
Dery berdiri diambang pintu kamarnya, menatap wajah pucat Rizal yang tenang dalam tidur nya.
Saat hendak melangkah pergi, Rizal mulai mengigau. Dery berjalan mendekat lalu duduk disamping nya,
"De.. Dery maafkan aku, aku mencintaimu," dalam tidurnya Rizal mengigau menyebut nama Dery.
apa dia memimpikan aku?
"kak, kak Rizal bangun," Dery mengusap lengan Rizal lembut, "kak, apa kakak bermimpi buruk?"
Rizal mengerjapkan mata beberapa kali, melihat Dery duduk disampingnya Rizal langsung bangun dan memeluk Dery erat.
"jangan pergi dari ku der, aku mohon, maafkan aku," bisiknya dipelukan Dery.
Dery mengusap lembut punggung Rizal. "aku disini kak, aku gak akan pergi kok,"
Rizal menakup wajah Dery dengan kedua tangannya, menatap Dery intens "apa kamu mau memaafkan aku? memberi ku satu kesempatan lagi?"
"ya, aku memaafkan kakak, dan aku mau memberi kakak kesempatan lagi,"
"kamu serius kan der," wajah Rizal berbinar.
Dery mengangguk mantap.
"terima kasih, aku janji tidak akan mengecewakan mu lagi," memeluk Dery bahagia.
"baiklah tapi jangan memeluk ku terus, jika ada yang lihat apa yang akan mereka pikirkan," Dery mundur memberi jarak agar Rizal tidak terus memeluknya.
"aku mencintaimu," ucap Rizal lembut. Dery tersipu malu, memalingkan wajah agar Rizal tidak bisa melihat pipinya yang memerah.
"emm badan mu masih demam kak, lanjutkan istirahat mu, aku buatkan bubur dulu,"
"aku tidak perlu bubur atau obat der, aku hanya butuh kamu selalu bersama ku." menahan langkah Dery yang akan keluar kamar.
"dasar sugar daddy pandai sekali kamu merayu," memutar bola mata malas,
"asalkan kamu yang jadi sugar baby nya," Menaik turunkan alisnya. "aku masih kenyang der, apa boleh aku tidur saja disini?" pinta Rizal.
"hmm baik tidurlah, nanti setelah puas tidur langsung makan dan minum obat ya, aku keluar dulu,"
__ADS_1
"terima kasih nona," Dery tersenyum tipis lalu keluar dari kamar, membiarkan Rizal melanjutkan istirahatnya.
.
Diruang keluarga Dery duduk sambil menonton tv bersama Dena.
Dery berulang kali mengecek ponselnya, seperti sedang menunggu kabar dari seseorang.
"kakak ngapain sih, ngeliatin ponsel terus?"
"emm ini lagi nunggu pesanan kakak sudah dikirim atau belum,"
"memang kakak pesan apa?"
"buat anak panti dek,"
Dena hanya manggut-manggut paham.
Meski mereka bukan orang yang berada tapi Dery tidak pernah lupa mengirimkan sedikit bantuan untuk panti asuhan tidak jauh dari tempat mereka tinggal.
"emm kak, Dena ada tabungan dikit boleh titip buat anak panti gak? kakak kapan kesana?,"
"bentar aku ambil dulu," Dena berjalan menuju kamarnya, tidak lama keluar dengan membawa amplop coklat berisi uang sumbangan untuk anak panti, hasil dari tabungan Dena sendiri.
"nih kak, gak banyak tapi semoga membantu mereka,"
Dery mengacungkan dua jempol untuk adiknya itu, merasa bangga pada Dena.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu, Dena berjalan membuka pintu rumahnya. Mempersilakan tamunya masuk.
"Joe?" Dery bangun dari duduknya,
"sore nona," Joe menunduk sopan.
"sore, duduklah apa kau ingin menjemput tuan Rizal?"
eh sepertinya nona sudah tidak sejudes kemarin, nona lebih lembut hari ini, apa tuan sudah bisa membuat nona luluh.
__ADS_1
"hei Joe kenapa melamun?" Dery menggoyangkan lengan Joe membuatnya terkejut.
"maaf nona, tolong jangan menyentuh saya lagi,"
"kenapa?"
"emm itu jika tuan Rizal tahu bisa-bisa saya dihajar tanpa ampun," mendengar jawaban Joe membuat Dena tertawa terbahak-bahak, sedangkan Dery melongo dengan mulut sedikit terbuka.
apa Joe sedang bercanda, yang benar saja dia ini,
"sudah lupakan, kenapa kau kemari? jika ingin menjemput tuan muda mu, dia sedang istirahat jangan coba-coba untuk membangunkannya,"
"saya kesini memang diminta oleh tuan Rizal, tapi bukan untuk menjemputnya,"
"lalu?" Dery menyilangkan tangan didada,
"saya diminta mengembalikan ini, tuan ingin nona menerima ini, semua ini milik nona dan tidak ada yang berhak selain nona," Joe menyerahkan berkas cafe yang kemarin dia kembalikan pada Rizal.
"aku tidak bisa Joe," Dery mengurut pangkal hidungnya.
"ayolah nona, ku mohon, jika nona menolak ini maka aku yang akan menerima hukumannya." Joe pura-pura mengiba, dengan wajah lesu.
"baiklah, aku akan mengelola cafe itu lagi," menerima berkas yang diberikan Joe.
Pak tua itu memang suka seenaknya terhadap semua orang,
"terima kasih nona, kalau begitu saya harus kembali ke kantor," Joe berpamitan.
Setelah kepergian Joe, Dena duduk disamping Dery,
"dia ganteng ya kak, boleh dong Dena deketin,"
Cletak....satu sentilan keras mendarat di kening Dena.
"belajar yang bener baru mikir cari pacar,"
"iishhh sakit kak," ringis Dena "kakak nih semenjak jadi janda makin judes dan kejam," Dena berlari cepat masuk kedalam kamarnya.
"Denaaaa....dasar adik durhaka." teriak Dery kesal.
__ADS_1
bersambung.......