisa lagi dia tahan. Air matanya mengalir deras tatkala sakit itu kian kuat terasa.


Cengkraman tangannya pada akar yang menjulur terlepas saat ia mulai kehilangan kesadarannya.


.


Daniel masih berdiam diri dalam kamarnya. Menatap foto pria kecil dalam dekapan kakak iparnya.


Ya Daniel memberanikan diri meminta lebih banyak foto Rizal dan Dery pada sang ayah.


Sejujurnya dia hanya ingin melihat foto Ramon lebih dekat.


Saat ia membolak-balik album foto yang diberikan sang ayah, ada satu foto yang membuatnya menegang seketika, matanya membulat sempurna.


Daniel menarik foto itu, menyimpannya dalam saku, lalu berjalan keluar menemui sang ayah.


Daniel yang melihat sang ayah sedang berbicara dengan Jack, mendekat perlahan.


Canggung, ya Daniel begitu canggung saat berada didekat tangan kanan ayahnya.


Rasanya Jack begitu waspada pada dirinya, seakan masih belum mempercayai jika dia sudah sadar dan ingin berubah.


"ayah, boleh aku bicara," ucap Daniel lirih, tatapannya masih tertuju pada Jack yang juga menatapnya.


"bicaralah nak," tuan Rahadi menarik lembut Daniel agar duduk disampingnya.


"bisakah kita pulang secepatnya?" wajah Daniel tampak memelas.


Dia hanya ingin pulang saat ini. Ada dorongan dalam hatinya untuk menyelesaikan satu masalah di masa lalunya.


Tuan Rahadi mengangguk. "itu yang sedang ayah bicarakan pada Jack nak, kakak mu dalam masalah saat ini, kita memang harus pulang," ucap tuan Rahadi, sambil mengurut pelipisnya.


Daniel tampak terkejut mengetahui jika kakaknya sedang dalam masalah saat ini. "bisakah kita pulang sekarang yah, apapun masalah kakak, aku akan berusaha membantunya,"


Jack menatap Daniel penuh selidik, meski dia bahagia saat bosnya sudah berdamai dengan Daniel tapi bagaimana pun Daniel lah penyebab kekacauan yang ada selama ini.


"ya, kita akan pulang hari ini juga, Jack akan menyiapkan semuanya, kau bersiap lah," tuan Rahadi bangkit dari duduknya. Diikuti Jack dan Daniel.


Saat sang ayah sudah masuk dalam kamar, Jack menatap nyalang Daniel.


"apa kau merencanakan sesuatu tuan? jangan coba-coba sakiti tuan besar dan tuan Rizal lagi, mereka sudah cukup menderita karena ulah mu dan ibu mu." tegas Jack.

__ADS_1


Daniel hanya tersenyum getir.


"aku tahu Jack, aku bukan orang baik dan tidak akan mudah mempercayai pengkhianat seperti diri ku, tapi aku sudah menyadari kesalahan ku selama ini, aku ingin pulang karena ada satu hal di masa lalu yang belum aku selesaikan." ucap Daniel dengan mata mengembun.


"sekarang aku bahkan rela jika harus mengorbankan nyawa untuk ayah dan kakak ku, demi menebus semua kesalahan ku selama ini," Daniel berjalan meninggalkan Jack tanpa mau mendengar jawaban Jack.


Seberapa pun dirinya berusaha membuat semua orang percaya padanya, tetap saja kesalahannya menjadi bayang-bayang buruk yang akan sulit untuk dilupakan.


Wajar jika mereka meragukan perubahan Daniel.


Semoga yang kau ucapkan adalah sebuah kebenaran, karena jika itu hanya tipu muslihat mu, aku pastikan aku sendiri yang akan menghabisi mu. Jack


.


Dery mengerjapkan mata beberapa kali, rasa sakit diperutnya sudah berkurang.


Dia menatap sekeliling.


"dimana aku.." gumam Dery.


Yang dia ingat adalah saat Ramon berlari mencari bantuan saat dia sangat kesakitan, lalu dia tidak ingat lagi apa yang terjadi.


Kreett...


Suara pintu terbuka, dan masuklah seorang wanita paruh baya.


Dia tersenyum melihat Dery yang sudah bangun.


"kau sudah bangun nak," wanita itu mendekati Dery dengan senyum hangatnya.


"di..dimana aku?" suara Dery masih sangat pelan.


"tenanglah nak, kau aman disini," wanita itu mengusap pipi Dery lembut.


"Ramon, dimana putra ku," wajah Dery berubah panik.


"Mama..." Ramon sudah berdiri diambang pintu, dan dibelakangnya ada seorang pria yang juga tersenyum hangat padanya.


