Janda Judes

Janda Judes
Ingin Pulang


__ADS_3

Apartemen Rendy....


Setelah pulang dari kantor, Dery dan Rizal langsung masuk kedalam kamar masing-masing, hingga malam menjelang.


Rendy yang baru saja selesai membersihkan diri menghampiri Ramon yang tengah duduk sendiri diruang tv, "Ramon, mana Mama mu?" tanya Rendy.


"ada di dalam uncle," Ramon menunjuk kamar Dery dengan ekor matanya.


Rendy berjalan menuju kamar Dery, melihat kamar itu tidak ditutup, Rendy langsung masuk begitu saja.


"Dery..." panggil Rendy, tapi tidak ada sahutan.


Katanya dikamar, tapi kenapa tidak ada. gumam Rendy.


"Dery..." Ulangnya. Dia Melihat pintu kamar mandi terbuka, berarti Dery tidak ada disana.


Dan saat ia melihat kearah balkon, Rendy merasa lega karena ternyata wanita hamil itu, sedang duduk melamun dikursi balkon.


"hei!" Rendy menepuk pundak Dery, "kenapa melamun?" tanyanya.


Meski kaget, Dery enggan menanggapi Rendy yang sudah berdiri didepannya.


"masih memikirkan suami mu?" tanpa basa-basi Rendy bertanya seperti itu.


Dery mendongak, lalu menggeleng samar.


"jangan bohong pada ku, di kening mu ini terlihat jelas jika kamu sedang memikirkan suami mu," Rendy menunjuk kening Dery pelan.


"aku bisa mengantar mu pulang jika kamu mau,"


"benarkah?" dengan sangat antusias Dery menatap Rendy.


Sebenarnya aku sangat ingin pulang, aku rindu semuanya, tapi apa masih mungkin? Dery


"tentu saja," Rendy mengacak-acak rambut Dery. "jadi kapan kau akan pulang?"


"sebelum aku pulang, bisakah kau membantu ku mencari tahu kebenaran tentang suami ku?" dalam kalimat Dery,Rendy bisa dengan jelas melihat harapan yang besar.


Harapan dimana semua yang ia ketahui tentang suaminya itu hanyalah kesalahpahaman.


Tapi Dery sendiri tidak yakin akan itu.


"ck...kenapa kau bertanya?" Rendy duduk tepat didepan Dery, "apa kau masih tidak tahu siapa aku?" ia menepuk dadanya sendiri membanggakan diri.


"aku memang tidak tahu," jawab Dery cuek, "kamu itu terlalu misterius Rendy," sambungnya.


"ah, sudahlah jangan dibahas lagi," Rendy tidak ingin Dery kembali bertanya tentang masa lalunya yang ia sendiri tidak bisa menjelaskan.


"jadi kita mulai dari mana?"


"emm...aku ingat betul nomor telepon semua orang yang aku sayang, jadi kamu harus menghubungi adik ku dan menanyakan apa yang terjadi selama aku tidak ada disana," Rendy tampak mengerut keningnya.


"jika kamu ingat kenapa tidak menghubungi mereka dari kemarin, kau kan sudah punya ponsel." Rendy sangat kesal mendengar penuturan Dery.


"kan aku sudah bilang aku tidak mau jika nanti Monica menemukan aku dan Ramon," ketus Dery.


huuhh


"baiklah...berikan aku nama dan alamat orang tua mu, besok pagi sudah pasti aku mendapatkan informasi yang kamu inginkan." Dery langsung merogoh ponsel dalam sakunya, mengetikan sesuatu diponsel.


"nama dan alamat keluarga ku sudah aku kirim kan pada mu," Dery menunjuk pesan yang ia kirimkan pada Rendy.


"eh! kenapa kau kemari?" tanya Dery.

__ADS_1


"hahh, aku sampai lupa," Rendy menepuk kening. "bos ku akan mengadakan pesta akhir Minggu ini, jadi kau ikut dengan ku ya," pinta Rendy.


"apa harus?"


"iya...jika kamu tidak mau, aku tidak akan membantu mu lagi," ancam Rendy.


"iiisshh kau ini suka sekali mengancam," melihat bibir Dery yang mengerucut membuat Rendy ingin mencubit pipinya. "baiklah aku akan ikut,"


"bagus" Dery mengacungkan dua jempol pada Rendy yang sudah berjalan Keluar kamar.


.


Mansion Utama Arandra...


Sore hari....


Rizal baru saja pulang dari rumah sakit setelah melihat kondisi Daniel.


Rizal masih tidak menyangka Daniel akan koma selama ini, padahal dokter mengatakan jika kondisi tubuh Daniel sudah baik, tapi entah mengapa Daniel masih belum sadar.


Rizal yang baru saja masuk kedalam rumah dibuat heran dengan kesibukan orang-orang disana.


Bahkan Juii dan Zyan juga ikut hilir mudik.


"apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Rizal.


Juii menunduk hormat pada Rizal, "ini semua hadiah untuk tuan Samuel, tuan,"


Mata Rizal membulat sempurna, "hahh! sebanyak ini? untuk si gunung es itu?" ketusnya. Juii dan Zyan hanya mengangguk.


"suruh orang lain mengurusnya, harusnya kalian mencari istri ku, bukan malah mengurusi si gunung es itu, dia yang mau menikah kenapa disini yang repot,"


"Rizal..." Tuan Rahadi sudah berdiri dibelakang Rizal yang sedang memarahi orang-orang disana.


