
Rizal nampak gugup saat melihat pantulan dirinya pada kaca,
Dia sedang mempersiapkan diri, karena hari ini dia akan melamar Dery. Merapikan penampilannya agar saat bertemu Dery dirinya terlihat sempurna.
Merasa sudah siap Rizal memutuskan bergegas keluar dari kamarnya.
Joe dan Zyan sudah menunggu diruang keluarga,
"pagi tuan," Joe membuka suara, Zyan menunduk sopan.
"pagi, ayo berangkat," wajah Rizal benar-benar terlihat bahagia.
"baik tuan," Joe dan Zyan mengikuti langkah cepat Rizal.
"emm Zy apa kau sudah menyiapkan apa yang aku minta kemarin?" menatap Zyan.
"sudah tuan, apa yang tuan inginkan sudah ada didalam mobil," mempersilahkan Rizal masuk kedalam mobil.
"bagus lah, aku kira kau lupa," sudah duduk dalam mobil,
"memangnya kapan aku pernah melupakan perintah mu tuan muda," Zyan menyerahkan kotak berwarna merah hitam, warna kesukaan Dery.
"benar juga, kapan kalian pernah melupakan perintah ku," tersenyum bangga pada dua sahabatnya. "kalian memang sahabat terbaik ku, sekaligus orang yang paling aku percayai." menepuk pundak Joe dan Zyan bersamaan.
"ini cincin yang indah, semoga Dery mau menerima lamaran ku," saat membuka kotak yang Zyan berikan, senyum Rizal mengembang.
"kau lihat tuan sangat bahagia, aku yakin nona tidak akan menolak lamaran tuan, selama ini nona juga mencintai tuan aku bisa melihat dari mata nona saat memandang tuan, Zy," bisik Joe pada Zyan.
"sstt diam kau," Zyan hanya melirik Joe kesal. "tuan yang sedang jatuh cinta kenapa jadi kau yang bersemangat," sewotnya.
"diam kalian, aku mendengar apa yang kalian katakan," ketus Rizal dengan mata memincing.
"sebaiknya kalian segera mencari seorang wanita untuk dijadikan istri, kalian terlalu lama menjomblo," lanjutnya meremehkan.
"apa kau bilang tuan muda," Joe dan Zyan menoleh bersamaan dengan mata melotot.
"apa? memang benar kan?" Rizal hanya mengerikan bahu cuek.
__ADS_1
"ck, mentang-mentang sedang jatuh cinta, dia meremehkan kita Joe," Zyan berdecak kesal.
Sepanjang hari, tiga sahabat ini hanya berdebat dengan status jomblo yang disandang Joe dan Zyan selama bertahun-tahun.
****
Sore hari,
Dery yang sedang berada diruang kerja cafenya, masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Saat seorang pelayannya masuk bersama Ikbal.
"kau sedang sibuk jah?" Ikbal sudah duduk di depan Dery.
"tidak hanya sedang mengecek laporan saja, ada apa tumben kamu datang kesini?" tersenyum hangat pada sahabatnya itu.
"tentu saja aku rindu pada mu, sudah lama sekali kita tidak menghabiskan waktu bersama kan?" Ikbal menatap Dery lembut.
Tanpa mereka sadari, ternyata Rizal sudah berdiri dibalik pintu ruang kerja Dery, mendengarkan apa yang Ikbal bicarakan pada Dery.
"boleh aku bicara serius jah?" Ikbal menggenggam tangan Dery lembut.
"tentu saja, kamu mau membicarakan apa, hmm?" tatapan mata mereka bertemu,
Deg Kata-kata Ikbal membuat hati Rizal terasa sangat sakit, "apa Dery akan menerima lamaran sahabatnya itu? apa aku akan siap mendengar Dery menerima Ikbal sebagai suaminya," batin Rizal berkecambuk.
"Ikbal, aku tahu kamu sangat menyayangi aku, dan aku pun sama aku juga menyayangi mu," Dery menggantung kalimatnya.
Membuat Rizal yang berada diluar ruangan menjadi Salah Paham mengira Dery menerima lamaran Ikbal.
Saat Dery melanjutkan kata-katanya, Rizal sudah pergi keluar cafe dengan terburu-buru.
