
Setiap insan di bumi,
memiliki caranya masing-masing untuk mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatinya.
Tidak terkecuali Rizal, seorang yang dikenal kejam dan dingin ini, begitu mengagumi seorang wanita biasa.
Rutinitas pagi,
Rizal sudah bersiap berangkat kekantor dengan Joe dan Zyan, penampilan yang selalu sempurna, dengan wajah tampan dan tubuh atletis membuat banyak mata terbius saat melihatnya.
Mobil yang di kendarai Joe, sudah keluar dari gerbang utama, melaju dengan kecepatan sedang, Jalanan cukup padat pagi ini.
"Joe kau sudah siapkan apa yang ku minta kemarin?" Rizal memecah keheningan didalam mobil.
"sudah tuan, semua sudah beres," Joe menyerahkan berkas kepada Rizal.
"baguslah, Zy atur waktu siang ini aku ingin bertemu dengan Dery, jemput dia pastikan dia baik-baik saja," perintahnya, wajah tampannya menunduk memeriksa tiap lembar berkas yang diberikan Joe.
"baik tuan," Zyan mengangguk.
****
Dirumah sederhana milik keluarga pak Rahmat, Dery dan keluarga sedang menikmati sarapan dengan suasana yang hangat.
Setelah apa yang terjadi selama ini, banyak perubahan yang Dery rasakan dirumahnya. Ibu yang sudah tidak pernah lagi marah-marah, dan kehangatan semakin terasa.
"rencana hari ini mau kemana kak?" Dena memulai percakapan.
"dirumah saja, memang kenapa?" menjawab santai sambil terus mengunyah makanan kesukaannya.
"apa tidak bosan? ini sudah tiga hari sejak kakak pulang, kakak hanya dirumah dan terus saja mengunyah!" pletak sentilan keras mendarat di kening Dena, ayah ibu dan Dika hanya tertawa mendengar ucapan Dena.
"apa kamu tidak suka kakak pulang, hah?" mata Dery sudah memincing kesal.
"aaww kakak ini kenapa sekarang jadi kasar banget sih, judes lagi sama adeknya," bergumam pelan tapi masih bisa didengar Dery.
"aku dengar dek," melotot pada Dena.
"ehh, bahkan pendengarannya semakin tajam," bergumam lagi.
"Dena aku dengar apa yang kamu katakan." semakin kesal dibuatnya.
"iya iya, maksud aku tuh kalau kakak hanya dirumah dan terus saja mengunyah, seminggu ke depan kakak akan sebesar paus," dengan polosnya Dena.
"apa kamu bilang," benar-benar marah.
"sudah, sudah ini dimeja makan jangan berdebat." ayah melarai bertengkaran Dery dan Dena.
"anak manja ayah ini sangat menyebalkan." Dery secepat mungkin menyelesaikan makan.
__ADS_1
Saat akan bangun dari duduknya, ponsel Dery berdering,
"pesan dari Zyan? ada apa ya," batin Dery.
_nona siang nanti aku akan menjemput anda pukul 11, bersiap lah jangan buat tuan terlalu lama menunggu _
Setalah membaca pesan dari Zyan, wajah Dery terlihat berbinar, senyumnya mengembang membuat keluarganga terheran-heran.
"apa itu pesan dari kak Ikbal?" tanya Dika penuh selidik.
"huft kepo," menjulurkan lidah lalu berjalan menuju kamarnya.
"kakak memang sangat menyebalkan," teriak Dena dan Dika bersamaan.
"biarin," jawab Dery dari dalam kamar.
Didalam kamar Dery sedang sibuk membalas pesan dari ketiga sahabatnya dan juga Zyan yang terus saja mengingatkan jika akan datang pukul 11 tepat.
Berguling-guling diatas kasurnya, tersenyum melihat potret dirinya dan ketiga sahabatnya saat masih bekerja dibengkel milik kak Reno.
"ahh aku merindukan bengkel, apa besok aku kesana saja, kak Reno pasti senang." gumamnya.
"aiishh kenapa waktu berlalu begitu cepat, sudah setengah sebelas. aku harus bersiap jika tidak pak tua itu akan mengomel nanti," Dery bangun dari tempat tidurnya.
Bergerak cepat mengganti pakaiannya, mengikat rambut keatas menampilkan leher jenjangnya. Dia keluar saat mobil Zyan memasuki pekarangan rumahnya. "dia benar-benar tepat waktu," bergumam pelan.
Plak satu pukulan mengenai lengan Zyan, Zyan menatap Dery penuh tanya.
"gak usah berlebihan Zy, aku bisa buka pintu mobil sendiri," judesnya.
Tidak menjawab Zyan langsung menutup pintu mobil. Saat sudah duduk didalam mobil Zyan baru membuka suara.
"ini tidak berlebihan nona, gunakan sabuk pengaman mu dengan benar," Zyan menaikkan sebelah alisnya.
"ck, kalau gak ada kak Rizal gak perlu panggil nona, panggil Dery saja, Dery." sengaja menekan kata Dery.
"baiklah," Zyan sudah menjalankan mobilnya, membelah hiruk pikuknya jalanan siang ini.
Secepat mungkin membawa nona kesayangan tuannya agar lekas sampai ditempat yang sudah ditentukan Rizal.
