Janda Judes

Janda Judes
65 Cemburu Lagi?!


__ADS_3

Isak tangis dan kekacauan seketika hilang saat Dery terbangun dan mulai tersenyum.


Semua orang tentu merasa bahagia, berulang kali memeluk melepaskan rasa rindu.


"nak Rizal, apa kau tidak ingin beristirahat, kamu terlihat sangat lelah," ayah berdiri dibelakang Rizal memeluk pundaknya.


"tidak yah, aku baik-baik saja," Rizal mendongak menatap netra ayah Dery.


"sejak kapan kakak memanggil ayah ku seperti itu?" Dery memicingkan mata menatap Rizal.


"memangnya kenapa nona?" sengaja menekankan suaranya. "kalau kau memanggilku kakak berarti ayah mu juga ayah ku kan?" Menaik turunkan sebelah alisnya, sambil memeluk erat pak Rahmat.


"ck kenapa ayah ku jadi milik semua orang sih?" sengaja memanyunkan bibirnya.


Pak Rahmat mengusap pucuk kepala Dery sayang, "tapi kamu akan selalu jadi Putri kesayangan dan kebanggaan ayah."


"iyaa memang betul, jika ayah sudah bersama kakak ku yang menyebalkan ini, bisa dipastikan aku akan dilupakan." Dena menyilangkan tangan di dadanya. "lihat semua orang dibuat panik dan ketakutan, karena kakak tidak sadarkan diri, dan kakak harus tahu semua laki-laki disini berubah jadi sangat cengeng," lanjutnya sambil memeluk Dery manja. "aku rindu kakak" bisiknya pelan.


Dery melongo menampilkan wajah bodohnya, "ada apa dengan anak ini, tumben maj peluk aku," batin Dery.


"memangnya berapa lama aku tidur?" menatap Rizal teliti.


"hei, kak aku baru menyadari kenapa wajah mu kusut sekali? kamu sungguh kehilangan ketampanan mu," mengusap-usap pipi Rizal "apa berat badan mu juga berkurang kak, pipi mu tirus sekali,"


"kau tidur sudah enam hari nona, jadi kau harus bertanggung jawab karena sudah membuat aku kehilangan ketampanan," mencubit dagu Dery gemas.


Melihat Dery memperlakukan Rizal seperti itu membuat Ikbal semakin terbakar api cemburu, Sejak Dery sadar Rizal tidak memberinya kesempatan untuk mendekati Dery.


"udah kayak nonton adegan sinetron secara live," sengaja mengeras kan suaranya.


"hei anak manja, kemari!!" Dery menoleh pada sumber suara. "apa kau tidak rindu pada ku, hah?"


"tidak kenapa aku harus rindu pada nona," menatap tajam Rizal sambil berjalan mendekati Dery. "lagi pula dari tadi aku juga tidak diijinkan mendekati mu, nona!" Rizal dan Ikbal saling menatap tajam.

__ADS_1


Semua orang yang berada diruangan hanya menepuk jidat, melihat Rizal dan Ikbal yang seperti akan berperang.


Aura kecemburuan nampak jelas pada wajah Rizal dan Ikbal.


"sebaiknya kita pisahkan mereka berdua, kalau tidak ruangan ini akan jadi ring tinju dadakan kak," bisik Roby pada Reno.


" kau benar, lihat aura mereka benar-benar mencekam, apalagi tuan Rizal tatapan matanya saja membuat aku merinding," Reno bergidik ngeri.


"woii kedip napa kedip, udah kayak mau keluar tuh mata," Dery menepuk pipi Rizal dan Ikbal dengan keras.


Membuat suasana tegang lenyap seketika.


"sekali lagi seperti itu, aku colok nih," mendengus kesal.


Tiba-tiba dokter Ilham masuk, "permisi, semua boleh saya periksa nona?" Joe tampak menarik nafas lega saat dokter Ilham masuk diwaktu yang tepat.


"ini sudah malam, sebaiknya nona beristirahat, semua juga lebih baik istirahat juga kan?" dokter Ilham tersenyum sopan.