"Ramon..." Dery merentangkan kedua tangannya. Pria kecil itu menghambur memeluk erat Dery.


"Apa ada yang sakit mam?" Ramon menatap Dery dengan wajah khawatirnya.


Dery menggeleng, air matanya luruh seketika saat Ramon begitu mengkhawatirkan kondisinya.


"Mama jangan menangis," tangan kecil Ramon mengusap lembut air mata Dery yang mengalir.


"kalian istirahat saja dulu, jika butuh sesuatu bisa memanggil ku," suara wanita itu begitu lembut.


"terima kasih Bu, maaf kami merepotkan mu,"


"jangan sungkan nak, aku senang bisa membatu kalian, putra mu sungguh pintar," dia mengusap kepala Ramon dengan sayang.


Lalu berjalan keluar dari kamar itu, meninggalkan Dery dan Ramon yang masih saling memeluk.


Sebenarnya Dery ingin menanyakan bagaimana dia bisa berada di rumah ini pada Ramon, tapi ia urungkan.


.


Setelah perjalanan panjang,


Tuan Rahadi dan Daniel sudah tiba di rumah utama Rizal.

__ADS_1


Saat baru saja turun dari mobil, jantung Daniel berdegup dua kali lebih cepat.


Ada rasa khawatir, jika nanti ia tidak bisa mendapatkan maaf dari kakak dan juga kakak iparnya.


"ayo masuk nak," ajak tuan Rahadi mengagetkan Daniel yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"a..ayah," tenggorokannya serasa tercekat. Dia menggeleng kuat.


Mengisyaratkan bahwa dia belum siap bertemu dengan sang kakak.


"ayo masuk, buang pikiran buruk mu, Rizal pasti menerima mu dengan sangat bahagia." ucap Rahadi. Ia begitu paham apa yang ada dipikiran Daniel saat ini.


Tuan Rahadi menghampiri Daniel yang masih diam tak bergeming, Wajah putra nya ini sudah pias.


Dengan segera Tuan Rahadi memeluk pundak Daniel, lalu menuntunnya masuk kedalam rumah.


"a..ayah.." matanya sudah sangat perih saat ini.


"ada apa nak?" tanyanya lembut, masih terus menarik lembut Daniel.


"terakhir kali aku kemari, saat aku menculik kakak ipar, apa kakak akan semudah itu memaafkan ku?" Daniel tertunduk, malu rasanya jika harus bertemu dengan Rizal, setelah semua kesalahan yang dia lakukan.


Tuan rahadi sendiri tidak menjawab pertanyaan Daniel, dan terus membawa Daniel masuk kedalam rumah.


Semua pengawal menunduk hormat pada tuan Rahadi, dan tentu saja sangat heran saat melihat Daniel ikut pulang bersamanya.


Pak Burhan yang baru saja mendapat laporan dari pengawal yang berjaga didepan, langsung berlari menyambut tuan besarnya.


"selamat dat..." kalimat Pak Burhan terhenti saat dia melihat Daniel berada dalam dekapan Tuan Rahadi.


"dimana Rizal dan menantu, Burhan?" meski dia melihat keterkejutan kepala pelayannya ini, tapi dia tidak berniat menjelaskan padanya.


"ehh.." dia tersadar dari lamunannya.


"tuan muda tidak di rumah tuan," dia ragu-ragu saat akan mengatakan bahwa nona mudanya diculik.


"ada apa Burhan?" Tuan Rahadi pun menyadari jika Burhan menyembunyikan sesuatu.


"Katakan apa yang terjadi, aku pulang kemari karena mengetahui Rizal sedang dalam masalah, tapi aku tidak tahu apa masalah yang menimpanya."


"itu tuan, ini soal nona.." kalimat Burhan lagi-lagi harus terhenti saat derap langkah seseorang mendekati mereka dengan terburu-buru.


"tuan besar..." Zyan terengah-engah. Dia bahkan belum menyadari keberadaan Daniel.


"Zyan, dimana Rizal dan menantu?"


Deg..


Zyan pun tidak berani menjawab pertanyaan Tuan Rahadi.


"mari ikut saya tuan, biar tuan muda sendiri yang menjelaskan pada anda,"


Tanpa pikir panjang, Tuan Rahadi berjalan mendahului Zyan dan masing menggenggam erat tangan Daniel.


Saat tuan Rahadi melewati Zyan, dia baru menyadari kehadiran Daniel.


Daniel, dia disini? kenapa? apa dia merencanakan sesuatu untuk tuan muda dan tuan besar. aku harus menyelidikinya.


***bersambung.....


bonus nih 😇***

__ADS_1



Daniel Arandra Putra


__ADS_2