Perjalanan memakan waktu hampir 30 menit, mereka sampai setelah Rizal menunggu lebih dari 5 menit.
Rizal terpana melihat Dery berjalan mendekatinya dengan gayanya yang cuek tapi tetap terlihat sangat cantik, meski tidak ada sentuhan make up diwajahnya.
"hei kak, kenapa bengong?" Dery melambaikan tangannya didepan wajah Rizal.
"emm tidak, aku hanya sedang berpikir," Rizal menunduk, takut Dery menyadari jika wajahnya memerah.
"lepaskan ikat rambut mu nona," suara Rizal sudah berubah mencekam.
__ADS_1
"kenapa? apa aku terlihat buruk dengan rambut seperti ini?" menarik ikat rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai.
"tidak, kau terlihat manis, tapi jika kau memperlihatkan leher jenjang mu itu, akan banyak pria yang tergoda untuk menyentuhnya," sengaja menampilkan wajah mengerikan, membuat Dery bergidik.
"baiklah tidak akan lagi," memutar bola mata malas. "lalu kakak meminta ku kemari ada apa?" lanjutnya.
"aku hanya ingin memberi sedikit hadiah untuk mu nona cantik," Rizal menggenggam lembut tangan Dery.
"hadiah? tapi aku tidak sedang ulang tahun kak," Dery merasa bingung.
"aku tahu, tapi aku ingin kamu menerima ini," Rizal menyerahkan berkas yang sudah Joe siapkan. "terima lah, ini untuk mu," Rizal tersenyum hangat.
Dery membuka berkas yang diberikan Rizal padanya, membacanya dengan teliti dengan wajah penuh tanya Dery menatap Rizal, seolah tidak percaya.
"aku tidak bisa menerima ini kak," menyerahkan kembali berkas itu pada Rizal. Membuat Rizal menunduk lesu.
"kenapa? apa kau tidak suka dengan hadiah dari ku ini?"
"bukan kak, bukan seperti itu, ta..tapi ini sangat berlebihan, aku tidak pantas menerima ini semua," Dery tertunduk. dia merasa bahagia karena dikelilingi orang-orang yang menyayangi nya, tapi juga merasa malu dan tidak pantas menerima segala kebaikan Rizal.
"terimalah, aku mohon der, aku hanya tidak ingin kau bekerja ditempat lain, lalu hal buruk terjadi lagi pada mu, aku membangun cafe itu khusus untuk mu, jika bukan kamu yang mengelola siapa lagi?" paksa Rizal.
"aku bisa bekerja dibengkel lagi kak, semua orang disana baik pada ku, mereka sahabat ku, pasti akan melindungi aku kan," tetap tidak mau menerima hadiah dari Rizal.
Mendengar nama sahabat disebut membuat Rizal merasa cemburu, " jadi kamu menolak hadiah ku, karena Ikbal?" wajah hangat Rizal berubah menyeramkan, dengan tatapan mata yang tajam. "baiklah," mengangguk mantap.
"Joe hancurkan cafe itu sampai tidak ada yang tersisa, pecat semua karyawan yang ada disana, pastikan mereka tidak akan menerima pesangon dari kita," Rizal sengaja berkata seperti itu karena tahu Dery tidak akan tega melihat banyak orang kehilangan pekerjaan karena dirinya.
"ehh, kak kenapa seperti itu," Dery kaget mendengar kalimat yang Rizal ucapkan. "apa kakak tidak merasa kasihan?" lanjutnya.
"tidak," tegas Rizal "Joe laksana...."
"eett tunggu, kakak benar-benar pria tidak berperasaan. kakak kan punya banyak orang kepercayaan kenapa bukan mereka saja yang mengelola, kenapa malah akan dihancurkan?" Dery sigap membungkam mulut Rizal.
"aku bangun cafe itu untuk mu, jika kamu tidak mau ya sudah akan aku hancurkan. Tidak ada yang pantas mengelolanya selain kamu. Jadi jika semua karyawan itu menjadi pengangguran itu salah mu," Rizal menatap tajam Dery "semoga dengan ancaman ini Dery mau menerimanya," batin Rizal, sebenarnya Rizal juga tidak tega memecat karyawan yang tidak bersalah.
"oke aku terima tapi dengan satu syarat," Dery tepaksa menerimanya, karena tidak tega jika cafe itu benar-benar dihancurkan.
"apa?" tatapan Rizal kembali hangat dengan senyum mengembang.
"aku tidak akan mengambil semua keuntungan cafe, aku hanya akan mengambil 30% dari keuntungannya sisanya milik mu,"
"tidak, jika mau ambil semuanya atau aku akan benar-benar menghancurkannya."
"iishhh kau itu menyebalkan. baiklah aku terima," akhirnya pasrah "dasar orang kaya, seenaknya aja mau pecat orang, karyawan segitu banyak mau dipecat, dia memang gila," gerutunya.
Setelah perdebatan panjang akhirnya Dery dengan terpaksa menerima cafe R&D untuk ia kelola, Rizal memang ingin Dery lebih mandiri dan tidak lagi diremehkan orang. Apalagi setelah Rizal mendengar jika orang tua Ikbal sangat merendahkan Dery yang hanya anak seorang buruh, membuat hatinya sakit.
bersambung....
__ADS_1