"tapi aku tidak bisa menerima lamaran mu bal, maaf jika lagi-lagi aku membuat mu kecewa, tapi sungguh rasa yang ada dihati ku untuk mu setara dengan rasa ku untuk Iwan dan Roby, kalian sahabat ku, selamanya akan seperti itu," Dery menarik nafas berat,
rasanya tidak tega melihat wajah kecewa Ikbal, tapi dia tidak bisa membohongi hatinya jika yang Dery cintai adalah Rizal bukan Ikbal.
"tapi Roby bilang kamu juga mencintai ku der," masih tidak percaya jika Dery menolaknya lagi.
"mungkin dulu iya bal, dulu aku memang mencintaimu, tapi rasa itu sudah pudar seiring berjalannya waktu, hati ku bukan lagi untuk diri mu," Dery menunduk, tidak tega melihat Ikbal.
__ADS_1
Ikbal tersenyum, dia memang kecewa tapi dia tidak ingin memaksa Dery untuk mencintainya.
"aku mengerti der, lihat aku," mengangkat dagu Dery agar dia mau menatap matanya.
"tersenyum lah, jangan ada rasa bersalah. Kejarlah cinta mu, aku tidak kecewa der, aku akan tetap menyayangi mu sebagai sahabat terbaik mu, hmm, tersenyum lah," Ikbal memeluk hangat Dery.
"terima kasih bal, kamu mau menerima keputusan ku," membalas pelukan Ikbal.
"baiklah, jadi siapa pria beruntung itu nona?" melepaskan pelukannya dan mengusap pucuk kepala Dery. "apa tuan Rizal?" sengaja menaik turunkan alisnya menggoda Dery.
Dery tidak menjawab, dia hanya tersenyum malu, pipinya merona. Ikbal langsung mengerti, Rizal lah pria beruntung yang dicintai Dery.
Dilain tempat,
setelah Rizal keluar dari cafe dengan perasaan yang tidak menentu, dia yang mengemudikan mobilnya sendiri,
Memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, hatinya sangat sakit. Wanita yang dia cintai telah menerima lamaran pria lain.
Aaaarghhh berulang kali Rizal berteriak dan memukul kemudi mobilnya. Dadanya terasa sangat sesak, setelah sekian lama dia menutup hatinya rapat-rapat, dan kini saat dia membuka hati untuk seorang wanita tapi lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan, wanita yang dia cintai ternyata mencintai pria lain.
Mobil Rizal berhenti disebuah club malam terkenal di kota ini,
Entah apa yang ada dalam pikiran Rizal, hingga dia berhenti dan melangkah kan kaki masuk kedalam club malam yang sudah sejak lama tidak pernah dia kunjungi.
Rizal memesan banyak minuman memabukkan, seorang bar tender yang sudah sangat hafal pada Rizal mendekatinya,
"sudah lama sekali tuan tidak pernah datang kemari, ada angin apa yang membawa tuan kemari lagi,"
mendengar pertanyaan seseorang yang dia kenal Rizal tersenyum "haha aku hanya merindukan tempat ini kawan, apa ada minuman spesial untuk ku malam ini?"
"tentu tuan," sibuk meracik minuman untuk Rizal. "ini dia spesial untuk tuan muda," menyerahkan minuman racikannya.
Hingga lewat tengah malam Rizal masih berada di tempat itu, sudah tidak sanggup lagi berdiri karena terlalu banyak menenggak minuman keras. Melihat kondisi Rizal bar tender bernama Andrew itu memutuskan menghubungi Zyan asisten Rizal. Karena Rizal dulu sering datang kesana, jadi hampir semua karyawan bar itu mengenal dirinya dan asistennya. (Memangnya siapa yang tidak mengenal tuan muda Rizal Arandra) 😂😂
"terakhir kali tuan kemari saat sedang patah hati, apa tuan patah hati lagi kali ini," Andrew membantu Rizal masuk kedalam mobilnya, menunggu Zyan datang.
"haha apa Tuhan tidak menginginkan aku hidup bahagia, kenapa hati ku selalu saja dipatahkan," racau Rizal
__ADS_1
"tuan muda seperti mu apa tidak bisa mencari wanita lain," batin Andrew "kau berat sekali tuan" gerutunya.
bersambung......