"tapi kenapa yah, seharusnya kita mencari Dery kan? kenapa kita malah repot-repot mempersiapkan pernikahan Sam." Rizal mengacak-acak rambutnya frustasi, tidak habis pikir kenapa sang ayah bisa seberlebihan ini.


"Semua pasukan kita sudah bergerak mencari Dery dan Ramon, ayah jamin sebentar lagi mereka akan ditemukan," Tuan Rahadi mencoba menenangkan sang putra.


Meski sebenarnya dia sendiri masih sangat khawatir dan takut akan keadaan menantu dan cucunya, tapi dia harus terlihat tegar didepan Rizal.


Agar putranya tidak semakin lemah.


Drrtt...Drrtt...


Saat Rizal akan melangkah masuk dalam kamar, ponselnya bergetar, panggilan dari Dena.


_kak, bagaimana keadaan mu dan ayah, apa kalian baik-baik saja, ayah dan ibu mengkhawatirkan kalian,_ Dena


_kami baik-baik saja Dena, dan ayah sekarang sedang mempersiapkan pernikahan..._ belum sempat Rizal melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba ia tersandung ditangga dan ponselnya jatuh ke lantai bawah.


"Aarrghh sial..." umpatnya, Rizal menatap nanar ponselnya yang hancur dibawah sana.


Orang-orang yang ada dibawah langsung menghentikan kegiatan mereka saat terdengar benda jatuh dari lantai atas.


"Zy, belikan aku ponsel baru, dan usahakan semua data di ponsel itu bisa kau pindah ke ponsel baru ku" teriak Rizal, lalu masuk kedalam kamar dengan membanting pintu.


.


Ditempat lain...


Dena yang sedang berada di cafe menunggu teman sekolah, begitu merasa terkejut dengan kata-kata kakak iparnya.


"Persiapan pernikahan? siapa yang akan menikah? tidak mungkin kak Daniel, dia kan masih koma." Dena menatap ponselnya, "apa kakak ipar akan menikah lagi? kenapa dia jahat sekali pada kak Dery, kakak ku saja belum ditemukan tapi dia sudah mau menikah lagi." Dena mulai terisak, membayangkan nasib sang kakak.

__ADS_1


Tanpa disadari, sejak Dena keluar dari rumah, dia sudah diikuti oleh dua orang pria utusan Rendy.


Mereka merasa sangat mudah menjalankan tugasnya kali ini, seolah alam sedang berpihak pada mereka.


Tanpa memakan waktu lama mereka sudah mendapatkan informasi tentang suami wanita tuannya.


Setelah merasa cukup, dua pria ini keluar dari cafe dan langsung mengabarkan informasi yang dia dapat.


_tuan, dari informasi yang kami dapatkan dari adik nona, memang benar suami nona sedang melakukan persiapan pernikahan. Tapi kami masih tidak tahu siapa suami nona dan kapan pernikahan itu akan dilangsungkan_


_bagaimana, keadaan keluarga Dery?_


_semuanya baik-baik saja tuan, tidak ada yang mengkhawatirkan, tapi mereka sangat berusaha menemukan nona_


_cukup, kalian boleh pergi. Tugas kalian selesai_


.


Rendy memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit.


"Aarrgghh sialan" Rendy menendang kursi di ruang kerjanya, mengacak rambutnya frustasi.


"apa yang harus aku katakan pada Dery," gumamnya.


"ya Tuhan, kenapa nasib wanita itu sungguh tidak beruntung, dia sedang mengandung, bukannya mencari istrinya yang hilang tapi lelaki itu malah akan menikah lagi." Rendy memejamkan matanya.


"Rendy..."


Deg...


Rendy terlonjak kaget.


"siapa orang yang kamu maksud, Ren?"


"i...ibu..."


"katakan, siapa orang yang kamu maksud?" suara Bu Ratih sudah mulai meninggi.


Rendy mendekati sang itu, lalu mengunci pintu ruang kerjanya. "Bu, jangan berbicara terlalu keras." ucapnya.


"jika tidak ingin ibu berbicara keras, maka katakan siapa orang yang kamu maksud?" paksanya.


Rendy menarik tangan sang ibu lembut, lalu mendudukkan ibunya di sofa. "ibu, aku akan menceritakan semuanya, tapi ibu harus janji, jangan katakan apapun pada Dery dan Ramon," Rendy menggenggam erat tangan ibunya.


"baiklah, ibu janji,"


"sebenarnya aku sedang mencari tahu apakah suami Dery benar-benar mengkhianati Dery atau tidak, dan kenyataannya adalah suami Dery sedang mempersiapkan pernikahannya dengan wanita lain," jelas Rendy.


"apa?..." Bu Ratih menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tiba-tiba matanya menjadi sangat perih. "Dery...kenapa nasibnya seperti ini, Ren,"


"ibu jangan katakan apapun pada Dery, aku yang akan mengatakan semuanya nanti," bujuk Rendy, Bu Ratih hanya mengangguk samar.


Sebenarnya dia ingin mengajukan pertanyaan pada Rendy, tapi mendengar cerita Rendy membuatnya mengurungkan niatnya.


Dery....


bersambung....


*mampir ke karya baru othor yuk, udah up LG lhooo


😘😘


like & komen, fav jugakk ya dear...🙏🙏🙏❤❤

__ADS_1


Dukungan mu, semangat ku*


__ADS_2