Janda Judes

Janda Judes
101 Kejutan


__ADS_3

Saat bangun pagi, Dery mendapati semua orang tidak ada dirumah termasuk Ramon putra nya.


"ibu, ayah, Ramon sayang kalian dimana? Dena, Dika." Dery mengecek setiap ruangan yang ada di rumahnya hingga keluar rumah tapi tidak menemukan siapapun.


"Ck, pada kemana sih, ini masih sangat pagi," Dery melirik jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi semua orang sudah pergi.


Dery berjalan menuju dapur, menuang air kedalam gelas lalu meminumnya, saat itu pandangannya tertuju pada pintu kulkas, ada secarik kertas yang menempel disana.


Ia membelalakkan mata saat membaca tulisan pada kertas itu,


"Uhhukk uhhukk.." berulang kali memukul dadanya karena tersedak minuman.


"siapa yang berani macam-macam sama keluarga gue, habis kalian." Dery meremas kertas itu, lalu berjalan menuju kamarnya meraih jaket dan helm.


Bergerak cepat menuju alamat dalam kertas yang dia baca.


Dery mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, jalanan cukup padat hari ini.


"kenapa semua orang jalannya kayak siput sih, gak tahu apa orang lagi buru-buru," gurutunya dalam hati.


Ponsel Dery berdering, membuatnya menghentikan laju motornya.


ini pasti dari mereka.


~hai cantik, apa kau sudah membaca pesan dari ku. cepatlah datang kemari, jika tidak akan aku lemparkan keluarga mu dari atas rooftop.~ pesan singkat dari nomor tidak dikenal.


"sial beraninya mengancam gue," dengus Dery.


"Kalau gak salah, harusnya gedung itu ada disekitar sini."


Ponselnya berdering lagi, nomor yang sama mengirimkan sebuah foto, dimana keluarganya diikat dengan kepala ditutup dengan kain hitam.


"apa mereka sudah gila," Dery menggeram.


Dery kembali melajukan motornya, tidak lama dia sudah berada di komplek gedung tua.


Dery turun dari motornya, memperhatikan setiap gedung kosong yang ada disana.


Masih belum tahu gedung mana yang harus dia masuki.


Duaarr....


Sebuah tembakan dari atas salah satu gedung mengagetkan Dery.


gedung itu,


Dery melihat siluet seseorang diatas gedung, dengan cepat dia berlari menuju lantai paling atas gedung.

__ADS_1


Masih dilantai lima gedung nafas Dery seakan mau habis,


sial, mereka sengaja menguras energi gue.


Saat akan menaiki tangga berikutnya ada seseorang mencekal tangannya.


"hallo nona, mau kemana kau," Dery ditarik menjauh dari tangga.


"hei lepas, mana keluarga ku," teriak Dery lantang. Orang-orang dengan baju dan kaca mata hitam itu hanya diam, bahkan wajah mereka tidak berekspresi.


"tenang nona, ikut kami dan jangan melawan kalau tidak jangan salahkan kami jika keluarga mu terluka," Dery digiring masuk kedalam lift usang, tangannya diikat lalu matanya ditutup dengan kain.


sial gimana gue bisa melawan kalau begini. Gue ikutin mereka dulu deh, sambil mencari celah saat mereka lengah.


Dery tidak tahu dia akan dibawa kemana, tidak ada seorang pun dari mereka yang bersuara.


Sampai Dery merasa sudah duduk didalam mobil, saat dia akan bersuara ada orang yang sengaja menempelkan kain dengan bau menyengat di hidungnya.


Sejurus kemudian Dery sudah tidak sadarkan diri.


"kamu kalau lagi marah sungguh menggemaskan, nona," seseorang mencubit pipi Dery dengan gemas.


"jalan cepat," titahnya pada sang supir,


.


Dery merasa kepalanya sedikit pusing, mencoba menggerakkan tangannya tapi masih diikat dan matanya masih tertutup kain.


Tidak menyadari jika kini dia sudah berganti pakaian dan sudah didandani dengan sangat cantik.


"siapapun kalian, lepasin gue." teriak Dery.


"nona sudah bangun," bisik seseorang. "bawa nona sekarang," lanjutnya.


Dery dibawa ke sebuah ruangan, sunyi Dery tidak mendengar apapun kecuali langkah kakinya dan dua orang yang menuntunnya.


"kau ingin keluarga mu kan?" bisik seseorang tepat ditelinga Dery.


"siapa kau? apa mau mu?" ucapnya tegas, tidak sedikit pun Dery takut.


"mau ku adalah..." pria itu menghentikan kalimatnya lalu mengecup pipi Dery lembut.


"menikahi mu," lanjutnya.


"memangnya siapa kau, kenapa aku harus menikah dengan mu," ketus Dery.


"aku adalah orang yang sangat mencintai mu nona," Dery mencoba memperhatikan suara pria itu, tapi dia tidak bisa mengenalinya.

__ADS_1


"aku tidak mengenalmu, lepaskan aku. Aku tidak ingin menikah dengan pria kejam seperti mu. Beraninya kau melibatkan keluarga ku." teriak Dery.


"siapa yang kejam, aku hanya ingin bersama mu itu saja," suaranya benar-benar mencekam. "menikahlah dengan ku maka keluarga mu akan bebas."


"aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai." Dery sengaja menekankan kalimatnya, dia sudah benar-benar muak meladeni pria gila ini.


"lalu siapa yang kau cintai, hmm?" pria itu berbicara tepat didepan wajah Dery, hembusan nafasnya menerpa wajah Dery.


Dugh...


Dery membenturkan kepalanya pada pria itu, hingga pria itu meringis kesakitan.


"menjauh dari ku pria gila."


"Ck, kenapa kau keras kepala sekali. siapa pria yang kau cintai? apa Ikbal sahabat mu itu? atau ada pria lain?" ucapnya kesal.


"itu bukan urusan mu,"


"tentu itu menjadi urusan ku nona, jika kau tidak mau mengatakan siapa pria yang kau cintai maka..."


Duaarrr.... suara tembakan memecah keheningan ruangan itu.


"peluru ini akan melesat di jantung salah satu keluarga mu,"


Deg, beraninya dia.


Mau tidak mau aku harus mengatakan nya. aku tidak mungkin membahayakan keluarga ku kan.


"aku akan mengatakannya, tapi aku ingin mendengar suara keluarga ku, mereka baik-baik saja atau tidak."


"baiklah,"


Dery mendengar pria itu berbisik, lalu tidak lama...


"kakak," pekik Dena. "kami semua ada disini...." kalimat Dena terputus saat seseorang membekam mulutnya.


"Dena," teriak Dery "jangan sentuh adikku,"


"sudahkan, lalu sekarang siapa pria yang kau cinta itu nona?"


"Aku hanya mencintai Rizal Arandra, aku tidak akan mau menikah dengan siapapun kecuali dengannya. Puas kau," teriak Dery lantang "lepaskan keluarga ku sekarang," Dery mencoba berontak melepaskan ikatan ditangannya.


Sampai terdengar riuh orang bertepuk tangan.


kenapa mereka bertepuk tangan?


sejurus kemudian ikatan tangan dan penutup mata Dery dibuka,

__ADS_1


Dery mengerjapkan mata beberapa kali menyesuaikan cahaya yang begitu menyilaukan matanya.


Bersambung......


__ADS_2