Sengaja meminta Dery untuk istirahat agar Ikbal secepatnya keluar dari ruangan Dery,


Semua orang mengangguk paham, tapi Rizal dan Ikbal masih saja saling beradu tatap, didepan Dery. Tidak peduli dengan peringatan Dery dan kehadiran dokter Ilham.


"sudahlah kau boleh bersaing dengannya tapi nanti setelah Dery sudah sembuh," Reno menarik Ikbal keluar.


"hei kak lepaskan, aku mau disini menjaga Dery," ikbal memberontak,


"jangan buat masalah ini rumah sakit," menarik paksa. "ayah ibu kami pulang duluan ya, takut anak mami itu bikin gaduh disini," Iwan berpamitan mencium tangan orang tua Dery.


"Ijah cepet sembuh ya, jangan buat kami khawatir, besok kita kesini lagi kamu istirahat ya," menepuk-nepuk punggung tangan Dery.


"terima kasih ya wan, hati-hati dijalan, jangan kebut-kebutan," Dery melambai tangan.


Dokter Ilham sudah keluar dengan Joe dan Zyan saat Ikbal ditarik paksa oleh Reno dan Roby.

__ADS_1


"nak Rizal apa tidak sebaiknya kamu pulang dan beristirahat, biar ayah yang gantikan menjaga Dery," ayah merasa tidak enak jika terus merepotkan Rizal.


"tidak yah, aku akan pulang saat Dery juga diijinkan pulang oleh dokter,


ayah dan keluarga saja yang pulang dan beristirahat, jangan mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja," Rizal tersenyum hangat.


Entah dari mana Rizal mendapatkan kekuatannya kembali, tapi setelah Dery sadar Rizal jauh lebih terlihat segar.


"apa kau yakin nak, ayah tidak ingin merepotkan mu terus," ayah terlihat sungkan.


"ayolah yah, jangan sungkan aku sudah menganggap ayah dan ibu seperti orang tua ku sendiri, jadi jangan menganggap ku orang lain ya. Kalian pulang saja biar aku yang menjaga anak nakal ini," tersenyum melirik Dery.


"baiklah, sebelumnya ayah sangat berterima kasih atas apa yang nak Rizal lakukan untuk keluarga ayah, ayah titip Dery ya nak," memeluk Rizal, lalu berjalan keluar, Joe sudah menunggu ayah dan keluarga diluar ruangan.


Rizal hanya berdiri menyilangkan tangan didepan Dery, menatap tajam pada wanita yang dia cintai.


"kakak kenapa menatap ku seperti itu?" Dery menautkan kedua alisnya.


"apa sahabat mu yang bernama Ikbal itu memang berbuat selalu kurang ajar, hmm?" duduk di samping Dery.


"tidak, dia hanya seperti itu pada mu saja, apa kalian ada masalah?" Dery memegangi lengan Rizal. "kak aku lapar," bergumam pelan.


"mungkin dia cemburu karena aku jauh lebih tampan darinya." Menaik turunkan alisnya bangga. "mau makan apa, nona?"


"ckk sudah tua tapi bersaingnya dengan anak kecil," dengus Dery sengaja meledek. "aku ingin ayam geprek super pedas dan es jeruk kak," membayangkannya saja Dery sampai menjilat bibirnya sendiri.


Mendengar menu makanan yang disebutkan Dery mata Rizal langsung melotot, "tidak akan ada makanan seperti itu, kau baru bangun dari koma selama enam hari, jadi kau harus makan bubur."


Meskipun Dery berusaha membujuk bahkan sampai merengek, Rizal tetap tidak mengijinkannya makan selain bubur yang baru saja Zyan antarkan masuk.


Kebahagiaan benar-benar terlihat di wajah Rizal, dia bisa melihat senyum Dery, mendengar ocehannya. Menurut Rizal apapun yang dilakukan Dery benar-benar menggemaskan.


bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya dear,


happy reading ❤❤❤


__ADS_2